Tuesday, June 26, 2018

Urusan Perempuan!

6


Saya masih duduk bersandar pada pintu lemari. Pejam mata dan pernafasan khusus yang saya lakukan sejak beberapa menit yang lalu belum berhasil mengusir rasa capek dari tubuh ini. Sepertinya, tidur memang menjadi satu satunya pilihan untuk memulihkan tenaga. Sebenarnya itu bukan satu-satunya pilihan sih. Ada pilihan untuk pijat dan minum degan tanpa gula dan es, lalu tidur sembari berharap agar sebangunnya, tubuh menjadi fresh. 

Tapi itu pilihan yang mahal. 

Saya harus banyak-banyak menghemat uang agar segera bisa menservis motor yang kemarin ditertawakan oleh ponakan saya karena kondisinya yang menyedihkan.  Andai ditertawakan oleh penggiat racing atau orang yang mengerti permesinan dan tau cara ngganti kabulator sih tak mengapa. Lah ini yang nertawain masih krucil. Bahkan saya tak yakin kalau yang nertawain itu bisa cebok sendiri atau tidak.

Belum sempat berbaring, ada yang tiba-tiba datang dan duduk di samping saya, lalu bercerita tanpa basa-basi. Apes. 

Namun sebagai seorang pendengar yang baik nan setia, tak mungkinlah saya untuk tak menyediakan waktu dan segenap hati untuknya. Di ujung ceritanya, ia meminta sepetik dua petik nasihat dari saya. 

Saya tertawa kaget. Gimana ya, semacam, "haaaah??" lalu disambung dengan "ahahaha". 

Hahaha

Tentu saja, sebelum tertawa saya harus men-switch tubuh saya dari mode battery saver ke mode regular. Karena jika tetap dalam mode battery saver, ia hanya akan mendapati senyum tipis dengan mata yang tetap terpejam sebagai ekspresi kekagetan saya. 

Dan ekspresi itu sepertinya bukan ekspresi kaget sama sekali.

Jadi, dia menceritakan mengenai beberapa teman lain jenis yang dekat dengannya. Baik yang ia dekati maupun mendekatinya. Saya memakai frasa 'yang ia dekati' karena ia memang sedikit memancing-mancing yang mendekatinya, sampai baper. Tau baper? Jika tak tau, cobalah tak makan dua hari dua malam. InsyaaAllah, anda akan baper. "Hungry", begitulah orang Patrang menyebutnya.

Nah, lalu ia meminta nasehat dari saya, harus bagaimanakah ia bersikap terhadap hal ini. Hahaha. Lucu. Eh miris, ding. Karena sejujurnya, yang dimintai nasehat tak lebih baik daripada yang meminta nasehat, dan belum bisa sehebat dia yang bisa menimbulkan kebaperan. Saya takutnya jatuh pada apa yang Allah sebut dalam surat As Shaff ayat 2. Kaburo maqtan 'indallaah. "Berat! About!", Begitulah orang Inggris menyebutnya.

Ia meminta nasehat pada saya, orang yang bahkan interaksinya dengan perempuan-perempuan itu... Entahlah, harus bagaimana saya menyebutnya. Karena, jika saya ngat-ingat, interaksi saya dengan perempuan ituuuu... Begini. Coba saya uraikan satu persatu.

  • Nabila. Jangankan orangnya. Lha wong  cara bicaranya saja sudah imut sekali. Hampir tiap bertemu ia akan lari pada saya, menubruk lalu memeluk saya. Beberapa kali pula ia men-sun saya. Kalau sebaliknya malah sering. Haha

  • Gazi. Tiap lihat saya duduk, ia biasanya langsung saja duduk pangkuan saya tanpa izin terlebih dahulu. Lalu mulai menceritakan banyak hal-hal yang menarik baginya.

  • Izzi. Akhir-akhir ini, si Izzi malah suka sekali nggigit-nggigit saya. Tadi saja saya dikejar, lalu dipegangi, lalu mulailah ia menggigit saya. Agak sakit sih. Tapi saya kan orang baik. Jadi saya biarkan ia menggigit sekuatnya, sampai dilepas lepas sendiri.

  • Rina. Duh, si manis ini malah sering saya antar jemput.

  • Wardah. Sekalipun cuma mendapatkan senyuman dan kesempatan ngobrol bareng Wardah, itu sudah lebih dari mendapatkan senyuman dan ditinggal Wardah. Haha

  • Hana. Kalau si dia mah sering kali melambaikan tangan dan sun jauh. Tapi bukan cuma ke saya sih haha.

  • Mutia. Kadang si Mutia juga main nyosor aja ke pipi. Perpaduan lesung Pipit dan senyumnya juga manis sekali.


  • Pelangi. Duh duh, Pelangi ini kayak pelangi. Minimal, melihatnya saja sudah bisa membuat tersenyum.

Mau tak sebutin lagi sih, tapi takutnya nanti saya disangka superplayboy. Ah sudahlah.

