Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Sunday, September 16, 2018

Lantas, Apa Lagi? Jika Semua Sia-Sia?

6


Betapa terharunya saya ketika membuka twitter, ada pesan masuk yang menanyakan kapan blog ini akan di update lagi. Begitu pula dengan beberapa pesan WA yang menginginkan hal serupa. Ada juga salah satu komentar terakhir di blog ini yang juga meminta saya untuk menulis lagi. Memang haru sih, tapi saya ingin menyarankan kepada orang-orang di atas untuk segera berkonsultasi dengan psikolog, karena bagi saya agak aneh jika sampai ada yang meminta saya menulis konten lagi, padahal konten-konten sebelumnya GJ, penuh dengan ketidakjelasan-ketidakjelasan. Ngawur pula. Haha. 

Sunday, April 15, 2018

Manfaat Belajar Bahasa Isyarat (Yang Mungkin Belum Anda Ketahui)

7

Pelatihan Bahasa Isyarat Bisindo pertama kami pada Desember 2017.


Apa anda pernah melihat orang yang berkomunikasi dengan bahasa isyarat?

Apa anda tertarik untuk mempelajarinya?

Hah? Tidak?

Apa sebab? *bisindostyle

Oalah… Eh jangan salah persepsi dulu. Bahasa isyarat itu seru dan banyak manfaatnya. Mungkin sudah banyak ditulis mengenai manfaat kita belajar bahasa isyarat secara umum (mungkin lo ya :p ). Makanya, disini saya akan mengulas apa saja manfaat kita belajar bahasa isyarat dalam pembahasan yang mungkin belum pernah diulas (sekali lagi, ini cuma kemungkinan lo :D )


1   1. Metode berkomunikasi solutif dalam beberapa kondisi

Sebentar lagi kita memasuki bulan Ramadhan. Tidak bisa dipungkiri bahwasanya bau mulut kita menjadi berkali-kali lipat anunya. "Saat puasa produksi liur (saliva) akan berkurang sehingga bakteri dalam mulut akan lebih mudah berkembang, ini yang kadang menyebabkan mulut menjadi berbau," ungkap Ahli Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Diah M. Utari 

Tentu saja, bau mulut membuat kita kurang percaya diri untuk ngobrol dengan teman-teman kita, apalagi pada calon mertua. Bisa buruk pamor kita dihadapan mereka. Kalau sudah jadi mertua mah tak masalah mana mungkin mertua tega meminta putra/I nya agar bercerai dengan kita hanya karena bau mulut? Tapi kalau iya, ya itu nasib anda wkwkwk

Sabar brooo...



Haha... 


Nah, agar tetap dapat menjaga kepercayaan diri, maka bahasa isyarat menjadi pilihan bahasa yang pas untuk anda gunakan sebagai media berkomunikasi.

Kalau lawan bicara anda tidak bisa bahasa isyarat, maka ini kesempatan bagi anda yang sudah bisa untuk mengajari mereka, atau ajaklah mereka ke pelatihan-pelatihan bahasa isyarat. Ayo buruaaan Mumpung masih ada sisa waktu sekitar satu bulan sebelum Ramadhan tiba.

Sariawan? Sakit gigi? Malas untuk berbicara? Lagi ngunyah pecek tempe hingga susah untuk berbicara? Berbicalah dengan bahasa isyarat. Hehehe


2   2. Sarana melatih otak

Pernah belajar senam otak kanan? Itu loh… yang tangan kanan dan tangan kiri tak menyatu, yang cinta bertepuk sebelah tangan :p

Haha, maaf, bukan itu. Ini lo, yang seperti ini...




