Tuesday, September 25, 2018

Serenjana Senja II

13



Pagi mengantar embun pada dedaunan dan daun pintu kamarmu
Sore mengantar gerimis pada mereka yang rindu
Tuhan mengantar senyuman pada kelebat hati yang senantiasa mendoa
Mengantarmu padaku

------------------

Selamat pagi… Jangan lupa besok… Pohon beringin samping Kantor Perpustakaan Daerah. Jam 2 siang.”

Sms aneh dari nomor yang tak ku kenal menyelinap diantara sms-sms promo NSP dan CFC yang menyesaki inbox di hp jadulku.Maaf, ini siapa? Apa maksud anda?”, aku membalas sms tersebut setelah membeli pulsa terlebih dahulu.

Aku salah satu dari sedikit pembeli lukisanmu. Sudahlah, datang saja” :)

Sialan, aku tau lukisanku memang tak begitu laku, tapi ya mbok jangan memakai kata ‘sedikit pembeli’ seperti itu. Ah sudahlah, percuma juga aku memaki-maki disini. Membalas smsnya pun akan membuang-buang pulsa saja.

Bagaimana? Bisa datang kan? (/\)”

Ia mengirim sms lagi sekitar setengah jam setelah sms terakhirnya kuterima. Kugeletakkan hpku begitu saja setelah membacanya, lalu aku mulai merebahkan kepala yang sejak kemarin harus terjaga untuk menyelesaikan beberapa deadline lukisan yang sudah ditagih-tagih oeleh beberapa pemesan. Aku mendengar hpku kembai berbunyi setelah sekitar 10 menit mencoba merebahkan kepala dan memejamkan mata.

Kenapa smsnya nggak dibalas? Nggak punya pulsa ya? Oh ya, kamu kan sepi pembeli, jadi harus banyak-banyak melakukan penghematan agar jangan sampai hasil kerjamu yang sedikit itu habis gara-gara membalas smsku. Wkwkwk”

Aku hanya tersenyum setelah membaca sms tersebut. Rasa penasaran ini membuatku memutuskan untuk benar-benar datang besok di tempat yang ia tawarkan.

Hei? Kok gak dibalas sih?

Ia mengirim pesan lagi. Bisa ditebak, pengirim pesan ini adalah seorang wanita. Sudah memahami kondisiku yang serba berkekurangan, namun tetap saja ingin dibalas smsnya. Tunggu saja besok. Nona. Aku akan datang memenuhi undangan.

Aku kembali merebahkan badan dan memejamkan mata. Terdengar nada pesan masuk berdering beberapa kali. Sepertinya, itu pesan dari pengirim yang sama. Aku semakin yakin jika ia adalah seorang wanita.

***
Langit begitu cerah siang ini. Namun cuaca terasa tak begitu panas sekalipun tak ada mendung maupun awan yang bergelayut menaungi.

Ohya, aku kan sedang berada di bawah pohon beringin yang besar. Pantas saja tak kurasa panas dari tadi.

10 menit berlalu. Aku masih belum merasakan tanda-tanda kehadiran dirinya. Baru berjarak beberapa kedip mata, nada pesan masuk hpku berdering.

Sini, di pohon beringin. Kamu ngapain dari tadi di bawah pohon mangga?”

Ha? pohon mangga? Aku lantas melihat lagi pohon tempatku bernaung dengan seksama. Ternyata benar, ini adalah pohon mangga. Ah, betapa terkadang kecerobohanku terlalu keterlaluan. Aku lantas melihat sekeliling, nampak seorang wanita berkacamata sedang melambaikan tangan kirinya padaku. Tangan kanannya sibuk menutupi mulutnya, menahan tawa. Lalu setengah berlari ke arahku. Ah, aku mengingatnya. Ia adalah pembeli lukisan senja tempo itu. Beberapa kedip mata kemudian, Ia sudah berada begitu dekat. Aku tercekat.

“Hei mas?”

Lidahku kaku, aku masih kesulitan menguasai degup yang seketika memburu.

“Halo?”, ia menjentikkan jari didepan mukaku. Sedangkan aku masih tak tau harus bagaimana. Bersyukurkah? Atau bagaimana harusnya aku bertingkah? Betapa jejak yang dia tinggalkan di pertemuan pertama masih menciptakan gelisah demi gelisah. Sedangkan sekarang, ia hadir langsung dihadapan. Duhai Tuhan, apa yang harus kulakukan?

“Eh iya, ada apa mbak? Mau beli lukisan lagi kah?”, ujarku terbata-bata. Kutundukkan muka dan kuhirup nafas sedalam-dalamnya agar lebih tenang menguasai suasana.

“Haha, nggak kok. Aku mau minta bantu buatin puisi, bisa kan?”

“Aduh, saya nggak bisa bikin puisi mbak, menyusun kata-kata indah bagi saya tak semudah menyusun garis, titik dan koma serta merangkai komposisi warna pada kanvas, mbak”

“Yaaahh, mas. Masak sih nggak bisa?”

“ya kalau puisi sekedarnya sih bisa-bisa saja mbak. Butuh sekarang juga tah?”, aku mencoba menyanggupinya. Ia mengangguk ceria. “Puisinya tentang apa mbak?”

“Tempat pembuangan sampah, mas”, ujarnya sambil tertawa.

Sialan, membuat puisi-puisi cinta saja ku tak bisa, nah ini lhakok diminta membuat puisi dengan tema sedemikian rupa. Aku mengernyitkan dahi padanya, ia menjawabnya dengan menyodorkan selembar kertas buram dan pena berwarna biru, juga  senyum simpul yang terasa familiar. Sembari membuatkannya puisi, aku mencoba mengingat-ingat dimana pernah kutemui senyum tersebut.

Suatu hari, pemuda itu berdiri gagah 
ditangannya terkepal sampah 
namun ia membuangnya sembarangan. Hah! 
Ingin ku marah! 
Tak perdulikah ia dengan bumi yang semakin parah?