Saya lantas menyampaikan apa yang pernah ustadz Khoirul sampaikan pada kami, dimana beliau mengutip hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam riwayat Muslim, untuk bertakwa pada Allah dalam urusan perempuan. Saya menyampaikan itu bukan karena saya sudah  bertakwa, namun sebagai nasehat bersama agar saya juga lebih berhati-hati dan bertakwa dalam urusan perempuan.

Ia merenung sebentar. Saya lantas meninggalkannya dan mencari tempat persembunyian sesegera mungkin, agar saya dapat segera beristirahat. Juga agar ia tak dapat mencari saya dalam beberapa saat. 

Capek, ngantuk. "Hoaaam", begitulah orang angop menyebutnya.


اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketaqwaan, keterjagaan, dan kekayaan)”
(HR. Muslim no. 2721, At Tirmidzi no. 3489, Ibnu Majah no. 3105, Ibnu Hibban no. 900 dan yang lainnya)

Saturday, June 23, 2018

Ilmu Mahal, Ilmu Mahal!

4


Alih-alih melepaskan jabatan tangan, beliau malah menarik saya untuk kemudian duduk bersama. 

"Sebentar, pak. Ada yang ingin saya bicarakan."

Untuk kesekian kalinya, panggilan 'pak' dilekatkan di saya. 

"Injih bapak, ada apa ya? Nun Sewu, asmonipun bapak sinten?", Saya menuruti beliau seraya menanyakan nama. Ia menjawab dengan singkat. Nada bicaranya pelan, suaranya bergetar, kata-katanya tersusun rapi. Dandanannya rapi, berbaju serba putih nan wangi. Jika dilihat dari fisiknya, sepertinya ia sudah berumur 50 tahunan keatas. Tapi entahlah, saya yang berusia 21 tahun saja sering dianggap sekitar 27 tahunan. 

"Bapak pengen bikin pesantren apa tidak?", Selidik beliau. Pertanyaan yang sama sekali tak saya duga. Saya hanya memiliki senyum pringisan sebagai jawaban. "Saya punya adik ipar, pak", lanjutnya. Waduh. Pikiran saya jadi kemana-mana. Haha. Lalu saya coba untuk menggiring beliau agar tidak mengarah ke pembicaraan yang itu. Yang itu loh, tau kan? Yang katanya enaknya cuma 5%, sedang 95%nya uwenaaaak? Tau? 

Sudahlah lupakan. Haha.

"Yang Musa bawa itu cuma tongkat biasa, pak. Namun dengan kuasa Allah, ia bisa membelah lautan", beliau mulai berkisah setelah saya sukses menggiringnya keluar dari pembicaraan tadi. Dengan khidmad, satu per satu kalimat beliau saya simak.

"Kalau tongkat biasa saja bisa sedahsyat itu, apalagi Alquran yang merupakan mukjizat?"

Saya manthuk-manthuk 3 kali.  Rupanya pembicaraan ini akan membuat saya mendapatkan banyak sekali ilmu yang mahal.

"Zakaria itu sudah tua. Istrinya pun tak mungkin lagi memberikan keturunan. Tapi apa yang Zakaria minta pada Rabbnya? Ia meminta putra!"

"Terkadang, doa itu juga harus begitu, yang sekiranya ndak masuk akal itu coba saja diminta, lha wong Tuhan itu Maha Kuasa", sambung beliau.

Saya manthuk-manthuk lagi, entah berapa  kali. Duh ya Rabb, permintaan berat saja Engkau kabulkan, lha saya mintanya cuma yang manis, shalihah, mau sama saya, berasal dari keluarga baik-baik dan taat. Sangat mungkin kan, yaa Rabb? 

"Bilal itu awalnya budak hina, pak. Tapi gara-gara dzikir 'ahad-ahad-ahad' nya yang ikhlas, Bilal dimerdekakan, diangkat derajatnya, bahkan diangkat derajatnya dengan menjadi Sahabat dari Al Musthafa shalallahu alaihi wa salam.", Beliau terus saja berkisah, dan saya tetap menjadi pendengar yang setia.

Lama sekali kami berbincang. Lalu datang lagi seseorang yang menghampiri kami.

"Mohon maaf, pak, mas Syafiqnya saya pinjam dulu, mau saya wawancara sebelum pulang ke Jember."

Yang datang itu bernama pak Sukiran. Ia tau jika saya ingin pulang sepagi mungkin. Rencana saya sih ba'da shubuh langsung  berangkat. Namun saya tertahan hingga setengah tujuh karena sedang menimba ilmu mahal dadakan. Makanya ia datang kepada kami, mungkin agar pak To--yang sedang berbincang-bincang dengan saya--segera mengakhiri pembicaraan, karena takmir-takmir masjid hendak pulang, sedangkan saya belum berpamitan pada mereka.

Akhirnya setelah berbincang sejenak dengan pak Sukiran, saya berkeliling masjid untuk menyalami jamaah yang tersisa, dan berkeliling pada takmir untuk berpamitan dan mengucapkan banyak terimakasih atas sambutan dan fasilitas yang nyaman selama 4 hari saya disini.

