Showing posts with label CoratCoret. Show all posts
Showing posts with label CoratCoret. Show all posts

Sunday, April 15, 2018

Manfaat Belajar Bahasa Isyarat (Yang Mungkin Belum Anda Ketahui)

7

Pelatihan Bahasa Isyarat Bisindo pertama kami pada Desember 2017.


Apa anda pernah melihat orang yang berkomunikasi dengan bahasa isyarat?

Apa anda tertarik untuk mempelajarinya?

Hah? Tidak?

Apa sebab? *bisindostyle

Oalah… Eh jangan salah persepsi dulu. Bahasa isyarat itu seru dan banyak manfaatnya. Mungkin sudah banyak ditulis mengenai manfaat kita belajar bahasa isyarat secara umum (mungkin lo ya :p ). Makanya, disini saya akan mengulas apa saja manfaat kita belajar bahasa isyarat dalam pembahasan yang mungkin belum pernah diulas (sekali lagi, ini cuma kemungkinan lo :D )


1   1. Metode berkomunikasi solutif dalam beberapa kondisi

Sebentar lagi kita memasuki bulan Ramadhan. Tidak bisa dipungkiri bahwasanya bau mulut kita menjadi berkali-kali lipat anunya. "Saat puasa produksi liur (saliva) akan berkurang sehingga bakteri dalam mulut akan lebih mudah berkembang, ini yang kadang menyebabkan mulut menjadi berbau," ungkap Ahli Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Diah M. Utari 

Tentu saja, bau mulut membuat kita kurang percaya diri untuk ngobrol dengan teman-teman kita, apalagi pada calon mertua. Bisa buruk pamor kita dihadapan mereka. Kalau sudah jadi mertua mah tak masalah mana mungkin mertua tega meminta putra/I nya agar bercerai dengan kita hanya karena bau mulut? Tapi kalau iya, ya itu nasib anda wkwkwk

Sabar brooo...



Haha... 


Nah, agar tetap dapat menjaga kepercayaan diri, maka bahasa isyarat menjadi pilihan bahasa yang pas untuk anda gunakan sebagai media berkomunikasi.

Kalau lawan bicara anda tidak bisa bahasa isyarat, maka ini kesempatan bagi anda yang sudah bisa untuk mengajari mereka, atau ajaklah mereka ke pelatihan-pelatihan bahasa isyarat. Ayo buruaaan Mumpung masih ada sisa waktu sekitar satu bulan sebelum Ramadhan tiba.

Sariawan? Sakit gigi? Malas untuk berbicara? Lagi ngunyah pecek tempe hingga susah untuk berbicara? Berbicalah dengan bahasa isyarat. Hehehe


2   2. Sarana melatih otak

Pernah belajar senam otak kanan? Itu loh… yang tangan kanan dan tangan kiri tak menyatu, yang cinta bertepuk sebelah tangan :p

Haha, maaf, bukan itu. Ini lo, yang seperti ini...




Nah, yang itu lo... dimana tangan kanan kita membentuk pola tertentu dan tangan kiri kita membentuk pola yang lain, lalu menganu-nganukannya. Semacam dibuat bergantian tapi di variasikan gitu. Paham ndak? Mbulet ya? ^_^v

Kurang lebih, bahasa isyarat melakukan hal serupa seperti excercise tadi. Iyakan?dengan belajar bahasa isyarat, insyaaAllah kemampuan otak anda akan berkembang. InsyaaAllaah :)

Sebenarnya sih, belajar bahasa apapun membuat otak anda berkembang. Kecuali bahasa(n) kapan lulus S3, kapan nikahi 3 orang, kapan gendong anaknya cicit. Bisa bisa konslet utekmu wkwkwk


3. Sarana mengungkapkan perasaan tanpa ketahuan

Ini cocok bagi anda-anda yang ingin melamar anak orang namun tak tahu harus dari mana memulainya. Mungkin bisa berawal dari isyarat ketap-ketip ke calon mertua. Eh tapi ketap-ketipnya jangan cepat-cepat dan usahakan untuk selalu tersenyum. Karena jika ketap-ketip cepat dengan ekspresi gimanaa gituuu... Bisa-bisa si camer menghampiri  anda sambil membawakan insto dan berkata dengan iba, "kelilipen a, Le?". 

