Showing posts with label corat-coret. Show all posts
Showing posts with label corat-coret. Show all posts

Saturday, December 08, 2018

Membela Jokowi!

8


Ah, sebenarnya saya sudah berkomitmen untuk tak menulis konten blog dalam beberapa bulan kedepan. Tapi, masalah ini benar-benar penting dan harus saya tuliskan segera. Tak apalah, biar saya ceraikan dulu komitmennya sementara. Semoga nanti ia mau menerima kembali saat saya hendak mengajaknya rujuk lagi.

Haha

Entah kenapa, hampir dimanapun posisi dan keadaannya, pak Jokowi selalu saja menampilkan perbuatan dan mengeluarkan perkataan yang bully-able (mengakibatkan beliau diejek-ejek).

Nglakuin ini, dibully. Nglakuin itu, dibully. Heran saya. 

Lha kok rasa-rasanya kasihan ya beliau itu. Susah-susah  dan mahal-mahal jadi Presiden, eh malah jadi bahan bully-an. Mending jadi semen aja kalau gitu pak, bisa jadi bahan bangunan. Jadi terasi juga boleh, bisa jadi bahan sambel. Atau jadilah jurnal pak, sebagai bahan referensi pengerjaan proposal saya yang entahlah. Hiks hiks.

Padahal, disetiap perilaku dan perkataan beliau, ada makna lain yang bisa didapatkan oleh orang yang mau berbaik sangka. Cukup berbqik sangka, tak perlu memakai  teori hermeneutika dan aplikasi semantik Toshiko Itsuzu. Cukup dengan berbaik sangka saja. 

Mari, perkenankan saya mengajak njenengan-njenengan untuk sedikit merenungkan hal-hal dari beliau yang kemudian menjadi bahan bully-an.

1. Nyanyi lagu Sabyan

Akhir-akhir ini, video beliau menyanyikan lagu Deen As Salam menjadi viral.

Aptahiyah, wapsalam… ansaru ahlalkalam... jainuddin najiro... Kurang lebih, begitulah beliau berdendang.

Lha itu cuma nyanyi lagu dengan lirik salah lo bro. Lah ternyata malah menjadi bahan ejekan disana-sini. Ada yang bilang gak pantes lah, gak fasih lah, ngawur lah…

Swantay bro. Tarik nafas dulu.

Begini bro, nyanyi lagu dengan lirik yang salah itu dosa gak? Enggak kan sepertinya? Okelah, andai anda mengatakan itu dosa, lebih dosa mana dengan saat kita membaca Alquran tapi dengan salah-salah dan tak mau bersungguh-sungguh belajar memperbaikinya? Yang ada malah sibuk ngejek-ngejek pak Jokowi yang cuma salah ngucap lirik lagu. Padahal Alquran itu, salah ucap huruf sedikit saja, artinya bisa jauh berbeda.

Saya berkata demikian bukan karena bacaan Alquran saya baik. Bacaan Alquran saya juga buruk, hanyasaja saya tak “memperburuknya” dengan mengejek-ngejek seseorang hanya karena salah ucap lirik lagu!

2. Al-fateka

Masih ingat bagaimana kemudian pak Jokowi dihujat habis-habisan hanya karena kurang fasih menyebut Al-Faatihah?

Ummm, saya tak akan berkomentar, cukup kita lihat diri kita sendiri dulu.

Bagaimana kita saat menyebut Ali ‘Imron? Itu ‘Imronnya pakai ع lo. Tapi sepertinya, seringkali saya menyebutnya menggunakan Alif hamzah kasroh ( إ ). Ad Dhuha itu memakai ض (Dlod) lo. Tapi saya seringkali menggunakan د (dal) saat menyebut nama suratnya. Yaasin juga begitu. Sepertinya saya juga tak pernah menyebut surat yaasin dengan sebetul-betul ucapan; Yaasiiiiiin. Dan masih banyak lagi.

Eh tapi itu saya lo, kalau anda-anda sih, saya yakin insyaaAllah sudah fasih membaca Alquran, bahkan hingga ke pengucapan nama-nama suratnya.



Oyaaa. Yang biasa nyebut An-Naas, al-falaq dan Al ikhlas dengan sebutan triqul, ayo ngacung!! Wkwk

3. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah

Ah ini juga, di salah satu pidatonya, sepertinya pak Jokowi “lidahnya keplecuk”. Seharusnya, beliau mengucapkan Laa haula wa laa quwwata illaa billaah, tapi yang terdengar malah “laa kalau kalau kata ila billah”.