Kupungut kembali sampah yang ia buang tadi 
kulemparkan padanya tanpa peduli 
ia melongok kanan dan kiri


kenapa kau kembalikan sampah ini padaku?”, ujarnya kaku 
tolong jangan buang sampah sembarangan!”, ku perketus jawabku 


Loh, ini kan area TPS. Ya sah-sah sajalah!”, jawabnya 
oh iya, ini TPS, ya? 
Buru-buru ku menyingkir darinya 
betapa diriku malu bermerah muka

Ku sodorkan kembali kertas dan pena yang ia berikan padaku untuk membuat puisi setelah ku menyelesaikannya. Betapa kemudian ia tak kuasa menahan tawa. “Kamu bikin puisi atau bikin cerita komedi sih, mas?”, ucapnya sambil menyeka air mata yang keluar karena tertawa. Ia tersenyum memandangku begitu lama setelah puas tertawa. “Eh ini, ada bakwan, aku buat sendiri lo, dimakan ya?”

Ah, aku mengingat senyum dan tawa itu. Itu senyum miliknya yang turun bersama gerimis pada suatu senja, lalu melepas sayapnya dan memintaku menyimpannya karena ia ingin menjadi manusia beberapa masa, yang membuatku begitu menyesal kenapa tak menanyakan namanya sebelum aku terjaga dari mimpi ini.

Pembeli lukisan yang membuatku gelisah saat terjaga dan bidadari yang menyamar menjadi manusia dalam mimpi, lalu menghantui tidurku.

Duhai, apakah kalian sosok yang sama?

~Bersambung...




*Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan Serenjana Senja yang sudah saya tulis sebelumnya di blog ini juga. (tulisan berwarna biru bisa diklik lo)

Monday, September 17, 2018

Janc*kologi

1



Oleh: Abdil Gufron A. (Kelahiran di Jawa namun fasih berbahasa Madura, kini ia sedang menempuh studi di sebuah Pesantren dan sedang kuliah di salah satu PTKIN di daerah Jember)

Janc*k adalah sebuah kata yang sangat masyhur di kalangan masyarakat Jawa. Selain itu kata ini juga sering dikatakan oleh pemuda Surabaya yang menjadi sapaan akrabnya untuk teman sebayanya, namun  hal ini tak perlu ditiru oleh siapapun.

Namun, ada sebuah pernyataan aneh dari Sujiwo Tejo, ia adalah seorang budayawan dan penulis beberapa buku best seller mungkin. Ungkapnya dalam sebuah video bertajuk sekitar 10 menit. Bahwa janc*k itu maknanya sangat luas bahkan lebih luas dari ungkapan “fuck”. Jadi jangan disalah artikan dan jangan juga salah faham. Dan selama ini kita tahu bahwa janc*k itu bermakna negatif padahal tidak begitu.

Pada perkembangannya janc*k mulai dikenal oleh suku lain seperti Madura yang rata-rata berinteraksi langsung dengan masyarakat jawa terutama Jawa Timur yang menggunakan bahasa jawa agak kasar. Berbeda dengan suku jawa di kraton jogja sana yang memang sudah memakai jawa kromo tingkat tinggi.

Dalam pemakain bahasa saja rakyat kita sering menggunakan ungkapan yang tidak sesuai dengan maknanya. Seperti:

VITAL: Yang artinya sangat penting. Namun masyarakat saat mendengar kata ini seolah-olah menjurus pada hal yang porno. Padahal tidak jika kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti sangat penting. Jadi jika kita memakainya pada kalimat seperti uang kaget ini sangat vital bagiku. Yah ini sah-sah saja tidak hanya dipakai untuk semisal vitalitas dan  alat vital saja dan ini pemahaman yang harus diluruskan.

Kembali ke pembahasan pada  paragraf kedua di atas. Bahwasanya Sujiwo Tejo menamai dirinya sebagai President the Jancukers, yang mengandung pemahaman bahwa ia adalah seorang pemimpin bagi golongan yang notabene memakai bahasa jawa utamanya jawa agak kasar sebagaimana yang banyak dijumpai di Jawa Timur. Dia seolah olah mewakili aspirasi masyarakat jawa sebagai suku terbesar di Indonesia.    

Sujiwo Tejo banyak orang yang menganggap aneh bahkan terlalu radikal dalam berfikir. Bagaimana tidak ungkapan yang di mata masyarakat dianggap tabu dan buruk itu dijadikan lirik lagu dan identitas kepribadiaannya.


Sunday, September 16, 2018

Lantas, Apa Lagi? Jika Semua Sia-Sia?

6


Betapa terharunya saya ketika membuka twitter, ada pesan masuk yang menanyakan kapan blog ini akan di update lagi. Begitu pula dengan beberapa pesan WA yang menginginkan hal serupa. Ada juga salah satu komentar terakhir di blog ini yang juga meminta saya untuk menulis lagi. Memang haru sih, tapi saya ingin menyarankan kepada orang-orang di atas untuk segera berkonsultasi dengan psikolog, karena bagi saya agak aneh jika sampai ada yang meminta saya menulis konten lagi, padahal konten-konten sebelumnya GJ, penuh dengan ketidakjelasan-ketidakjelasan. Ngawur pula. Haha. 

Tuesday, August 07, 2018

Siapa Lebih Hina!

4


Saya tercenung agak lama setelah mendengar perkataan dari mbak Elza. Lalu saya coba pandang kembali "rumah tenda-rumah tenda" yang mereka dirikan untuk digunakan sebagai tempat beristirahat dan tempat penampungan sampah yang sudah mereka pilah dan kumpulkan. 

Tak lama kemudian, sebuah truk pengangkut sampah mendekat pada kami. Saya bisa melihat dengan jelas wajah sumringah mereka saat sampah itu 'blek' diturunkan didepan mereka. Tak usah menunggu aba-aba, apa lagi menunggu kepastian dari dia yang nggantungin kamu, mereka langsung saja memunguti sampah plastik menggunakan tongkat besi yang sudah sedikit  dimodifikasi untuk menusuk dan memisahkan sampah plastik dari kawanannya, lalu memasukkan sampah tersebut dalam keranjang-keranjang lusuh yang mereka siapkan.