Gagal... gagaaaal...  wkwkwk

Sebentar... Bagaimana jika kita mengungkapkan perasaan pada orang yang ternyata juga bisa berbahasa isyarat? 

Jika iya, mungkin si dia akan bertanya, "benarkah? serius?"

Maka jawab saja, "Saya cuma latihan kok"

"Untuk apa kamu latihan berisyarat akan meminang-minang seperti itu?", balasnya, *mungkin.

"Ehheee... Anu pak... ya untuk melamar putri bapak :) "

Eaaa. Eh tapi jangan ucapkan "eaaa" didepannya. Apalagi pas didepan hidungnya. Mulut anda kan sedang bau wkwkwk.

Bisa-bisaa, nanti anda...



4. Sudahlah. Semakin ngawur nantinya hahaha

Kalam Allah itu indah... Kisah-kisah didalamnya begitu menggugah, pun didalamnya, rahmat dan ampunan limpah tercurah. 

Syariat-syariat-Nya pun indah... hingga apa-apa yang sulit jadi terasa mudah.

Sunnah-sunnah Rasulullaah shallallaahu alaihi wasallam juga begitu indah. Tanya pada siapapun yang tetap meniti jalannya sekalipun selayang pandang, kehidupannya terlihat begitu "tersisksa". Dan 'berkah' akan kau dapati sebagai jawabannya.

Keterbatasan teman-teman tuli dalam mendengar, tentu saja membuat mereka kurang bisa menikmati itu semua. 

Jika bukan kita, siapa lagi yang akan berbagi Islam yang indah ini pada mereka?

Betapa saya kadang teringat mbak Nur dan kawan-kawan sahabat tuli saat saya mendengar alunan murattal Imam Masjidil Haram dan yang lain, "Semerdu dan semenggetarkan ini, pernahkan teman-teman tuli mendengar dan merasakannya?"

Yaa Rabb... Engkau tentu tahu apa yang terbaik. Jika mereka memang benar-benar tak bisa mendengarnya dalam keadaan sadar di dunia, saya ingin sekali agar Engkau hadirkan alunan tersebut dalam mimpi-mimpi mereka... juga di surga kelak, disisi ucapan salam yang akan mereka terima...


5. Barangkali berminat menjadi perantara Kalam-Nya pada mereka

Kami mengadakan pelatihan bahasa isyarat rutin dan gratis yang sudah berjalan sejak Desember 2017 lalu. Hubungi nomor saya di 085230981025 baik dengan sms, telepon, WA maupun Telegram untuk info lebih lanjut. 

Posternya ada di instagram @media_ibka, coba saja scroll-scroll. Maaf tidak bisa saya upload karena adzan ashar sudah berkumandang.

Ohya... Untuk peserta-peserta yang pernah mengikuti pelatihan, Jazaakumullaah ahsanal jazaa' ^_^






Thursday, April 12, 2018

Jalan Cinta

2




"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana" ~Sapardi Djoko Damono
Jalan mencinta kita, tidaklah sama. Seperti halnya Sapardi yang memilih untuk mencintai dengan sederhana, "dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada", lanjut Sapardi dalam selirih puisinya, puisi yang sepertinya sering kita kutip tanpa menyertakan sumber aslinya.

Jalan mencinta kita, tentu saja berbeda-beda. Dan, ada jalan mencinta yang diisyaratkan begitu indah dalam beberapa kisah. Jalan mencinta itu adalah... Berlama-lama.

"Ini adalah tongkatku", jawab Musa alaihissalam, kala ia bertelanjang kaki di Lembah Thuwa dan Allah SWT bertanya mengenai benda yang sedang digenggam tangan kanannya.


"Aku bertumpu padanya", lanjutnya. 

Tak hanya berhenti disitu, ia mencari-cari jawaban agar bisa lebih berlama-lama dengan-Nya, "Dan aku merontokkan dedaunan dengan tongkat itu untuk makanan kambingku". Musa as menambah-nambahi jawaban untuk hal yang tak Allah SWT tanyakan.


Sungguh, Musa as ingin menambahkan jawaban lagi, namun kekakuan lidahnya membuat ia tak bisa mengucapkan satu persatu hal yang terlintas dipikirannya.