Saya ingin bercerita sedikit mengenai ini. Umm, lidah keplecuk (kepleset) saat berbicara itu biasa bro. Apalagi saat di panggung. Pernah suatu saat, ada seorang ustadz yang khotbah jumat. Saat berdoa, sepertinya lidah beliau keplecuk, dari yang harusnya berkata اجتنابه menjadi اتباعه . Yang seharusnya doa tersebut artinya kurang lebih “berikanlah kami kemampuan untuk menjauhinya (menjauhi kebatilan)” malah menjadi “berikanlah kami kemampuan untuk mengikutinya (mengikuti kebatilan)”. Ya jelas itu fatal banget, lha bagaimana tidak fatal lhawong diaminkan orang se-masjid yang melek. Sedangkan yang ngantuk hingga kesirep-sirep cuma ngangguk-ngangguk doang, ya ngangguk-ngangguknya itu karena ngantuk. 

Terpeleset itu biasa. Tapi jangan membiasakan diri untuk terpeleset, apalagi mempelesetkan diri. 

Lagian bapak Jokowi itu cocoknya main pencitraan, bukan main plesetan

4. Memilih cawapres

Banyak yang menduga bahwa salah satu alasan beliau memilih cawapres adalah untuk merangkul hati umat muslim yang “tersakiti” oleh kebijakan-kebijakan rezim beliau.

Terlepas dari apapun alasan beliau, coba kita saya lihat dari sudut pandang yang lain.

Pak Jokowi mendekati ulama besar. Sedang kita saya? Coba kita saya bermuhasabah, siapa yang lebih sering kita saya dekati? Jangankan ulama. Jangan-jangan Kita saya malah sibuk dengan mendekati dia yang kita saya sangka adalah “tulang rusuk” dari pada mendekati ia yang surga berada di telapak kakinya!


Astaghfirullah

Namun, alangkah indahnya jika dipilihnya KH. Ma’ruf Amin sebagai cawapres ternyata adalah agar pak Jokowi bisa menyetorkan hafalan Alqurannya pada Kyai Ma'ruf seba’da shubuh sekaligus tahsin Alquran hingga syuruq, lalu belajar nahwu shorof di sore harinya setelah seharian penuh mengurus negara dan perekonomian umat, lalu ngaji sorogan tiap ba’da isya.

Andaikan benar begitu, anu pak. Ngaji fathul Izar dan qurotul uyun sepertinya asyik kalau sudah menikah. Karenaaa… bisa langsung dipraktekkan sepulang dari mempelajarinya. Haha. Kalau belum nikah mah, cuma bisa ngaplo sembari cemas-cemas berharap suatu saat akan ada jodoh berparas-prilaku manis nan sholih/ah yang sudi membersamai hingga akhir hayat nanti.

Kedekatan yang beliau bangun dengan kyai juga bisa membuat beliau dengan mudah mendengar kajian tauhid, siroh, fiqh, tafsir, dan adab di tiap akhir pekannya secara langsung dari KH. Ma’ruf Amin dan kyai-kyai besar lainnya. Enak pak. Semakin bapak paham mengenai agama, berarti itu tanda Allah menghendaki bapak jadi orang yang baik.

5. Tak dikenal rakyat sendiri

Jargon merakyat yang lekat pada diri beliau tak lantas membuat beliau dikenal oleh rakyatnya sendiri. Di salah satu video, ada bapak-bapak yang maju ke panggung Jokowi. Ia lalu mendapatkan pertanyaan dari Jokowi, "siapa nama saya?". Bapak tersebut menjawab "tidak tahu" (dalam bahasa madura). Sontak, penonton tergelak.

Umm, pernah tau cerita mengenai pengemis yahudi tua yang kemudian begitu menyesal saat ia baru tahu bahwa selama ini yang menyuapinya makan dengan kelembutan adalah Rasulullah SAW yang senantiasa ia hina? ia baru mengetahuinya setelah Rasulullah SAW wafat dan digantikan oleh Abu Bakar RA yang kemudian menceritakan pada pengemis tersebut mengenai siapa yang biasa menyuapinya.

Atau kisah mengenai seorang ibu yang berkata didepan Khalifah Umar bin Khattab yang baru saja membantunya, "Andai saja Khalifah Umar bin Khattab seperti dirimu!", tanpa mengetahui bahwa yang membantunya sedari tadi adalah Umar?