"Betapa sesuatu yang hina menurut kita, masih diperebutkan oleh mereka", ucapan mbak Elza terngiang kembali di kepala saya.

Saya menghela nafas pendek. Sebenarnya ingin sekali sekali saya menghela nafas panjang, namun udara dan bau di TPS sepertinya tak memungkinkan bagi saya untuk dapat melakukannya dengan nikmat. Dalam perkara bernafas ini pun, saya menyadari sesuatu. Ah, betapa sangat kurangnya saya bersyukur atas udara segar yang selama ini kami hirup.


"Belum tentu kondisimu lebih baik, nak", ucapan mbak Elza yang baru saja terngiang kembali,  berganti menjadi  suara yang lain. Entah, itu suara siapa. 

"Yang kami perebutkan dan kau sebut sesuatu yang hina hanyalah menurut pandangan matamu saja. Tidakkah kau menyadari? Justru kaulah yang tengah memperebutkan hal yang hina. Sedangkan yang kami lakukan ini hanyalah mencari rizki dan mengharap Ia meridhoi, nak", lanjutnya.

"Tidakkah kau ingat, nak? Bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah bertanya pada sahabat sembari tangan beliau memegang telinga bangkai anak kambing, 'Siapa diantara kalian yang berkenan membeli ini seharga satu dirham?'. Begitu murah, namun tak ada yang mau membelinya, nak!. Semua menganggap kambing hina tersebut tak layak untuk dihargai sedemikian rupa."

"Demi Allâh, sungguh, dunia itu lebih hina bagi Allah daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian!! Itulah yang kemudian ditegaskan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pada mereka, nak!"

"Sungguh, nak. Yang kami cari hanya rezeki untuk makan sehari-hari, agar kami bisa terus beribadah kepada-Nya dengan baik dan silaturrahmi dengan hamba-hambaNya tetap terjalin rapi. Jarang, bahkan mungkin tak terbersit sedikitpun pikiran dlaam diri kami untuk mencari 'dunia' sebagaimana yang kau cari. Renungkan, nak!"

"Apa tujuanmu sekolah tinggi-tinggi? Untuk merengkuh kenikmatan dunia lebih banyak lagi? Amboi. Ciamik betul cita-citamu, nak!"

"HP yang kau gunakan untuk memotret kami, ah, seberapa mahal itu nak? Katamu, mau membeli hp semahal itu untuk mempermudah pengerjaan amanah yang kau emban, juga mempermudah untuk menulis di blog ini. Padahal kau juga tahu kalau blog ini sepi pengunjung, bahkan yang mengunjunginya pun karena iseng-iseng saja mengklik link yang kau bagi di mana-mana." 

"Ah, hidupmu memang enak, nak. Makan gratis, kuliah gratis, menuntut ilmu agama gratis, punya banyak teman-teman yang baik yang sering memberi traktiran gratis, orang tua yang peduli, orang-orang menghargaimu dan masih banyak lagi kenikmatan-kenikmatan yang kau miliki. Tapi tahukah dirimu, nak? Bisa jadi kenikmatan itu adalah kenikmatan akhiratmu yang disegerakan di dunia ini, hingga tak tersisa satupun kenikmatan akhirat yang akan engkau dapati!"

"Sedangkan kami, bolehlah kau pandang sengsara di dunia, namun bisa jadi kelak diakhirat, kami mendapati kenikmatan-kenikmatan yang memang Allah sediakan untuk kami sebagai ganti kenikmatan yang Ia tahan untuk kami di dunia, sehingga kami terlihat sengsara."

"Perkenankan kami bertanya, nak. Jadi siapa yang memperebutkan hal yang hina? Siapa yang lebih hina? Kami atau dirimu nak?"

Suara tersebut berhenti. Saya ingin menangis, namun tak bisa. Benar sepertinya, hati saya sudah mengeras karena terlalu cinta pada dunia, yang lebih buruk dari pada seonggok bangkai kambing sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam.

Duhai. Betapa kau, seorang yang teramat hina, Mustofa! 

***

اَللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِيْ دِيْنِنَا وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا
.
“Ya Allah, janganlah Engkau timpakan musibah dalam kepentingan agama kami. Janganlah engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami juga akhir dari ilmu kami”


Saturday, July 07, 2018

Hampir Nangis

4

Tiba-tiba saja, ada beberapa potong rekaman dan gambar dari kejadian dua tahun lalu yang bertubi-tubi menyeruak dalam kepala. Sialnya, ingatan-ingatan tersebut datang di waktu yang tidak tepat. Untung saja saya cepat menguasai diri. Ah, jika tidak, tentu saja tadi pagi saya pasti menangis. Sebenarnya, menangis pun tak masalah, karena sebelumnya juga banyak yang menangis saat acara penyematan mahkota. Saya sendiri memilih untuk menyingkir saat acara penyematan mahkota wisudawan pada orang tua, karena saya yakin, saya tak akan mampu menguasai diri untuk tidak menangis.

*** 

Betapa menyenangkannya suasana sarapan kami di dua tahun yang lalu, karena kami dapat bermain dan melihat keseruan adik-adik PaudQu yang gedung sekolahnya masih "numpang" di rumah pak Huda, depan dapur pondok kami. Namun sekarang, alhamdulillah, PaudQu kini sudah memiliki gedung sekolah sendiri. (Tulisan berwarna biru bisa di klik lo)

Bagaimana ndak menyenangkan, lha wong jadwal sarapan kami bertepatan dengan jadwal mereka senam pinguin. Haha, lucu! Bagaimana ya, aduh, saya kurang bisa mendeskripsikan kelucuan gerakan-gerakan mereka. Tapi kalau disuruh menerjemahkan gerimis, petang, gugur dedaunan, senyum simpul dan semesta ini untukmu, sepertinya saya mampu. Ehm(Tulisan berwarna biru bisa di klik lo [2])

"Halah lebay"

Ahahaha. Eh, btw, njenengan tau senam pinguin apa tidak? 