Nah, yang itu lo... dimana tangan kanan kita membentuk pola tertentu dan tangan kiri kita membentuk pola yang lain, lalu menganu-nganukannya. Semacam dibuat bergantian tapi di variasikan gitu. Paham ndak? Mbulet ya? ^_^v

Kurang lebih, bahasa isyarat melakukan hal serupa seperti excercise tadi. Iyakan?dengan belajar bahasa isyarat, insyaaAllah kemampuan otak anda akan berkembang. InsyaaAllaah :)

Sebenarnya sih, belajar bahasa apapun membuat otak anda berkembang. Kecuali bahasa(n) kapan lulus S3, kapan nikahi 3 orang, kapan gendong anaknya cicit. Bisa bisa konslet utekmu wkwkwk


3. Sarana mengungkapkan perasaan tanpa ketahuan

Ini cocok bagi anda-anda yang ingin melamar anak orang namun tak tahu harus dari mana memulainya. Mungkin bisa berawal dari isyarat ketap-ketip ke calon mertua. Eh tapi ketap-ketipnya jangan cepat-cepat dan usahakan untuk selalu tersenyum. Karena jika ketap-ketip cepat dengan ekspresi gimanaa gituuu... Bisa-bisa si camer menghampiri  anda sambil membawakan insto dan berkata dengan iba, "kelilipen a, Le?". 

Gagal... gagaaaal...  wkwkwk

Sebentar... Bagaimana jika kita mengungkapkan perasaan pada orang yang ternyata juga bisa berbahasa isyarat? 

Jika iya, mungkin si dia akan bertanya, "benarkah? serius?"

Maka jawab saja, "Saya cuma latihan kok"

"Untuk apa kamu latihan berisyarat akan meminang-minang seperti itu?", balasnya, *mungkin.

"Ehheee... Anu pak... ya untuk melamar putri bapak :) "

Eaaa. Eh tapi jangan ucapkan "eaaa" didepannya. Apalagi pas didepan hidungnya. Mulut anda kan sedang bau wkwkwk.

Bisa-bisaa, nanti anda...



4. Sudahlah. Semakin ngawur nantinya hahaha

Kalam Allah itu indah... Kisah-kisah didalamnya begitu menggugah, pun didalamnya, rahmat dan ampunan limpah tercurah. 

Syariat-syariat-Nya pun indah... hingga apa-apa yang sulit jadi terasa mudah.

Sunnah-sunnah Rasulullaah shallallaahu alaihi wasallam juga begitu indah. Tanya pada siapapun yang tetap meniti jalannya sekalipun selayang pandang, kehidupannya terlihat begitu "tersisksa". Dan 'berkah' akan kau dapati sebagai jawabannya.

Keterbatasan teman-teman tuli dalam mendengar, tentu saja membuat mereka kurang bisa menikmati itu semua. 

Jika bukan kita, siapa lagi yang akan berbagi Islam yang indah ini pada mereka?

Betapa saya kadang teringat mbak Nur dan kawan-kawan sahabat tuli saat saya mendengar alunan murattal Imam Masjidil Haram dan yang lain, "Semerdu dan semenggetarkan ini, pernahkan teman-teman tuli mendengar dan merasakannya?"

Yaa Rabb... Engkau tentu tahu apa yang terbaik. Jika mereka memang benar-benar tak bisa mendengarnya dalam keadaan sadar di dunia, saya ingin sekali agar Engkau hadirkan alunan tersebut dalam mimpi-mimpi mereka... juga di surga kelak, disisi ucapan salam yang akan mereka terima...


5. Barangkali berminat menjadi perantara Kalam-Nya pada mereka

Kami mengadakan pelatihan bahasa isyarat rutin dan gratis yang sudah berjalan sejak Desember 2017 lalu. Hubungi nomor saya di 085230981025 baik dengan sms, telepon, WA maupun Telegram untuk info lebih lanjut. 

Posternya ada di instagram @media_ibka, coba saja scroll-scroll. Maaf tidak bisa saya upload karena adzan ashar sudah berkumandang.

Ohya... Untuk peserta-peserta yang pernah mengikuti pelatihan, Jazaakumullaah ahsanal jazaa' ^_^






Thursday, April 12, 2018

Jalan Cinta

2




"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana" ~Sapardi Djoko Damono
Jalan mencinta kita, tidaklah sama. Seperti halnya Sapardi yang memilih untuk mencintai dengan sederhana, "dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada", lanjut Sapardi dalam selirih puisinya, puisi yang sepertinya sering kita kutip tanpa menyertakan sumber aslinya.