Umm, bisa jadi Jokowi tak terkenal di bumi, namun begitu terkenal di langit

Namun entah, terkenal karena apanya dan terkenal bagaimana. Semoga itu hal yang baik.

6. Sudahlah stop
 
Kalau dilanjutkan, kesannya malah gimanaa gitu. Seakan-akan kesalahan-kesalahan pak Jokowi itu banyak sekali. Padahal. Padahal, nggak baik lo mencari-cari kesalahan orang itu. Adapun kesalahan-kesalahan diatas itu saya sebutkan untuk membela beliau dan untuk kita renungkan. Sedangkan kesalahan-kesalahan beliau lainnya, tentu saja saya akan kesulitan, atau bahkan tidak akan bisa mencari pembelaannya.

Sudahlah, berdoalah agar beliau selalu dilimpahi kebaikan kebaikan, yaitu agar beliau dapat menyelesaikan jabatannya dengan baik, dan agar beliau mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik. 

Salam 2 jari, pak!

*Sekedar pengumuman, domain blog ini akan habis. Mungkin Januari atau awal Februari 2019, mustofacoo.com tak lagi bisa diakses jika saya tak memperpanjangnya. Doakan supaya ada rezeki ya :)




Thursday, April 12, 2018

Jalan Cinta

2




"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana" ~Sapardi Djoko Damono
Jalan mencinta kita, tidaklah sama. Seperti halnya Sapardi yang memilih untuk mencintai dengan sederhana, "dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada", lanjut Sapardi dalam selirih puisinya, puisi yang sepertinya sering kita kutip tanpa menyertakan sumber aslinya.

Jalan mencinta kita, tentu saja berbeda-beda. Dan, ada jalan mencinta yang diisyaratkan begitu indah dalam beberapa kisah. Jalan mencinta itu adalah... Berlama-lama.

"Ini adalah tongkatku", jawab Musa alaihissalam, kala ia bertelanjang kaki di Lembah Thuwa dan Allah SWT bertanya mengenai benda yang sedang digenggam tangan kanannya.


"Aku bertumpu padanya", lanjutnya. 

Tak hanya berhenti disitu, ia mencari-cari jawaban agar bisa lebih berlama-lama dengan-Nya, "Dan aku merontokkan dedaunan dengan tongkat itu untuk makanan kambingku". Musa as menambah-nambahi jawaban untuk hal yang tak Allah SWT tanyakan.


Sungguh, Musa as ingin menambahkan jawaban lagi, namun kekakuan lidahnya membuat ia tak bisa mengucapkan satu persatu hal yang terlintas dipikirannya.



"Dan bagiku masih ada manfaat yang lain", ujar Musa as yang masih tak ingin menyelesaikan pembicaraan. 

3 jawaban ditambah 1 jawaban yang meringkas banyak jawaban untuk sebuah pertanyaan sederhana, "apa yang ada di tangan kananmu, wahai Musa?". 

Ada isyarat dalam ayat ini, bahwasanya Musa 'alaihissalam hanya ingin berlama-lama bercakap-cakap dengan Rabbnya.


Tak hanya milik Musa alaihissalam. Terkisah pula bahwasanya berlama-lama adalah jalan yang juga ditempuh oleh Al Musthofa ﷺ.



"Hingga aku berkeinginan untuk melakukan hal buruk. Aku ingin duduk dan meninggalkan Nabi ﷺ", keluh Ibnu Mas'ud, saat ia sholat bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu malam.

Betapa Rasul ﷺ berlama-lama berdiri saat sholat tahajjud, hingga salah seorang dari 4 orang yang Rasul ﷺ sarankan pada muslimin untuk belajar Al-Quran pada mereka, Ibnu Mas'ud, berniat meninggalkan beliau.



Pun dengan Nuh alaihissalam yang begitu tahan berlama-lama, berdakwah ratusan tahun lamanya. Berdakwah siang malam, baik secara terang-terangan maupun diam-diam, baik menggunakan bahasa yang lembut hingga doa-doa yang mengancam.

Bagaimana dengan kita? apa jalan kita mencinta-Nya juga sama dengan mereka? berlama-lama?


Barangkali, berlama-lama menonton drama korea, bermain Playstation dan lain-lain juga merupakan cara seseorang untuk mencinta-Nya...


"Haish, bagaimana sih. Ngawur kamu. Mana mungkin mereka-mereka yang menghabiskan waktu dengan hal-hal yang madharatnya jauh lebih banyak dari manfaatnya itu dikatakan sedang melakukan sesuatu untuk mencint-Nya?"