"Tidak"

Laaaah... Kalau senam poco-poco?

"Tidak"

Kalau senam SKJ? Tau?

"Tidak juga"

Mmm... Kalau senam dua jari?

"Tauuuu brooo"

Tetew!

Back to the topic




Dan baru saja tadi pagi, di acara wisuda mereka, hampir-hampir saya menumpahkan air mata saat menyaksikan mereka menyanyikan lagu Terimakasih Guruku sebagai persembahan dan ekspresi terimakasih mereka selama 2 tahun belajar bersama ustadz-ustadzah yang supeeer-supeeer swabar. Saya teringat bagaimana kami tertawa-tawa terhibur saat melihat mereka berkejaran dengan ustadzah, minta diantarkan pipis dan buang air besar, nangis gujel-gujel, bahkan ada yang minta untuk masuk ke molen (alat pengaduk semen) dan masih banyak lagi momen-momen lucu serupa. (Tulisan berwarna biru bisa di klik lo [3])

Teringat juga saat mereka berlari dan kemudian memeluk ustadz-ustadzah, lalu mulai menciumi pipi-pipi yang mungkin sering basah kala mendoakan mereka di tengah hening malam. Mencium tangan yang tak lelah menuntun mereka belajar menulis. Menatap wajah yang senantiasa berbinar saat bertemu dan mengajar mereka kendati banyak sekali permasalahan-permasalahan berat yang tengah mereka hadapi. Menyimak dan mendengar kata-kata baik dari bibir-bibir yang senantiasa menyebut nama-nama mereka dalam tengadah doa dan tak jengah mengajari mereka membaca.

Ah, banyak sekali yang teringat, namun sedikit sekali yang mampu saya tulis. Saya mulai tak kuasa menahan apa yang saya tahan sedari pagi tadi.

Tumbuhlah dalam ketaaan pada Allah, dik. Tolong kami, duhai adik-adik yang shalih shalihah, teruslah belajar dan belajar. Jadilah mushlih mushlihah, orang baik yang kelak akan memperbaiki negeri ini dengan nilai-nilai Qur'ani yang kalian pelajari sejak dini. (Tulisan berwarna biru bisa di klik lo [4])

Salam dari saya, kakak kalian yang punya cita-cita memajukan bangsa, namun sampai sekarang masih belum bisa memajukan dirinya sendiri yang ndlahom dan mbelgedes ini.

Bersama Wardah. Wisudawati Favorit!







Monday, July 02, 2018

Solo

0

https://m2indonesia.com/wp-content/uploads/sites/2/2015/07/bengawan-solo.jpg


Ketika keadaan mengharuskan saya untuk pergi ke Solo, saya mengingat sesuatu, bahwasanya dulu Solo menjadi kota yang paling ingin saya kunjungi. Lha bagaimana tidak, banyak sekali penyanyi terkenal favorit saya yang menyematkan 'Solo' sebagai gelar mereka. Ada Afgan, Agnes, Ebiet G Ade dan masih banyak lagi. Ya, mereka-mereka adalah penyanyi solo. Itu dulu, saat saya masih suka bermain dan mendengarkan musik.


Haha. Bercanda. Bukan karena itu kok.

Jadi, dulu sewaktu saya masih aktif berlatih bersama grup musik Kroncong yang lumayan sering diundang di luar kota, saya dikenalkan pada lagu Bengawan Solo. Lagunya terasa familiar, mungkin karena sering didendangkan dimana-mana. Apalagi Bengawan Solo sering sekali muncul di pelajaran SD saya. Beberapa hal tersebut bahu-membahu membuat saya ingin tahu, 'memangnya Solo itu seperti apa?'. Btw, saya pernah diminta jadi vokalis lho. Dulu suara saya sempat merdu nan melengking tinggi. Ndak percaya juga ndakpapa, toh sekarang saya juga tak akan bisa membuktikannya. Namun permintaan itu tak pernah saya lakukan, karena saya harus bersekolah di Jember. Rasanya juga tidak mungkin bila seminggu sekali pulang ke Lumajang hanya untuk berlatih kroncong. Akhirnya saya pensiun dini.

Kembali ke Solo.

Seringkali Solo dikaitkan dengan kehalusan. Entah itu perangainya, tutur katanya, bahkan mungkin hingga kapas-kapas yang dijual disana. Semuanya halus. Memang sih, sama sekali saya tak menemui adanya kekasaran-kekasaran selama 2 hari yang saya habiskan di Solo kemarin. Lha ketika kemarin kami mengikuti agenda Dr Muinudinillah, kami memarkir motor pinjaman seharian didepan warung tanpa membeli apa-apa. Sewaktu kami mengambilnya, ada kertas terselip bertuliskan ''bukan parkir umum, nekad, gemboos!" di setir sepeda motor. Saya juga mendapat sepotong senyuman dari ibu-ibu yang saya duga menjadi pemilik warung tersebut. Eh tapi motornya tidak digembosi kok.Alus tenan kan? 

Keramahtamahan juga selalu kami dapatkan dimana-mana. Entah itu dari teman-teman Mamduh yang kos-kos mereka menjadi tempat istirahat kami selama disini, entah itu dari Dr Muinudinillah dan putra-putranya, entah itu dari ibu-ibu penjual makanan, tukang parkir, kucing, burung, bahkan semut pun juga menunjukkan keramahtamahannya.

Solo juga sering dikaitkan dengan budaya Jawa. Ketika kami kemarin berkesempatan memasuki hotel Royal Surakarta Heritage, kami melihat banyak sekali benda-benda yang sepertinya bernilai budaya seperti guci-guci besar, topeng-topeng kayu, batik dan banyak lagi hal-hal yang menonjolkan kesan budaya. Kalau ndak salah, saya juga sempat melihat ada lembaga pendidikan batik ketika menyusuri jalan di sana. 