"Dan bagiku masih ada manfaat yang lain", ujar Musa as yang masih tak ingin menyelesaikan pembicaraan. 

3 jawaban ditambah 1 jawaban yang meringkas banyak jawaban untuk sebuah pertanyaan sederhana, "apa yang ada di tangan kananmu, wahai Musa?". 

Ada isyarat dalam ayat ini, bahwasanya Musa 'alaihissalam hanya ingin berlama-lama bercakap-cakap dengan Rabbnya.


Tak hanya milik Musa alaihissalam. Terkisah pula bahwasanya berlama-lama adalah jalan yang juga ditempuh oleh Al Musthofa ï·º.



"Hingga aku berkeinginan untuk melakukan hal buruk. Aku ingin duduk dan meninggalkan Nabi ï·º", keluh Ibnu Mas'ud, saat ia sholat bersama Rasulullah ï·º dalam suatu malam.

Betapa Rasul ï·º berlama-lama berdiri saat sholat tahajjud, hingga salah seorang dari 4 orang yang Rasul ï·º sarankan pada muslimin untuk belajar Al-Quran pada mereka, Ibnu Mas'ud, berniat meninggalkan beliau.



Pun dengan Nuh alaihissalam yang begitu tahan berlama-lama, berdakwah ratusan tahun lamanya. Berdakwah siang malam, baik secara terang-terangan maupun diam-diam, baik menggunakan bahasa yang lembut hingga doa-doa yang mengancam.

Bagaimana dengan kita? apa jalan kita mencinta-Nya juga sama dengan mereka? berlama-lama?


Barangkali, berlama-lama menonton drama korea, bermain Playstation dan lain-lain juga merupakan cara seseorang untuk mencinta-Nya...


"Haish, bagaimana sih. Ngawur kamu. Mana mungkin mereka-mereka yang menghabiskan waktu dengan hal-hal yang madharatnya jauh lebih banyak dari manfaatnya itu dikatakan sedang melakukan sesuatu untuk mencint-Nya?"


Isik talah, jangan motong pembicaraan. Barangkali mereka memang berlama-lama, namun berlama-lamanya mereka itu membuat mereka bosan, sehingga mereka meninggalkan perbuatan tersebut, bertaubat pada Allah dan tidak mengulanginya lagi, lalu mulai melakukan sesuatu yang jauh lebih bermanfaat dari yang pernah mereka kerjakan, bahkan mungkin jauh lebih bermanfaat dari yang kamu kerjakan.


Mari belajar untuk senantiasa berhusnudzan, kawan :) . Mari perbaiki cara pandang kita dalam menyikapi segala sesuatu, karena bisa jadi apa yang tampak buruk dimata kita, justru menggetarkan arsy dan menuai pujian dari malaikat-malaikat nun mulia. Sedangkan pandangan buruk kita yang merasa lebih baik dari mereka, justru malah menjadi jangkar terlempar di dasar neraka yang membelenggu kita. Na'uudzubillah min dzaalik


Wallaahu a'lam :)

*tulisan warna biru diatas ditulis bukan karena baper akibat laptop dan stick pernah disita. Serius. Haha. Btw tulisan warna birunya bisa di klik loh :)

*edisi mengedit dan reupload tulisan yang pernah saya upload, tapi bukan di blog ini.




Wednesday, March 14, 2018

Surabaya dan Jangan Banyak Tanya!

6

"Mojokerto garing, Fiq!", keluh ustadz Syem.

"Garing piye mas?", timpal saya yang sedang ia bonceng menuju terminal Mojokerto.

"Yo garing iku ne, ora koyo ndek Jember", ujarnya, sambil berisyarat pada dua akhwat bersepeda motor yang kami lewati. "Mangkane, cah pengabdian Mojokerto durung ono seng nikah yo amergo kuwi, garing bro!", lanjutnya

Di antara rerimbun oksigen pagi, ditengah lengang jalan pesawahan Mojokerto, saya tak kuasa menahan tawa hingga keluar airmata.

Duh. Monggo-monggooo, bagi yang baca tulisan ini dan merasa memiliki kenalan akhwat Mojokerto dan sekitarnya, bisa nge-share tulisan saya pada mereka. 