Jalan mencinta kita, tentu saja berbeda-beda. Dan, ada jalan mencinta yang diisyaratkan begitu indah dalam beberapa kisah. Jalan mencinta itu adalah... Berlama-lama.

"Ini adalah tongkatku", jawab Musa alaihissalam, kala ia bertelanjang kaki di Lembah Thuwa dan Allah SWT bertanya mengenai benda yang sedang digenggam tangan kanannya.


"Aku bertumpu padanya", lanjutnya. 

Tak hanya berhenti disitu, ia mencari-cari jawaban agar bisa lebih berlama-lama dengan-Nya, "Dan aku merontokkan dedaunan dengan tongkat itu untuk makanan kambingku". Musa as menambah-nambahi jawaban untuk hal yang tak Allah SWT tanyakan.


Sungguh, Musa as ingin menambahkan jawaban lagi, namun kekakuan lidahnya membuat ia tak bisa mengucapkan satu persatu hal yang terlintas dipikirannya.



"Dan bagiku masih ada manfaat yang lain", ujar Musa as yang masih tak ingin menyelesaikan pembicaraan. 

3 jawaban ditambah 1 jawaban yang meringkas banyak jawaban untuk sebuah pertanyaan sederhana, "apa yang ada di tangan kananmu, wahai Musa?". 

Ada isyarat dalam ayat ini, bahwasanya Musa 'alaihissalam hanya ingin berlama-lama bercakap-cakap dengan Rabbnya.


Tak hanya milik Musa alaihissalam. Terkisah pula bahwasanya berlama-lama adalah jalan yang juga ditempuh oleh Al Musthofa ï·º.



"Hingga aku berkeinginan untuk melakukan hal buruk. Aku ingin duduk dan meninggalkan Nabi ï·º", keluh Ibnu Mas'ud, saat ia sholat bersama Rasulullah ï·º dalam suatu malam.

Betapa Rasul ï·º berlama-lama berdiri saat sholat tahajjud, hingga salah seorang dari 4 orang yang Rasul ï·º sarankan pada muslimin untuk belajar Al-Quran pada mereka, Ibnu Mas'ud, berniat meninggalkan beliau.



Pun dengan Nuh alaihissalam yang begitu tahan berlama-lama, berdakwah ratusan tahun lamanya. Berdakwah siang malam, baik secara terang-terangan maupun diam-diam, baik menggunakan bahasa yang lembut hingga doa-doa yang mengancam.

Bagaimana dengan kita? apa jalan kita mencinta-Nya juga sama dengan mereka? berlama-lama?


Barangkali, berlama-lama menonton drama korea, bermain Playstation dan lain-lain juga merupakan cara seseorang untuk mencinta-Nya...


"Haish, bagaimana sih. Ngawur kamu. Mana mungkin mereka-mereka yang menghabiskan waktu dengan hal-hal yang madharatnya jauh lebih banyak dari manfaatnya itu dikatakan sedang melakukan sesuatu untuk mencint-Nya?"


Isik talah, jangan motong pembicaraan. Barangkali mereka memang berlama-lama, namun berlama-lamanya mereka itu membuat mereka bosan, sehingga mereka meninggalkan perbuatan tersebut, bertaubat pada Allah dan tidak mengulanginya lagi, lalu mulai melakukan sesuatu yang jauh lebih bermanfaat dari yang pernah mereka kerjakan, bahkan mungkin jauh lebih bermanfaat dari yang kamu kerjakan.


Mari belajar untuk senantiasa berhusnudzan, kawan :) . Mari perbaiki cara pandang kita dalam menyikapi segala sesuatu, karena bisa jadi apa yang tampak buruk dimata kita, justru menggetarkan arsy dan menuai pujian dari malaikat-malaikat nun mulia. Sedangkan pandangan buruk kita yang merasa lebih baik dari mereka, justru malah menjadi jangkar terlempar di dasar neraka yang membelenggu kita. Na'uudzubillah min dzaalik


Wallaahu a'lam :)

*tulisan warna biru diatas ditulis bukan karena baper akibat laptop dan stick pernah disita. Serius. Haha. Btw tulisan warna birunya bisa di klik loh :)

*edisi mengedit dan reupload tulisan yang pernah saya upload, tapi bukan di blog ini.