Solo juga sering dikaitkan dengan Al mukarrom Jokowi. *Ndaknyambung

Ohya, masjid-masjid disini bagus-bagus. Ah betapa senangnya jikalau kelak dapat tinggal disini. Mau ke masjid manapun rasanya oke oke saja. Hal ini membuat saya menduga, mungkin Solo terbentuk dari kata Arab 'sholluu' yang berarti sholatlah kalian. Makanya, masjid-masjid ya dibuat bagus-bagus untuk mengimbangi kata perintah tersebut biar ndak timpang. Sholluu! Sholluu!

Ohya. Saya masih bingung. Sebenarnya Surakarta dan Solo itu bedanya dimana ya? Yowislah, tak browsing dulu. Tulisan ini sampai disini saja.

Terimakasih


Probolinggo-Leces, diatas nggronjal-nggronjalnya  jalan raya, di dalam bus Jogja-Bwi dan ditengah batuk yang menjadi-jadi



Sunday, July 01, 2018

Halal Bihalal Dadakan

0

Mamduh. *Candid

Seharian kemarin, ada dua halal bihalal yang tak pernah terbayangkan akan kami (saya dan bro Mamduh) datangi.

Yang pertama adalah halal bihalal PERKI. Mbuh apa singkatannya, saya lupa. Kalau saya ndak keliru, 'K'nya itu kardiovaskuler. Yang jelas, semua yang datang itu adalah keluarga dokter-dokter. Ada banyak dokter spesialis juga. Hingga saya merasa aman-aman saja kalau misalkan tiba-tiba saya tipes disana. Haha

Conference room dari salah satu hotel bintang 5 di Solo menjadi tempat diselenggarakannya halal bihalal tersebut. Tentu saja, saya dan Mamduh bukan berstatus sebagai undangan. Kami hanya mengiyakan ajakan Dr Muinudinillah Basri untuk menghadiri kegiatan tersebut. Beliau sendiri akan mengisi tausiyah pada halal bihalal tersebut. Jadi ceritanya, seusai berbincang santai dengan beliau sejak sekitar jam 8 pagi, kami berangkat ke Hotel The Royal Surakarta Heritage dengan menaiki mobil yang beliau setir sendiri pada pukul 09.30, dan sampai di lokasi setengah jam kemudian.

Dr Muinudinillah sedang mengisi tausiyah

Saya pribadi gelisah ketika memasuki ruangan tersebut. Betapa tidak, karpet ruangannya begitu empuk, tapi kami tak diperkenankan melepas alas kaki. Ini rasanya semacam memakai baju mahal, baru nan wangi dalam keadaan keringetan pol, setelah ngecor bangunan pula. Ra biasa, bray.

Sewaktu break, saya ngikut2 dokter-dokter didepan yang mengambil kudapan beberapa jenis makanan ringan dengan garpu, dan memakannya menggunakan garpu itu pula. Lha saya ikut-ikut ngambil pakai garpu, tapi kesulitan saat harus memakannya menggunakan garpu pula. Akhirnya, tak sikat nggo tangan saja. Bukannya kampungan, hanya saja kalau hal-hal mudah janganlah dipersulit. Tapi tadi saya sempat makan kacang pakai garpu Lo. Keren kan.

Iki mbuh ndek ndi

Yang kedua adalah halal bihalal RT. Mbuh itu RTnya siapa. Lha wong diajak buat makan-makan, ya kami iyakan saja. Lumayan lah, dengan mengikuti halal bihalal ini, kami bisa sedikit menghemat, agar uangnya bisa ditabung untuk menghalalbihalalkan si dia kelak. Haha. 

Ada sesi yang menarik. Jadi, anak2 kecil yang hadir diminta untuk maju dan mengambil kertas origami. Hadiah-hadiah sudah disiapkan bagi mereka yang mau membuat origami dan maju untuk memperkenalkan karyanya ke depan. Nah, ternyata kebanyakan dari mereka membuat karya pesawat dan burung. Sudahlah agak ribet, mainstream pula.

Sebenarnya ada beberapa opsi origami yg mudah dan sepertinya belum pernah dikerjakan, seperti origami selimut. Tinggal lipat-lipat saja menjadi persegi, atau di untel-untel (di umek-umek) juga boleh bagi mereka yang malas untuk melipat. Lalu bilang saja kalau itu origami selimut.

Atau lipat sisi-sisinya sedikit saja. Itu bisa jadi origami taplak meja. Atau bisa juga membentuk topi ulang tahun. Lumayan, topinya bisa dipakai untuk membungkus dan membawa pulang camilan. Origami jas hujan tenda juga mudah. Apalagi origami kertas origami. Ya sudah. Ndak usah di lipat lagi. Tetew

Tapi entahlah. Barangkali saya saja yang terlalu bodoh jika menganggap hal2 seperti itu sebagai karya origami. Maaf. Bahkan rasanya, saya terkesan menurunkan standar origami yang biasanya dibuat dengan indah, presisi dan ketelitian yang tinggi, serta kesabaran mengendalikan emosi. Iya, origami itu bisa digunakan sebagai media melatih emosi, terlebih jika saat anda sedang khusyuk2nya membuat origami, lah tiba-tiba anda disenggol teman. Nyenggolnya pakai sepeda motor dengan kecepatan 50 km/jam pula. Emosi to? Eh jangan sampai emosi. Ingat, anda sedang mengerjakan origami.

Tapi, andaipun ada yang melakukannya, wah dia pastilah orang yang memiliki kemampuan berpikir yang out of the box. Entahlah. Out of the box atau malas ya? Haha

Eh, btw saya sudah halal bihalal sampai Solo, lho. Jadi,  kira-kira kapan saya bisa halal bihalal ke rumah njenengan sembari menghalalbihalalkan njenengan? 



Tuesday, June 26, 2018

Urusan Perempuan!