Saya tidak sedang mencarikan jodoh untuk mereka dengan meminta pada anda untuk nge-share, karena urusan Jodoh sudah diatur oleh yang Kuasa. 

Tapi urusan blog pageview, jumlah pengunjung blog dan statistiknya kan beda wkwkwk

***

"Sebenarnya, saya sangat bersyukur dengan batalnya tiket kereta njenengan, Ustadz", terus terang saya saat beberapa yang lain menyesalkannya. "Soalnya, kalau Ustadz jadi naik kereta, mana bisa saya nunut (nebeng)? Kalau gini kan saya selain bisa ke Surabaya dengan hemat, saya juga bisa ikut njenengan ke Mojokerto dulu", tutur saya, mringis, menggaruk-garuk kepala.

"Wah iya, berkah buat kamu ini, Le", jawab Ustadz Abu, disusul dengan tawa kita yang bercampur ria. 

Jadi ceritanya, saya diberi misi oleh Pondok untuk nganu (rahasia) di Surabaya. Bertepatan dengan itu, Ustadz Abu ternyata juga punya jadwal mengisi Majlis Qur'an di Mojokerto. Tau akan jadwal beliau, terlintas di hati saya untuk nunut mobil beliau untuk menghemat biaya. 

Eh ternyata beliau sudah dipesankan tiket kereta. Tapi ternyata ada beberapa kendala, mulai dari salah pesan hari hingga harus mengganti hari, ada acara yang harus beliau hadiri di hari pengganti, hingga habisnya tiket di jam yang memungkinkan untuk beliau berangkat dengan kereta.

Akhirnya beliau memutuskan untuk naik mobil saja. Yeeey! Alhamdulillaah, Allah mengabulkan lintasan hati saya ^^

Akhirnya Sabtu pagi kami yang terdiri dari Bang Jek, Mamduh, saya dan beliau berangkat ke Mojokerto mengendarai Evalia. Bang Jek driver utama, Mamduh backingnya. Ustadz Abu menjadi navigator, juga sesekali mengemudi untuk memberi kesempatan istirahat pada Bang Jak yang sebenarnya baru saja datang dari Sidoarjo.

Sadar diri tak bisa mengemudi, saya turut mengambil aksi, berpartisipasi dalam perjalanan kami. Sungkan, sudahlah statusnya nunut, ndak ngapa-ngapain lagi. Akhirnya saya mengambil tugas untuk membantu Ustadz Abu menghabiskan camilan beliau, dan membantu driver untuk tetap fokus. Bagaimana caranya? ya saya tidur saja. Dengan saya tidur, saya tak akan mengganggu driver. Dengan driver tak terganggu, ia akan bisa tetap fokus mengemudi.

Ah, dipikir-pikir, betapa vital peran saya di mobil. Sudah-sudah... jangan memuji-muji, saya nggak enak sendiri :p

Pengabdian Mojokerto
Akhirnya kami sampai di Ibka 4 Mojokerto sekitar jam 1 lebih. Lebih 2 jam. Hahaha. Yaa sekitar jam 3 lebih itu lah. Lebih 1 jam an. Haha. Tepatnya adalah sekitar setengah lima sore.

Ustadz Abu mengisi kajian dari ba'da maghrib hingga jam 8 malam, kemudian pulang ke Jember jelang tengah malam. Sedangkan saya berangkat ke Surabaya di pagi harinya.

Sesampainya di Surabaya, hal yang pertama saya lakukan adalah bernafas. Ya, tak bernafas dapat membuat hilang nyawa. Fatal bos. Setelah itu saya mengorder Gojek untuk riwa-riwi menjalankan misi. Ada hal unik yang terjadi di tiap saya naik Gojek. Saya selalu berlalu terlebih dahulu sambil tetap memakai helm Gojek dikepala, hingga kelima Pak Gojek tersebut selalu setengah berteriak dengan mengatakan hal yang intinya, "Mas mas, helmnya mas!".

5 kali naik Gojek, dan kelima-limanya berakhir dengan mringis terpampang diwajah saya.

Mungkin saya lupa karena saya terbiasa dengan beban pikiran yang berat dikepala, hingga beban helm yang cuma sekian yard itu tidak terasa.