Tuesday, February 20, 2018

Jadi, Siapa Yang Sebenarnya Buta?

3


Bacalah hingga akhir dan petiklah sesuatu :)


Mas Nauval dan saya

"Halo, Mas! masih ingat saya kah?", seru saya sambil menyerobot tangannya untuk bersalaman.

"Syafiq ya?", ujarnya agak ragu, karena ia hanya mengandalkan telinga untuk mengenali saya.

"Haha, mantap!"

Jadi, tadi siang di Masjid Al-Falah, saya bertemu dengan teman yang cukup istimewa. Ia sedang menyediri di pojok kanan masjid. Saya lantas mendekat padanya yang sedang asyik membaca Al-Qur'an juz 11. 

"Kok kamu tau?"

Haha, kan ada tulisan Juz 11 yang terpampang jelas di sampul Al-Qur'an Braillenya, ya jelas lah saya tau :p

Lama tak jumpa, saya langsung saja "mengenakkan diri" untuk mengganggunya mengaji. Mengobrollah kami lepas-lepas dengan berbahasa Indonesia dan Jawa. Sesekali berbahasa Madura. 

Kami awalnya bertemu saat saya menonton Festival Al-Qur'an yang diselenggarakan hampir satu bulan penuh di masjid Roudhatul Muchlisin Jember pada Ramadhan tahun lalu. Perjumpaan yang amat berkesan. Ternyata ia adalah salah satu peserta seleksi lomba 10 Juz. Walaupun akhirnya ia tak lolos seleksi, namun itu sudah amatlah luar biasa jika mengingat keterbatasannya dalam melihat. 

Yap, ia seorang tuna netra. 

Soal yang diujikan padanya saat seleksi adalah ayat dari Juz 10. Sedangkan ketika menjelang seleksi, ia tak tak sempat memuraja'ah Juz 10 hingga tuntas karena saya ajak mengobrol. Padahal Al-Qur'an braille Juz 10 sudah ia genggam di pelukannya.

Saya benar-benar menyesal saat menontonnya tak bisa melanjutkan ayat. 

Huh. Apa gara-gara saya ya?  

Eh, tapi beberapa waktu lalu ia sempat menjadi wakil dari daerah Tapal Kuda di kategori 10 Juz dalam Musabaqoh Hifzhil Qur'an Syaikh Hamad bin Khalid Al-Thani Antar Pesantren se-Indonesia looo. Keren kan?

Ia pernah bercerita jika sebenarnya waktu SD, ia hampir hafal Juz 30 ketika ia masih di Lamongan dalam asuhan ayahnya. Namun kepindahannya ke Lumajang membuat beberapa hal menjadi berubah. Ia tak lagi menemukan lingkungan dan kondisi yang cocok untuk menghafalkan Al-Qur'an. Hingga ia tak lagi mengingat apa yang pernah dia hafalkan sebelumnya. 

Pertemuannya dengan pak Rahman di kemudian hari mengubah banyak hal. Ia mulai belajar  cara membaca huruf hijaiyah dalam braille, hingga kemudian takdir baik demi takdir baik menuntunnya menyelesaikan hafalan Al-Quran 30 Juz pada Februari 2017 lalu dalam asuhan Ustadz Wahid di Ponpes Al Khaliq. Allaahu Akbar!

"Seneng opo ora, Mas... pas ngekhatamke Qur'an?", selidik saya.

"Hehe... seneng piye. Ajur apalane, Mat!", candanya. Lepas-lepas kami tertawa.

Terlalu asyik mengobrol dengannya membuat saya terlambat kuliah dan tak diperkenankan untuk mengisi tanda kehadiran pada absen mahasiswa.

Yowis aku rapopo.