Isik talah, jangan motong pembicaraan. Barangkali mereka memang berlama-lama, namun berlama-lamanya mereka itu membuat mereka bosan, sehingga mereka meninggalkan perbuatan tersebut, bertaubat pada Allah dan tidak mengulanginya lagi, lalu mulai melakukan sesuatu yang jauh lebih bermanfaat dari yang pernah mereka kerjakan, bahkan mungkin jauh lebih bermanfaat dari yang kamu kerjakan.


Mari belajar untuk senantiasa berhusnudzan, kawan :) . Mari perbaiki cara pandang kita dalam menyikapi segala sesuatu, karena bisa jadi apa yang tampak buruk dimata kita, justru menggetarkan arsy dan menuai pujian dari malaikat-malaikat nun mulia. Sedangkan pandangan buruk kita yang merasa lebih baik dari mereka, justru malah menjadi jangkar terlempar di dasar neraka yang membelenggu kita. Na'uudzubillah min dzaalik


Wallaahu a'lam :)

*tulisan warna biru diatas ditulis bukan karena baper akibat laptop dan stick pernah disita. Serius. Haha. Btw tulisan warna birunya bisa di klik loh :)

*edisi mengedit dan reupload tulisan yang pernah saya upload, tapi bukan di blog ini.




Wednesday, March 07, 2018

Sang Waktu 4 (Tamat)

19


“Kamu manis”

“Aku tau”, sahut Alya sembari memalingkan muka. Terkembang rindang senyum di wajah yang rona. Teduh sekali memandangnya.

Lalu kami terdiam cukup lama. Merasa belum mendapat jawaban yang pas, kuulangi pertanyaanku pada Alya, kali ini dengan kalimat yang lebih lengkap.

“Eh, Jus Alpukat yang kamu pesan itu mau dibikin manis atau enggak?”

Alya menolehkan raut wajah yang bingung. Aku turut bingung saat melihat kebingungannya.

“Hah?! Jadi tadi itu pertanyaan? Bukan pernyataan?”, jawab Alya setelah terdiam agak lama seraya memicingkan mata.

“Kamu GR?”, aku mulai memahami situasi tadi. Ku eja huruf W dan K tiga kali. “Wkwkwk”

“Ih nyebelin!!!”

“Haha”

Aku buru-buru berlari kembali ke lapak penjual jus buah, menjauh darinya yang sudah bersiap-siap melemparkan botol air mineral kosong kearahku. Tetap saja ku berlari sekalipun aku  tau ia tak akan tega melemparkannya.

Semut yang menggigitmu saja tak kau lukai, apalagi aku yang kau cintai?

***

“Kamu manis”

Alya diam saja. Kali ini tak ada senyum maupun tawa. Namun terlihat jelas mukanya mulai memerah tersepuh rona.

“Hey?”, aku menjentikkan jari dua kali didepannya.

“Mau bikin jebakan kata-kata apa lagi?”, seloroh Alya seraya melempar selirik mata.

“Jebakan kata-kata? Maksudnya apa, Al?”

“Itu lho, sepertiyang dikantin beberapa minggu lalu. Jus buah. Ingat?”

Aku tertawa kecil, sambil berpura-pura mencari sesuatu disekililing Alya. Sepertinya 
aman, aku tak menemukan apa-apa. Kulanjutkan tawa dengan sedikit garukan dikepala

“Kamu nyari apa?”, heran ALya

“Nyari apapun yang sekiranya bisa kamu lemparkan ke aku, dan sepertinya aman. Karena ini akan jadi jebakan kata-kata lagi hahaha”

Alya mencopot sepatunya, berencana melemparnya

Aku buru-buru berlari dahulu.

“Dasar sensitif!”, teriakku dari kejauhan. Dan ia benar-benar melemparkan sepatunya. Tentu saja lemparannya tak mencapai diriku. Lhawong dia cuma melempar ke bawah, membantingnya.

Andai kau minta, aku mau kok berdiri didekatmu dan diam saja, agar kau dapat melemparku sekeras-kerasnya. Asal baju ini kau yang mencuci, Al.

***

“Hai maniiis!!!”, teriakku dari kejauhan sambil melambaikan tangan. Puluhan pasang mata memandangku. Sepertinya semuanya memandang dengan terheran, kecuali sepasang mata milik seseorang diantara mereka yang malah memalingkan muka, bersembunyi, menahan sipu sendiri. Sialnya, mereka sepertinya menyadari jika aku meneriakkannya pada seseorang diantara mereka yang sekarang tengah tersipu.