6


Saya masih duduk bersandar pada pintu lemari. Pejam mata dan pernafasan khusus yang saya lakukan sejak beberapa menit yang lalu belum berhasil mengusir rasa capek dari tubuh ini. Sepertinya, tidur memang menjadi satu satunya pilihan untuk memulihkan tenaga. Sebenarnya itu bukan satu-satunya pilihan sih. Ada pilihan untuk pijat dan minum degan tanpa gula dan es, lalu tidur sembari berharap agar sebangunnya, tubuh menjadi fresh. 

Tapi itu pilihan yang mahal. 

Saya harus banyak-banyak menghemat uang agar segera bisa menservis motor yang kemarin ditertawakan oleh ponakan saya karena kondisinya yang menyedihkan.  Andai ditertawakan oleh penggiat racing atau orang yang mengerti permesinan dan tau cara ngganti kabulator sih tak mengapa. Lah ini yang nertawain masih krucil. Bahkan saya tak yakin kalau yang nertawain itu bisa cebok sendiri atau tidak.

Belum sempat berbaring, ada yang tiba-tiba datang dan duduk di samping saya, lalu bercerita tanpa basa-basi. Apes. 

Namun sebagai seorang pendengar yang baik nan setia, tak mungkinlah saya untuk tak menyediakan waktu dan segenap hati untuknya. Di ujung ceritanya, ia meminta sepetik dua petik nasihat dari saya. 

Saya tertawa kaget. Gimana ya, semacam, "haaaah??" lalu disambung dengan "ahahaha". 

Hahaha

Tentu saja, sebelum tertawa saya harus men-switch tubuh saya dari mode battery saver ke mode regular. Karena jika tetap dalam mode battery saver, ia hanya akan mendapati senyum tipis dengan mata yang tetap terpejam sebagai ekspresi kekagetan saya. 

Dan ekspresi itu sepertinya bukan ekspresi kaget sama sekali.

Jadi, dia menceritakan mengenai beberapa teman lain jenis yang dekat dengannya. Baik yang ia dekati maupun mendekatinya. Saya memakai frasa 'yang ia dekati' karena ia memang sedikit memancing-mancing yang mendekatinya, sampai baper. Tau baper? Jika tak tau, cobalah tak makan dua hari dua malam. InsyaaAllah, anda akan baper. "Hungry", begitulah orang Patrang menyebutnya.

Nah, lalu ia meminta nasehat dari saya, harus bagaimanakah ia bersikap terhadap hal ini. Hahaha. Lucu. Eh miris, ding. Karena sejujurnya, yang dimintai nasehat tak lebih baik daripada yang meminta nasehat, dan belum bisa sehebat dia yang bisa menimbulkan kebaperan. Saya takutnya jatuh pada apa yang Allah sebut dalam surat As Shaff ayat 2. Kaburo maqtan 'indallaah. "Berat! About!", Begitulah orang Inggris menyebutnya.

Ia meminta nasehat pada saya, orang yang bahkan interaksinya dengan perempuan-perempuan itu... Entahlah, harus bagaimana saya menyebutnya. Karena, jika saya ngat-ingat, interaksi saya dengan perempuan ituuuu... Begini. Coba saya uraikan satu persatu.

  • Nabila. Jangankan orangnya. Lha wong  cara bicaranya saja sudah imut sekali. Hampir tiap bertemu ia akan lari pada saya, menubruk lalu memeluk saya. Beberapa kali pula ia men-sun saya. Kalau sebaliknya malah sering. Haha

  • Gazi. Tiap lihat saya duduk, ia biasanya langsung saja duduk pangkuan saya tanpa izin terlebih dahulu. Lalu mulai menceritakan banyak hal-hal yang menarik baginya.

  • Izzi. Akhir-akhir ini, si Izzi malah suka sekali nggigit-nggigit saya. Tadi saja saya dikejar, lalu dipegangi, lalu mulailah ia menggigit saya. Agak sakit sih. Tapi saya kan orang baik. Jadi saya biarkan ia menggigit sekuatnya, sampai dilepas lepas sendiri.

  • Rina. Duh, si manis ini malah sering saya antar jemput.

  • Wardah. Sekalipun cuma mendapatkan senyuman dan kesempatan ngobrol bareng Wardah, itu sudah lebih dari mendapatkan senyuman dan ditinggal Wardah. Haha

  • Hana. Kalau si dia mah sering kali melambaikan tangan dan sun jauh. Tapi bukan cuma ke saya sih haha.

  • Mutia. Kadang si Mutia juga main nyosor aja ke pipi. Perpaduan lesung Pipit dan senyumnya juga manis sekali.


  • Pelangi. Duh duh, Pelangi ini kayak pelangi. Minimal, melihatnya saja sudah bisa membuat tersenyum.

Mau tak sebutin lagi sih, tapi takutnya nanti saya disangka superplayboy. Ah sudahlah.

Saya lantas menyampaikan apa yang pernah ustadz Khoirul sampaikan pada kami, dimana beliau mengutip hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam riwayat Muslim, untuk bertakwa pada Allah dalam urusan perempuan. Saya menyampaikan itu bukan karena saya sudah  bertakwa, namun sebagai nasehat bersama agar saya juga lebih berhati-hati dan bertakwa dalam urusan perempuan.

Ia merenung sebentar. Saya lantas meninggalkannya dan mencari tempat persembunyian sesegera mungkin, agar saya dapat segera beristirahat. Juga agar ia tak dapat mencari saya dalam beberapa saat. 

Capek, ngantuk. "Hoaaam", begitulah orang angop menyebutnya.


اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketaqwaan, keterjagaan, dan kekayaan)”
(HR. Muslim no. 2721, At Tirmidzi no. 3489, Ibnu Majah no. 3105, Ibnu Hibban no. 900 dan yang lainnya)

Saturday, June 23, 2018

Ilmu Mahal, Ilmu Mahal!

4


Alih-alih melepaskan jabatan tangan, beliau malah menarik saya untuk kemudian duduk bersama. 