Pak Rahman dan saya

Oh iya. Ngomong-ngomong tentang pak Rahman, kebetulan saya juga pernah bertemu dan berbincang-bincang dengan beliau pada gerimis kamis beberapa bulan lalu. 

Asyik sekali berbincang-bincang dengan pak Rahman. Beliau begitu rendah hati dan penuh dengan humor yang sehat. Ohya, beliau adalah Ketua dari ITMI (Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia) Jember. 

Yap. Beliau juga seorang tunanetra.

Jika anda sudah lama berinteraksi dengan Ibnu Katsir Jember, mungkin anda ingat bahwa dulu ada Buletin yang diterbitkan Ibnu Katsir sebelum kemudian sekarang berganti menjadi Majalah Quran.

Dan beliau, adalah salah satu wartawan sekaligus nafas dari Buletin tersebut!


Tentu saja, anda sudah tau penggawean dari wartawan kan? Bayangkan jika itu dilakukan oleh seorang tuna netra. Datang kemana-mana, cari berita, wawancara, dan banyak hal lainnya. Keren kan?



Saya dan Wahab
Ohya (lagi). Ngomong-ngomong tentang Festival Alquran, ada juga yang membuat saya terkesan.  

Yang berbaju putih hitam (yang lebih kecil badannya) bernama Abdul Wahab. Sebagaimana dengan mas Nauval, Wahab adalah seorang tuna Netra yang hafal 10 juz (dan mungkin lebih) dengan lancar, terbukti dengan jadinya ia sebagai salah satu jawara di Festival AlQuran Ramadhan lalu. Ya, saya menontonnya dari awal ia masuk seleksi hingga final berakhir.

Ah, Suaranya begitu merdu, bacaannya mendayu-dayu. Saya sempat bercengkrama dengan keluarganya. ternyata, Wahab pernah "ditolak" disekolahnya yang dulu karena ia terindikasi sebagai anak yang (mohon maaf) idiot. Namun dalam asuhan Ustadz Imam Baghowi di Pesantren Yasinat, Wahab tumbuh menjadi putra yang membanggakan, baik didunia dan semoga juga kelak diakhirat.

Sedangkan sebelahnya adalah hamba yang tak pandai bersyukur. Berpenglihatan sempurna namun hafalan surat An Naas - Ad Dhuha saja nggak lancar lancar. Bahkan baca surat Al Kafirun saja masih sering kebalik balik. Mbulet.

Allahummarhamnaa bil qur'an...





Mripat wuto ra keno nggo moco. Kurang lebih begitu katanya. 

Eh tapi mereka bertiga bisa membaca. Tak hanya baca Al-Qur'an, Mas Nauval juga bisa mengoperasikan FB dan WA-an. Apalagi pak Rahman yang wartawan?

Langsung saja...

Dan kita, berapa banyak kita baca Alquran dan yang lainnya (buku, bukan chattingan) dalam hari-hati kita?

Jadi, siapa sebenarnya yang buta? Mereka atau kita?

Eh maaf.

Jadi, siapa sebenarnya yang buta? Mereka atau saya?


Monday, February 12, 2018

Rindu Dalam Al-Qur'an, Rindu Orang-Orang Pilihan. Bukan Dilan

9


Kita mulai dari Dilan dan kutipan rindunya yang "katanya" menyebabkan senyum pembaca dan penonton filmnya jadi terkembang sendiri.

Rindu itu berat. Kau  tak akan kuat. Biar aku saja

Begitulah katanya. Sebenarnya, saya tak begitu kaget, apalagi terpesona saat membaca kutipan tersebut. Ya, saya membaca, bukan menonton. Yang saya baca pun bukan novelnya, tapi yang sudah berbentuk gambar-gambar kutipan. Gambar-gambar kutipan itupun ada yang mengirimkan.

Jika ada yang menemukan saya pernah membicarakan kutipan tersebut dengan nada terpesona, ketahuilah bahwasanya saat itu saya hanya sedang berusaha untuk menghargai keterpesonaan anda.