Eh, yard itu ukuran satuan berat kan?

Bukan ya? sudahlah tak usah dipikir.

Ada seorang Gojek driver yang berkesan bagi saya. Jadi, ia membersihkan helm penumpang dan memasukkannya kedalam pembungkus helm tiap selesai mengantarkan penumpang. "Biar bersih, mas", ujarnya saat saya tanya mengapa. Masyaa Allaah,

Bergerak cepat dan efektif, akhirnya tugas saya selesai sebelum jam 1 siang. Setelah itu, saya bergegas menemui mas Amin yang juga sedang di Surabaya untuk pulang bersama.

Namun diperjalanan pulang, asatidz Mojokerto menghubungi kami dan meminta kami untu mampir dahulu. Akhirnya, kami putuskan untuk menginap barang semalam disana.

Kembali ke Moker
Sesampainya disana, kami dijamu dengan hangat dan dengan yang hangat-hangat. Mantap. Singgahnya kami ke Mojokerto ternyata membawa banyak kemudahan. Ustadz Agus yang malam itu sedang dalam perjalanan ke Surabaya meminta saya dan Mas Amin untuk kembali ke Surabaya, untuk menemui beliau disana. Bertepatan dengan itu, salah seorang ustadz meminta saya untuk melakukan sesuatu lagi di Surabaya.

Akhirnya, saya dan mas Amin bersepakat untuk berangkat lagi di keesokan harinya. Coba saja kemarin kami bablas hingga Jember, pasti tak akan mudah bagi kami untuk segera kembali ke Surabaya di keesokan harinya.

Seusai sarapan, kami diantar ke stasiun terdekat, tanpa mengetahui jadwal kereta. Ternyata, sampainya kita disana pas sekali dengan kereta yang akan berangkat ke Sidoarjo. Alhamdulillaah.

bersama Fawwaz
Nah... Mumpung di Sidoarjo, kami sempatkan untuk mengunjungi kediaman Fawwaz Hafidz Indonesia Cilik yang masyaaAllaah. Biografinya bisa dilihat di internet. Namun kami tak bisa Berlama-lama disana, karena selain waktu kami terbatas, Fawwaz juga harus segera ke bandara jam 11 untuk syuting di RCTI. Ibunda Fawwaz lantas memberi kami cindera mata yang sangaaat berharga, yaitu At Tibyan fii Mutasyaabihaatil Qur'an. Beliau juga menawarkan pada kami untuk menambah uang transport kami, namun kami berusaha untuk menolaknya karena sungkan sekali. Akhirnya beliau menggantinya dengan memberi kami masing-masing sebungkus coklat. Tak mungkinlah bagi kami untuk menolaknya kali ini. Jarang-jarang makan coklat sih...

Sebelum menuju ketempat ustadz Agus di Surabaya, kami terlebih dahulu mampir ke rumah teman mas Amin yang ia kenal waktu umroh beberapa saat yang lalu. Ternyata temannya adalah seorang ibu-ibu. Berkah silaturrahmi kali ini adalah, kami dijamu dengan Siomay Tuna. Beliau juga menawarkan untuk mengantarkan kami ke Halte Trans setelah kami berdiri untuk undur diri.

Kami mengorder go-car untuk menuju tempat Ustadz Agus setelah kami turun dari bus Trans Sidoarjo di Bungurasih. Disana, beliau menyampaikan banyak hal yang intinya adalah, "untuk saat ini, cukup antum berdua yang tau", tutur beliau. Kami juga tak bisa berlama-lama disana karena saya harus melakukan satu hal lagi sebelum pulang, sedangkan kereta berangkat pukul 16.15. Akhirnya kami pamit saat azan ashar berkumandang.

Saya dan mas Amin kembali mengorder go-car. Namun mas Amin turun di Stasiun Gubeng untuk memesankan tiket, sedangkan saya lanjut ke suatu tempat untuk menjalankan misi. Setelah selesai dengan urusan saya, saya mengorder gojek tanpa order karena benar-benar mengejar waktu. Driver gojek memakluminya dan kami langsung berangkat menuju Stasiun Gubeng Baru. Awalnya, kesepakatan kami adalah saya harus membayar hampir 2x lipat dari harga order. Namun akhirnya ia malah meminta seadanya saja kepada saya setelah kami sampai tujuan. Hahaha.