Mereka juga memandang heran padanya. Ia semakin tersipu.

Sadar bahwa ia menjadi pusat perhatian,aku langsung melakukan rolling maju mundur tiga kali, kemudian push up 20 kali. Kulanjut dengan memperagakan gerakan kera dengan harapan agar mereka menganggapku orang gila, agar Alya yang tengah tersipu tak terlalu malu. Kuperhatikan sejenak, sepertinya keheranan mereka menjadi berlipat-lipat. Syukurlah, setidaknya itu tak ditujukan pada Alya. 

Sedang Alya--pemilik sepasang mata yang tadi menahan sipu--kini mulai menahan tawa.

Tak ingin mengganggu pelatihan handcraft yang dibimbing Alya di gazebo kayu halaman sekolah, aku berlalu dengan lega setelah membuatnya tertawa.

Jika dengan berpura-pura giladan dianggap gila dapat membuatmu bahagia, aku mau melakukannya tiap hari untukmu, Al.

***

“Sok manis”, aku melempar canda

“Maksudnya apa?”

“Ngapain kamu senyum-senyum ke arahku di tengah rapat bersama ibu-ibu tadi?”

“Biar kamu nggak tiba-tiba jadi kera seperti seminggu lalu, Mas”, jawab Alya, tertawa.

“Ups”, pungkasnya sembari menutup bibir dengan tangan kanannya. 2 lesung pipit di masing-masing pipi dan satu lagi disamping bibir kanannya tak ikut tertutup. Aku yang kemudian menutup mata.

Tapi jangan banyak-banyak tersenyum terlebih dahulu padaku, Al. Seperti katamu, terlalu banyak mengkonsumsi gula bisa berbahaya bagi kesehatan. Dan terlalu banyak memandangmu bisa berbahaya bagi akal, Al.

***

Teruntuk yang manis, Alya.

Kepergianku  
Dan 
Dunia tak akan pernah serumit itu, Al 
Matahari akan tetap terbit dari segelas kopi 
Dan tenggelam diantara riuh peluh petani 
Aku hanya melanglang  
Untuk sekedar mencari makna pulang 
dan menyemogakan 
Agar kelak dapat kutemukan  
maknanya pada sepasang mata dan senyummu sekembang  

Semoga kau sempat membaca sepotong puisi yang akan kutempal dijendela kamarmu sebelum kepergianku malam ini. Iya, aku akan tetap pergi sekalipun aku belum siap merindumu.

 ***

"Kamu manis, dik", ujar seorang pria, menggamit lengan Alya, mesra-mesra.

Alya tercekat. Kata 'manis' membuat kenang yang sudah ia simpan rapi dalam kepala menghambur kemana-mana. Alya tak berusaha untuk merapikan atau sekedar memungutinya. ia hanya berharap kenamgan-kenangan tersebut leleh bersamaan dengan air mata yang mulai merinai di pipinya.

"Loh, kok adik nangis? Kita sekarang sedang disorot banyak kamera lho, Dik", tenang lelaki yang sedang menyandingnya di kursi pelaminan, begitu ramah.

"Aku menangis bahagia kok, mas", bohong Alya terbata-bata. Tangannya kirinya menyeka luruh kenang dipipinya. Tangan kanannya tetap tergamit mesra. 

***
....Faktanya, kau tak memberi kabar apa-apa 
Aku tak tahu kapan kau akan pulang 
Aku tak tahu juga apa kau masih menyimpan rasa yang sama 
Dan aku juga tak mungkin menunggumu terlalu lama, Mas 
Maaf... I left, because you never asked me to stay, Mas... 
Tenang saja, aku tak akan menyalahkanmu untuk semua ini. Aku hanya akan menyalahkan diriku yang telah menjadikanmu begitu istimewa di hati.
 

Tulis Alya dalam diarynya seminggu sebelum akad nikahnya, berharap aku membacanya. 

Aku, yang memang tak akan pernah 'kembali' padanya





***************

Akhirnya tamat juga bro. Hahaha, eh kalau merasa bingung, mohon dibaca semua seri-nya ya? Ini dia...

Sang Waktu

Sang Waktu 2

Sang Waktu 3 

Dan sepertinya, saya kurang bisa menulis cerpen. Tapi kalau misalkan masih ada yang berkenan membaca cerpen2 ecek ecek yang ndak mendidik dan ndak berkualitas seperti diatas, bilang ya? hehe. Bisa japri, bisa lewat komentar.