Rindu itu berat. Kau  tak akan kuat. Biar aku saja

Tak hanya berat, bahkan dalam beberapa kondisi, rindu juga berdaya celaka. Melukai, mencelakakan diri.

Rindu itu berat. Kau  tak akan kuat. Biar aku saja

Ini kisah rindu dari seorang tua yang mungkin sudah berpuluh tahun tak bersua dengan buah hati yang ia panggil dengan sebutan yaa Bunayya. Rindunya bermula puluhan tahun silam, kala koyak baju "Bunayya"  didatangkan padanya. Koyak baju yang berlumur darah dusta.

"Serigala memakannya", sesal saudara-saudaranya. "Meskipun yang kami katakan kebenaran, kami tahu, Ayah, dikau tak akan percaya", tambah mereka. Dibandingkan dengan darah dusta yang berlumur pada baju sisa koyakan srigala, bibir bersih mereka jauh lebih dusta. Hina.

Bagi seseorang tua tersebut, rindu itu, kelak akan menjadi sebab duka cita, hingga memutihnya bola mata dan menghilang penglihatannya.

Betapa lara renjana Ya'qub alaihissalam pada "bunayya"nya, Yusuf alaihissalam.

Rindu itu berat. Kau  tak akan kuat. Biar aku saja

Bahkan, tak butuh waktu lama bagi rindu untuk membuat pengidapnya hampir-hampir celaka.

Rasa takut dan was-was menguasainya. Bala tentara yang ditugaskan untuk mengeksekusi setiap kepala bayi laki-laki sudah terasa mendekat, sedang ia tak tahu harus berbuat apa.

Ia memutuskan untuk mengikuti suara yang berdesir, entah di hati atau dikepalanya untuk menyusui bayi tersebut. (ada hikmah menakjubkan di bagian ini, akan panjang jika ditulis disini. Hubungi saja saya jika ingin tahu. Santai, ndak ada modus  :) )

Akhirnya, ia hanyutkan bayi itu disungai setelah ia ikuti lagi suara yang sebenarnya adalah ilham dari Rabbnya.

Jika Ya'ub AS mampu menahan rindu begitu lama, kali ini berbeda. Ibu yang terilhami ini tak mampu menahan rindu, padahal baru berpisah beberapa kejap mata.

Dikisahkan, betapa kemudian kalbunya menghampa. Hampir-hampir pula ia membocorkan rahasia mengenai bayi yang barusaja ia hanyutkan karena begitu khawatirnya ia dengan keselamatan putranya. Namun Rabbnya lagi-lagi memberikan ilham berupa penguatan hati. Andai ia jadi berteriak, bala tentara justru akan menemukan dan membunuh putranya, Musa alaihissalam.

Tak hanya mencelakai diri, bisa jadi rindu juga mencelakai apa-apa yang kita rindu.

Rindu itu berat. Kau  tak akan kuat. Biar aku saja

"Ya Allah pedihkanlah sakaratul mautku dan ringankan untuk ummatku", pinta Rasulullaah Shalallallaahu alaihi wa sallam saat ajalnya datang.

Ah. Betapa menyakitkannya, rindu-rindu yang dirasakan orang orang pilihan.

Apa rindu memang harus diramu dari temu? Dan jika memang rindu hanya bisa tercipta seba'da temu, lantas dengan apa harus kami namai buncah haru yang kian memburu padamu, duhai Rasul yang menganggap dirinya hanyalah perwujudan sepotong doa Ibrahim alaihissalam beribu tahun lalu?

 


Thursday, February 01, 2018

Sosok Asli Dilan; Ternyata Dilan Adalah Jokowi

12

Kolom status Whatsapp yang memuat status-status kontak WA di handphone saya akhir-akhir ini dipenuhi dengan nama Dilan dan beberapa dialog cheesy nya. Ada yang mengutip persis dengan yang tertera di novel dan terucap di film, ada pula yang memplesetkannya seperti,"Jangan BAB sambil main skipping rope dan push-up. Berat, Sulit pula. 'Air Besar' mu nggak akan keluar. Andaipun keluar pasti  juga bakal korat-karit. Berantakan. Biar aku saja. Ya, aku saja yang menertawakan andai kamu jadi melakukannya". 