Akhirnya, kami pulang :)

"Sebentar, kamu gak mandi ya bro? kok nggak ada keterangan-keterangan kamu mandi sih di tulisan diatas?"

Ya masak saya harus menuliskan sedetail mungkin dari berapa kali saya berak, berapa menit sekali saya membuang mucus, berapa kali saya memaki harga asus ROG yang tak mampu terbeli dengan uang tabungan kaleng saya, berapa jumlah 6x4, berapa persen kemungkinan dadu menunjukkan angka 3 jika ia dikocok 12 ribu kali, berapa jumlah lubang ditubuh spongebob dan lain lain.

Kata Al-Qur'an, jangan banyak tanya hal gak penting. Jangan tanyakan apa-apa yang  bisa jadi malah menyusahkanmu jika hal tersebut dijelaskan padamu.

"Jadi mandi itu nggak penting bro?"

Bukan begituuu. Aaarrgh, sudahlah saya mau istirahat dulu. Ada sesuatu yang sedang menanti saya untuk saya kerjakan.

"Mengerjakan apa bro?"

Hmm, baru aja dijelaskan, ndak usah banyak tanya!

"Berarti yang kamu kerjakan itu nggak penting ya?"

Duh. Mboh


*Ditulis diperjalanan menggunakan laptop pinjaman Moker dan samsung J3..

Tuesday, February 20, 2018

Jadi, Siapa Yang Sebenarnya Buta?

3


Bacalah hingga akhir dan petiklah sesuatu :)


Mas Nauval dan saya

"Halo, Mas! masih ingat saya kah?", seru saya sambil menyerobot tangannya untuk bersalaman.

"Syafiq ya?", ujarnya agak ragu, karena ia hanya mengandalkan telinga untuk mengenali saya.

"Haha, mantap!"

Jadi, tadi siang di Masjid Al-Falah, saya bertemu dengan teman yang cukup istimewa. Ia sedang menyediri di pojok kanan masjid. Saya lantas mendekat padanya yang sedang asyik membaca Al-Qur'an juz 11. 

"Kok kamu tau?"

Haha, kan ada tulisan Juz 11 yang terpampang jelas di sampul Al-Qur'an Braillenya, ya jelas lah saya tau :p

Lama tak jumpa, saya langsung saja "mengenakkan diri" untuk mengganggunya mengaji. Mengobrollah kami lepas-lepas dengan berbahasa Indonesia dan Jawa. Sesekali berbahasa Madura. 

Kami awalnya bertemu saat saya menonton Festival Al-Qur'an yang diselenggarakan hampir satu bulan penuh di masjid Roudhatul Muchlisin Jember pada Ramadhan tahun lalu. Perjumpaan yang amat berkesan. Ternyata ia adalah salah satu peserta seleksi lomba 10 Juz. Walaupun akhirnya ia tak lolos seleksi, namun itu sudah amatlah luar biasa jika mengingat keterbatasannya dalam melihat. 

Yap, ia seorang tuna netra. 

Soal yang diujikan padanya saat seleksi adalah ayat dari Juz 10. Sedangkan ketika menjelang seleksi, ia tak tak sempat memuraja'ah Juz 10 hingga tuntas karena saya ajak mengobrol. Padahal Al-Qur'an braille Juz 10 sudah ia genggam di pelukannya.

Saya benar-benar menyesal saat menontonnya tak bisa melanjutkan ayat. 

Huh. Apa gara-gara saya ya?  

Eh, tapi beberapa waktu lalu ia sempat menjadi wakil dari daerah Tapal Kuda di kategori 10 Juz dalam Musabaqoh Hifzhil Qur'an Syaikh Hamad bin Khalid Al-Thani Antar Pesantren se-Indonesia looo. Keren kan?

Ia pernah bercerita jika sebenarnya waktu SD, ia hampir hafal Juz 30 ketika ia masih di Lamongan dalam asuhan ayahnya. Namun kepindahannya ke Lumajang membuat beberapa hal menjadi berubah. Ia tak lagi menemukan lingkungan dan kondisi yang cocok untuk menghafalkan Al-Qur'an. Hingga ia tak lagi mengingat apa yang pernah dia hafalkan sebelumnya. 