"Sebentar, pak. Ada yang ingin saya bicarakan."

Untuk kesekian kalinya, panggilan 'pak' dilekatkan di saya. 

"Injih bapak, ada apa ya? Nun Sewu, asmonipun bapak sinten?", Saya menuruti beliau seraya menanyakan nama. Ia menjawab dengan singkat. Nada bicaranya pelan, suaranya bergetar, kata-katanya tersusun rapi. Dandanannya rapi, berbaju serba putih nan wangi. Jika dilihat dari fisiknya, sepertinya ia sudah berumur 50 tahunan keatas. Tapi entahlah, saya yang berusia 21 tahun saja sering dianggap sekitar 27 tahunan. 

"Bapak pengen bikin pesantren apa tidak?", Selidik beliau. Pertanyaan yang sama sekali tak saya duga. Saya hanya memiliki senyum pringisan sebagai jawaban. "Saya punya adik ipar, pak", lanjutnya. Waduh. Pikiran saya jadi kemana-mana. Haha. Lalu saya coba untuk menggiring beliau agar tidak mengarah ke pembicaraan yang itu. Yang itu loh, tau kan? Yang katanya enaknya cuma 5%, sedang 95%nya uwenaaaak? Tau? 

Sudahlah lupakan. Haha.

"Yang Musa bawa itu cuma tongkat biasa, pak. Namun dengan kuasa Allah, ia bisa membelah lautan", beliau mulai berkisah setelah saya sukses menggiringnya keluar dari pembicaraan tadi. Dengan khidmad, satu per satu kalimat beliau saya simak.

"Kalau tongkat biasa saja bisa sedahsyat itu, apalagi Alquran yang merupakan mukjizat?"

Saya manthuk-manthuk 3 kali.  Rupanya pembicaraan ini akan membuat saya mendapatkan banyak sekali ilmu yang mahal.

"Zakaria itu sudah tua. Istrinya pun tak mungkin lagi memberikan keturunan. Tapi apa yang Zakaria minta pada Rabbnya? Ia meminta putra!"

"Terkadang, doa itu juga harus begitu, yang sekiranya ndak masuk akal itu coba saja diminta, lha wong Tuhan itu Maha Kuasa", sambung beliau.

Saya manthuk-manthuk lagi, entah berapa  kali. Duh ya Rabb, permintaan berat saja Engkau kabulkan, lha saya mintanya cuma yang manis, shalihah, mau sama saya, berasal dari keluarga baik-baik dan taat. Sangat mungkin kan, yaa Rabb? 

"Bilal itu awalnya budak hina, pak. Tapi gara-gara dzikir 'ahad-ahad-ahad' nya yang ikhlas, Bilal dimerdekakan, diangkat derajatnya, bahkan diangkat derajatnya dengan menjadi Sahabat dari Al Musthafa shalallahu alaihi wa salam.", Beliau terus saja berkisah, dan saya tetap menjadi pendengar yang setia.

Lama sekali kami berbincang. Lalu datang lagi seseorang yang menghampiri kami.

"Mohon maaf, pak, mas Syafiqnya saya pinjam dulu, mau saya wawancara sebelum pulang ke Jember."

Yang datang itu bernama pak Sukiran. Ia tau jika saya ingin pulang sepagi mungkin. Rencana saya sih ba'da shubuh langsung  berangkat. Namun saya tertahan hingga setengah tujuh karena sedang menimba ilmu mahal dadakan. Makanya ia datang kepada kami, mungkin agar pak To--yang sedang berbincang-bincang dengan saya--segera mengakhiri pembicaraan, karena takmir-takmir masjid hendak pulang, sedangkan saya belum berpamitan pada mereka.

Akhirnya setelah berbincang sejenak dengan pak Sukiran, saya berkeliling masjid untuk menyalami jamaah yang tersisa, dan berkeliling pada takmir untuk berpamitan dan mengucapkan banyak terimakasih atas sambutan dan fasilitas yang nyaman selama 4 hari saya disini.

Pindah tidur ke masjid Al Jihad Situbondo selama 4 hari terakhir Ramadhan ini memberikan banyak sekali pelajaran. Ada juga hal-hal yang membuat diri ini amatlah malu. Terutama ke-bagaimana banyaknya prasangka baik serta sanjungan yang melangit, sedang, tentu saja diri ini lebih tau bagaimana kondisi sebenarnya.

Duhai, andai aib-aib ini tercium baunya, mungkin saya akan menemukan banyak spanduk terpasang dari Jember yang berisikan seruan agar Muhammad Mustofa Syafiq janganlah sampai berangkat ke sana, selamanya. 

اَللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ
“Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari sangkaan mereka, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui tentang diriku, dan janganlah Engkau hukum diriku karena apa yang mereka katakan.”


*Foto diatas adalah H Mursidi, ketua takmir Masjid Al Jihad. Orang yang heran kenapa tak ada yang mau merebut posisinya. Baraakallahu lakum, pak haji.










Saturday, June 16, 2018

Loh, Pondok Kami Sudah Bukan Pondok Wahhabi, Mbah ^_^

10



"Iki sopo? Syafiq? Kene lungguh", saya langsung didudukkan dihapan beliau selepas saya mencium tangan beliau. 

Tanpa basa-basi, saya langsung saja menyergap isi toples kaca yang tersuguh begitu menggoda di meja. 

"Iling-ilingen, Le", ujar Mbah pada saya. Saya menoleh pada beliau yang ternyata tengah menatap saya tajam-tajam. "Mbah buyutmu iku kui!", tegasnya seraya menunjuk poster Walisongo yang terpajang lekat di dinding ruang tamunya. 

"Injih Mbah", saya melirihkan jawaban. 

Ah, saya paham dengan maksud beliau. Sepertinya kabar emprit mengenai ke-wahhabi-an pondok saya juga telah sampai ke beliau. Sebenarnya, kabar tersebut sudahlah usang. Saya juga sudah menulis beberapa poin sanggahan di salah satu artikel saya yang berjudul Pesantrenku Pesantren Wahhabi. Sudah clear, meskipun belum Pantene. Yah maklumlah, kami kan santri,  bukan duta sampo. 