Emm, sebenarnya yang diatas itu saya yang membuatnya, namun urung saya share di WA. Gak lucu.

Ada pula yang misuh-misuh ke Dilan, "Dilan kampret, yang berat itu mempertahankan hafalan Al-Qur'an, bukan rindu".

Sedikit catatan untuk akhi dan ukhti yang apdet status seperti diatas. Nampaknya perlu dipikir lagi mengenai apa yang antum tuliskan, karena sejatinya Allah sendiri yang berkata bahwa Al-Qur'an itu dipermudah untuk di ingat (dipelajari).

"Alah, kowe sok sok an ngomong koyok ngunu padahal menghafal surat Ad Dhuha sampai An Nas ae gak lancar-lancar kowe, Mus! Isin bro, kalah karo bocah-bocah paud seng wes apal juz 30!"

Haha. Maaf maaf. Mari kembali ke topik.

Tenarnya sosok Dilan membuat banyak orang bertanya-tanya,"Siapakah sosok Dilan sebenarnya?". Banyak yang berprasangka bahwa Dilan asli adalah sosok pengarang novel itu sendiri, yaitu mas Pidi Baiq. Padahal sepertinya bukan. 

Kemungkinan, Dilan adalah Pak Joko Widodo. 

"Ngawur!"

Memang ngawur. Makanya jangan percaya dulu, mari kita analisa bersama.

1. Dilan digambarkan sebagai pemuda yang juga panglima geng motor. Yang namanya panglima, pastilah ia memiliki pengaruh, kekuasaan dan keteguhan. 

Tau tidak? Berdasarkan apa yang dirilis oleh WHO, usia pemuda adalah 18-65. Sedangkan usia Pak Jokowi sekarang kurang lebih 56 tahun. Ya, beliau masih pemuda! 

Bahkan, Saya mendapatkan data dari namamia.com, bahwasanya Joko konon memiliki arti muda, sedangkan Widodo memiliki arti Keteguhan, kebijaksanaan, pengaruh dan kekuasaan. Pak Jokowi dan Dilan sama-sama muda, punya keteguhan, kebijaksanaan, pengaruh dan kekuasaan.

2.  No caption needed. Terlihat mirip kan? 
1990/2017-2018?

Menjelang Pilpres

Tapi tentu saja sifat mereka nggak mirip, Guys. Lah Dilan sukanya merusak properti, sedangkan pak Jokowi sebelum menjadi Presiden sudah pernah menggeluti usaha bikin properti. Usaha meubel, properti rumah tangga. Mana mungkin beliau tega merusak hasil kerjanya sendiri?

Ah akhirnya pakai caption. Nah, kata-kata saya saja nggak dapat dipegang. ApalagiDilan?

3. Dialog-dialog Dilan, sepertinya juga dialog-dialog yang sangat pantas untuk Pak Jokowi ucapkan. Contoh :

Dialog Dilan : 
Jangan bilang ke aku ada yang menyakitimu. Nanti besoknya, orang itu akan hilang.
 Dialog Jokowi :
"Indonesia, Jangan bilang padaku ada yang menyakitimu, nanti besoknya ia akan hilang," 

Indonesia, sakitkah engkau saat ulama-ulamamu disakiti? 

----------
Dialog Dilan : 
jangan rindu. “Kenapa?”. Berat, kamu gak akan kuat, biar aku saja.
Dialog Jokowi : 
"Jangan jadi Presiden, berat, kau tak akan kuat, biar aku saja."
Memang sangat berat, Pak. Sebagaimana apa yang telah ustadz Salim sampaikan dalam salah satu bukunya, Sekitar 261 juta jiwa akan berdiri dihadapan bapak untuk meminta pertanggungjawaban kelak di hari yang tak lagi bermanfaat emas sepenuh bumi. Berat sekali, pak.