Pertemuannya dengan pak Rahman di kemudian hari mengubah banyak hal. Ia mulai belajar  cara membaca huruf hijaiyah dalam braille, hingga kemudian takdir baik demi takdir baik menuntunnya menyelesaikan hafalan Al-Quran 30 Juz pada Februari 2017 lalu dalam asuhan Ustadz Wahid di Ponpes Al Khaliq. Allaahu Akbar!

"Seneng opo ora, Mas... pas ngekhatamke Qur'an?", selidik saya.

"Hehe... seneng piye. Ajur apalane, Mat!", candanya. Lepas-lepas kami tertawa.

Terlalu asyik mengobrol dengannya membuat saya terlambat kuliah dan tak diperkenankan untuk mengisi tanda kehadiran pada absen mahasiswa.

Yowis aku rapopo.



Pak Rahman dan saya

Oh iya. Ngomong-ngomong tentang pak Rahman, kebetulan saya juga pernah bertemu dan berbincang-bincang dengan beliau pada gerimis kamis beberapa bulan lalu. 

Asyik sekali berbincang-bincang dengan pak Rahman. Beliau begitu rendah hati dan penuh dengan humor yang sehat. Ohya, beliau adalah Ketua dari ITMI (Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia) Jember. 

Yap. Beliau juga seorang tunanetra.

Jika anda sudah lama berinteraksi dengan Ibnu Katsir Jember, mungkin anda ingat bahwa dulu ada Buletin yang diterbitkan Ibnu Katsir sebelum kemudian sekarang berganti menjadi Majalah Quran.

Dan beliau, adalah salah satu wartawan sekaligus nafas dari Buletin tersebut!


Tentu saja, anda sudah tau penggawean dari wartawan kan? Bayangkan jika itu dilakukan oleh seorang tuna netra. Datang kemana-mana, cari berita, wawancara, dan banyak hal lainnya. Keren kan?



Saya dan Wahab
Ohya (lagi). Ngomong-ngomong tentang Festival Alquran, ada juga yang membuat saya terkesan.  

Yang berbaju putih hitam (yang lebih kecil badannya) bernama Abdul Wahab. Sebagaimana dengan mas Nauval, Wahab adalah seorang tuna Netra yang hafal 10 juz (dan mungkin lebih) dengan lancar, terbukti dengan jadinya ia sebagai salah satu jawara di Festival AlQuran Ramadhan lalu. Ya, saya menontonnya dari awal ia masuk seleksi hingga final berakhir.

Ah, Suaranya begitu merdu, bacaannya mendayu-dayu. Saya sempat bercengkrama dengan keluarganya. ternyata, Wahab pernah "ditolak" disekolahnya yang dulu karena ia terindikasi sebagai anak yang (mohon maaf) idiot. Namun dalam asuhan Ustadz Imam Baghowi di Pesantren Yasinat, Wahab tumbuh menjadi putra yang membanggakan, baik didunia dan semoga juga kelak diakhirat.

Sedangkan sebelahnya adalah hamba yang tak pandai bersyukur. Berpenglihatan sempurna namun hafalan surat An Naas - Ad Dhuha saja nggak lancar lancar. Bahkan baca surat Al Kafirun saja masih sering kebalik balik. Mbulet.

Allahummarhamnaa bil qur'an...





Mripat wuto ra keno nggo moco. Kurang lebih begitu katanya. 

Eh tapi mereka bertiga bisa membaca. Tak hanya baca Al-Qur'an, Mas Nauval juga bisa mengoperasikan FB dan WA-an. Apalagi pak Rahman yang wartawan?

Langsung saja...

Dan kita, berapa banyak kita baca Alquran dan yang lainnya (buku, bukan chattingan) dalam hari-hati kita?

Jadi, siapa sebenarnya yang buta? Mereka atau kita?

Eh maaf.

Jadi, siapa sebenarnya yang buta? Mereka atau saya?


Monday, February 12, 2018

Rindu Dalam Al-Qur'an, Rindu Orang-Orang Pilihan. Bukan Dilan

9


Kita mulai dari Dilan dan kutipan rindunya yang "katanya" menyebabkan senyum pembaca dan penonton filmnya jadi terkembang sendiri.