Sepertinya, Mbah saya belum tau jika gelar yang disematkan ke pondok kami sudah berevolusi. Beberapa bulan yang lalu, pengurus sempat bercerita bahwasanya ada yang melemparkan tuduhan dengan mengatakan pondok kami adalah pondok teroris! MaasyaaAllah wkwkwkwk 

Sepengetahuan saya, Teroris adalah pelaku terorisme. Dan menurut Wikipedia, terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Sedangkan teror adalah nama sayuran yg bentuknya seperti timun namun lebih panjang dan berwarna ungu. Biasanya dibuat sambel pecek. Sambel pecek teror.

Saya jadi bingung. Apa kami meneror masyarakat sekitar dengan bunyi-bunyian Hadrah dan  sholawat nabi yang rutin kami lantunkan di malam Jum'at?

Apa kami meneror masyarakat dengan bunyi Al ma'tsurat--dzikir Rasulullah shalallahu alaihi wasallam--yang tak pernah absen kami baca tiap pagi dan petang?

Apa kami meneror masyarakat dengan mengajak anak-anak kecil berlarian? Bermain bola? Menciumi balita-bqlitanya? 


Alllahul musta'an

Entah mengapa, tiap ada kata teroris, langsung terbersit dalam pikiran saya bahwa hal itu berkaitan dengan bom bunuh diri, perakitan senjata, pelatihan ala-ala militer, dan cuci otak tentunya.

Duh

Bom bunuh diri. Ah jangankan mau melakukan aksi bom bunuh diri. Lha disuruh ke pondok putri aja lutut kami sudah lemas. Peluh kami ndrodosi. Debar dada kami meningkat 1.6 kali lipat. Ndredeg Jo. Tapi bukan ndredeg-ndredeg cinta. Ndredeg-ndredeg nya itu karena kami takut tak kuasa menahan pandangan. 

Berat, kadang-kadang kami nggak kuat. Allahummarhamnaa bi tarkil ma'aashy abadaa. 

Ada cerita ndak penting. Saya pernah mengadakan pelatihan bahasa isyarat di pondok putri. Dan sepertinya saya menjadi satu-satunya laki-laki disana (selain driver mobil). Pengurus pondok putri lantas meminta saya mengenakan masker, entah apa tujuannya. Tapi saya bersyukur dengan permintaan beliau. Andai saya tidak memakai masker, pastilah se-pondok putri tau kalau saya ngiler. Mengeluarkan air liur. Soalnya pengen anu wkwkwk. Ehm

Pengen melepaskan masker maksudnya. Pengap sih, saya kan ndak biasa memakainya hehehe.

Perakitan senjata. Boro-boro senjata. Saya pribadi merakit laporan PPL dari bab 1 hingga bab entah pun tak kuasa. Eh, tapi kalau mau nanya proposal wisuda Qur'an, insyaaAllah sudah jadi. Ayo, barangkali ada yang berkenan untuk berpartisipasi mensukseskan kegiatan wisuda Qur'an mendatang, bisa hubungi saya melalui SMS, WA maupun telegram di 085230981025. Maa naqashat shodaqoh min maal. Sedekah itu ndak ngurangin harta, begitu dawuhnya kanjeng Nabi Al Musthofa Shalallahu alaihi wasallam :)

Pelatihan ala-ala militer. Kalau ini sih, saya kurang paham. Memang benar, di hari aktif, kami sering di push-up dengan hitungan yang tak sedikit. Saya juga pernah terkena hukuman hingga 165 hitungan push up. Salah seorang teman juga pernah jalan jongkok hingga ia tak kuasa untuk  sholat dengan berdiri selama beberapa hari. Tapi itu bukan pelatihan militer, melainkan akumulasi harian pelanggaran akademik. Efeknya luar biasa. Badan pun jadi atletis, lingkar lengan bertambah, perut dan dada ngotak-ngotak. Six pack. Mau bukti? Kalau laki-laki silahkan datang ke pondok. Kalau perempuan, mohon  persilahkan kami datang ke rumah njenengan, kita halalin dulu. Wkwkwk.

Coba tengok video ini...



Cuci otak. Haha, salah. Yang kami cuci itu jeroan, bukan otak. Kalau otaknya biasanya langsung dimasak full beserta kepalanya. Kalau tidak percaya, silahkan datang ke pondok di hari raya kurban besok. Santai, saya sendiri yang akan bakarin sate dan menyiapkan suguhan jika njenengan kesini. Tenang, satenya ndak akan kami bubuhi sianida kok. Paling-paling kami bubuhi mesiu. Kami kan  terduga  teroris haha.

Monggo, Ibnu Katsir Jember membuka pintu lebar-lebar bagi njenengan-njenengan yang ingin berkunjung. Apalagi sekarang momennya begitu tepat, momen lebaran, momen maaf-maafan. Monggo pondok kami dan segala kegiatan-kegiatannya diteliti lebih dalam. Mohon maaf saya ndak bisa bantu meneliti, lha wong tugas penelitian saya saja masih bingung mau saya apakan wkwkwk.

Atau, biar saya saja yang datang ke rumah-rumah njenengan untuk menjelaskan, jadi biar saya sekalian bisa bawa proposal kegiatan Wisuda Qur'an dan berharap njenengan mau berpartisipasi, baik dengan dana maupun doa untuk memuliakan para penghafal Alquran. 



Taqabbalallaahu Minna wa minkum. Mohon maaf lahir batin. Mohon maaf bila banyak sekali tulisan saya yang melukai tanpa saya sadari. 

*Silahkan scroll ke atas lagi. Ada foto manusia-manusia manis yang diduga belajar dan mengajar terorisme. Apalagi pada pemuda yg lagi nggendong balita berbaju pink, Waspadalah.