----------
Dialog Dilan : 
Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Gak tahu kalau sore, tunggu saja !!
Dialog Jokowi : 
"Indonesia, kamu cantik, tapi aku belum menjadi Presidenmu, enggak tahu kalau sesudah Pilpres 2014, tunggu aja,"
Ini dialog yang pantas diucapkan pak Joko di Pilpres lalu. 

----------
Dialog Dilan : 
Pemberitahuan: Sejak sore kemarin, aku sudah mencintaimu!” 
Dialog Jokowi : 
“Pemberitahuan: Sejak 2014 kemarin, aku sudah menjadi Presidenmu!”
Ini pantas beliau ucapkan sekarang. 

----------
Dialog Dilan : 
Kalau mencintaimu adalah kesalahan. Yasudah, biar aku salah terus saja.
Dialog Jokowi : 
“Kalau menjadi presidenmu itu adalah sebuah kesalahan, yasudah, biar. Aku salah terus saja.”
Semoga beliau tak mengucapkan ini jelang Pilpres 2019.

----------
Dialog Dilan :
Selamat ulang tahun, Milea. Ini hadiah untukmu, cuma TTS. Tapi sudah ku isi semua. Aku sayang kamu. Aku tidak mau kamu pusing karena harus mengisinya.
Dialog Jokowi : 
"Selamat, ini hadiah untukmu, cuma Sepeda Pancal, tapi ban sepedanya sudah kuisi angin semua. Aku tidak mau mulut kamu sampai kempot karena harus mengisinya dengan cara meniup."
Haha

----------
Dialog Dilan : 
“Kalau kamu bohong, itu hak kamu. Asal jangan aku yang bohong ke kamu.”
Dialog Jokowi : 
“Kalau kamu bohong, itu hak kamu. Asal jangan aku yang bohong ke kamu.
Ah bapak, jujur sekali ^_^

----------
Dialog Dilan : 
Jika hujan, aku tak akan memberimu jaket, sebab jika aku sakit, lalu siapa yang akan menjagamu 
Dialog Jokowi : 
“Jika hujan, aku tak akan memberimu payung. Sebab jika aku sakit, lalu siapa yang akan menjagamu?”
Dialog bapak pada pak Gatot bukan seperti itu kan? hehehe


Dialog Dilan dan Jokowi 
“Malam ini, kalau tidur jangan ingat aku ya! Tapi kalau mau, silakan.”

Aduh bapak, saya mau kok. Mau banget malahan. Saya sebenarnya juga ingin mendoakan bapak ditiap mau tidur agar bapak senantiasa mendapatkan hidayah dan rahmat-Nya, agar bapak memperjuangkan bangsa ini dengan benar, agar bapak mendukung ulama' ikhlas yang seringkali dikriminalisasi padahal mereka adalah sosok-sosok yang berusaha mempertahankan negri dari marabahaya yang satu persatu mulai tampak di hari ini. 



Tapi maaf, pak. Saya sering lupa.



Sebenarnya saya ngeri-ngeri gimana gitu saat menulis ini, Pak. Takutnya nanti nasib saya berakhir seperti penulis Jokowi Undercover. Semoga saja tidak ya, Pak?  



Soalnya saya belum nikah, Pak. 



Emm, bagaimana? ada banyak keterkaitan kan antara beliau dengan Dilan?



Andaipun ternyata pak Jokowi  bukanlah Dilan, banyaknya kecocokan antara beliau dengan Dilan membuat kita jadi mengetahui siapa aktor yang harusnya dipilih menjadi pemeran sosok Dilan.



Ya, aktor yang cocok memerankannya adalah si Fahri Ayat-Ayat Cinta!



"Jangan khawatir jiika rindu itu memang berat adanya. Eh sebentar. Ada juga kalimat yang berat di amal timbangan dan dicintai sang Rahman. Tenang saja, kalimat itu amatlah ringan diucapkan dilisan, kau dan aku pasti kuat dan mampu untuk melafalkannya bersama"

Relijis Romantis. Duh, Fahri mah emang gitu orangnya. 



Salam. Jangan kebanyakan nulis, bikin yang baca malas. Selain itu, saya mau tidur dulu, ndak terasa sudah tengah malam.