Rindu itu berat. Kau  tak akan kuat. Biar aku saja

Begitulah katanya. Sebenarnya, saya tak begitu kaget, apalagi terpesona saat membaca kutipan tersebut. Ya, saya membaca, bukan menonton. Yang saya baca pun bukan novelnya, tapi yang sudah berbentuk gambar-gambar kutipan. Gambar-gambar kutipan itupun ada yang mengirimkan.

Jika ada yang menemukan saya pernah membicarakan kutipan tersebut dengan nada terpesona, ketahuilah bahwasanya saat itu saya hanya sedang berusaha untuk menghargai keterpesonaan anda.

Rindu itu berat. Kau  tak akan kuat. Biar aku saja

Tak hanya berat, bahkan dalam beberapa kondisi, rindu juga berdaya celaka. Melukai, mencelakakan diri.

Rindu itu berat. Kau  tak akan kuat. Biar aku saja

Ini kisah rindu dari seorang tua yang mungkin sudah berpuluh tahun tak bersua dengan buah hati yang ia panggil dengan sebutan yaa Bunayya. Rindunya bermula puluhan tahun silam, kala koyak baju "Bunayya"  didatangkan padanya. Koyak baju yang berlumur darah dusta.

"Serigala memakannya", sesal saudara-saudaranya. "Meskipun yang kami katakan kebenaran, kami tahu, Ayah, dikau tak akan percaya", tambah mereka. Dibandingkan dengan darah dusta yang berlumur pada baju sisa koyakan srigala, bibir bersih mereka jauh lebih dusta. Hina.

Bagi seseorang tua tersebut, rindu itu, kelak akan menjadi sebab duka cita, hingga memutihnya bola mata dan menghilang penglihatannya.

Betapa lara renjana Ya'qub alaihissalam pada "bunayya"nya, Yusuf alaihissalam.

Rindu itu berat. Kau  tak akan kuat. Biar aku saja

Bahkan, tak butuh waktu lama bagi rindu untuk membuat pengidapnya hampir-hampir celaka.

Rasa takut dan was-was menguasainya. Bala tentara yang ditugaskan untuk mengeksekusi setiap kepala bayi laki-laki sudah terasa mendekat, sedang ia tak tahu harus berbuat apa.

Ia memutuskan untuk mengikuti suara yang berdesir, entah di hati atau dikepalanya untuk menyusui bayi tersebut. (ada hikmah menakjubkan di bagian ini, akan panjang jika ditulis disini. Hubungi saja saya jika ingin tahu. Santai, ndak ada modus  :) )

Akhirnya, ia hanyutkan bayi itu disungai setelah ia ikuti lagi suara yang sebenarnya adalah ilham dari Rabbnya.

Jika Ya'ub AS mampu menahan rindu begitu lama, kali ini berbeda. Ibu yang terilhami ini tak mampu menahan rindu, padahal baru berpisah beberapa kejap mata.

Dikisahkan, betapa kemudian kalbunya menghampa. Hampir-hampir pula ia membocorkan rahasia mengenai bayi yang barusaja ia hanyutkan karena begitu khawatirnya ia dengan keselamatan putranya. Namun Rabbnya lagi-lagi memberikan ilham berupa penguatan hati. Andai ia jadi berteriak, bala tentara justru akan menemukan dan membunuh putranya, Musa alaihissalam.

Tak hanya mencelakai diri, bisa jadi rindu juga mencelakai apa-apa yang kita rindu.

Rindu itu berat. Kau  tak akan kuat. Biar aku saja

"Ya Allah pedihkanlah sakaratul mautku dan ringankan untuk ummatku", pinta Rasulullaah Shalallallaahu alaihi wa sallam saat ajalnya datang.

Ah. Betapa menyakitkannya, rindu-rindu yang dirasakan orang orang pilihan.

Apa rindu memang harus diramu dari temu? Dan jika memang rindu hanya bisa tercipta seba'da temu, lantas dengan apa harus kami namai buncah haru yang kian memburu padamu, duhai Rasul yang menganggap dirinya hanyalah perwujudan sepotong doa Ibrahim alaihissalam beribu tahun lalu?