Pindah tidur ke masjid Al Jihad Situbondo selama 4 hari terakhir Ramadhan ini memberikan banyak sekali pelajaran. Ada juga hal-hal yang membuat diri ini amatlah malu. Terutama ke-bagaimana banyaknya prasangka baik serta sanjungan yang melangit, sedang, tentu saja diri ini lebih tau bagaimana kondisi sebenarnya.

Duhai, andai aib-aib ini tercium baunya, mungkin saya akan menemukan banyak spanduk terpasang dari Jember yang berisikan seruan agar Muhammad Mustofa Syafiq janganlah sampai berangkat ke sana, selamanya. 

اَللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ
“Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari sangkaan mereka, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui tentang diriku, dan janganlah Engkau hukum diriku karena apa yang mereka katakan.”


*Foto diatas adalah H Mursidi, ketua takmir Masjid Al Jihad. Orang yang heran kenapa tak ada yang mau merebut posisinya. Baraakallahu lakum, pak haji.










Saturday, June 16, 2018

Loh, Pondok Kami Sudah Bukan Pondok Wahhabi, Mbah ^_^

10



"Iki sopo? Syafiq? Kene lungguh", saya langsung didudukkan dihapan beliau selepas saya mencium tangan beliau. 

Tanpa basa-basi, saya langsung saja menyergap isi toples kaca yang tersuguh begitu menggoda di meja. 

"Iling-ilingen, Le", ujar Mbah pada saya. Saya menoleh pada beliau yang ternyata tengah menatap saya tajam-tajam. "Mbah buyutmu iku kui!", tegasnya seraya menunjuk poster Walisongo yang terpajang lekat di dinding ruang tamunya. 

"Injih Mbah", saya melirihkan jawaban. 

Ah, saya paham dengan maksud beliau. Sepertinya kabar emprit mengenai ke-wahhabi-an pondok saya juga telah sampai ke beliau. Sebenarnya, kabar tersebut sudahlah usang. Saya juga sudah menulis beberapa poin sanggahan di salah satu artikel saya yang berjudul Pesantrenku Pesantren Wahhabi. Sudah clear, meskipun belum Pantene. Yah maklumlah, kami kan santri,  bukan duta sampo. 

Sepertinya, Mbah saya belum tau jika gelar yang disematkan ke pondok kami sudah berevolusi. Beberapa bulan yang lalu, pengurus sempat bercerita bahwasanya ada yang melemparkan tuduhan dengan mengatakan pondok kami adalah pondok teroris! MaasyaaAllah wkwkwkwk 

Sepengetahuan saya, Teroris adalah pelaku terorisme. Dan menurut Wikipedia, terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Sedangkan teror adalah nama sayuran yg bentuknya seperti timun namun lebih panjang dan berwarna ungu. Biasanya dibuat sambel pecek. Sambel pecek teror.

Saya jadi bingung. Apa kami meneror masyarakat sekitar dengan bunyi-bunyian Hadrah dan  sholawat nabi yang rutin kami lantunkan di malam Jum'at?

Apa kami meneror masyarakat dengan bunyi Al ma'tsurat--dzikir Rasulullah shalallahu alaihi wasallam--yang tak pernah absen kami baca tiap pagi dan petang?

Apa kami meneror masyarakat dengan mengajak anak-anak kecil berlarian? Bermain bola? Menciumi balita-bqlitanya? 


Alllahul musta'an

Entah mengapa, tiap ada kata teroris, langsung terbersit dalam pikiran saya bahwa hal itu berkaitan dengan bom bunuh diri, perakitan senjata, pelatihan ala-ala militer, dan cuci otak tentunya.

Duh

Bom bunuh diri. Ah jangankan mau melakukan aksi bom bunuh diri. Lha disuruh ke pondok putri aja lutut kami sudah lemas. Peluh kami ndrodosi. Debar dada kami meningkat 1.6 kali lipat. Ndredeg Jo. Tapi bukan ndredeg-ndredeg cinta. Ndredeg-ndredeg nya itu karena kami takut tak kuasa menahan pandangan. 

Berat, kadang-kadang kami nggak kuat. Allahummarhamnaa bi tarkil ma'aashy abadaa. 

Ada cerita ndak penting. Saya pernah mengadakan pelatihan bahasa isyarat di pondok putri. Dan sepertinya saya menjadi satu-satunya laki-laki disana (selain driver mobil). Pengurus pondok putri lantas meminta saya mengenakan masker, entah apa tujuannya. Tapi saya bersyukur dengan permintaan beliau. Andai saya tidak memakai masker, pastilah se-pondok putri tau kalau saya ngiler. Mengeluarkan air liur. Soalnya pengen anu wkwkwk. Ehm

Pengen melepaskan masker maksudnya. Pengap sih, saya kan ndak biasa memakainya hehehe.

Perakitan senjata. Boro-boro senjata. Saya pribadi merakit laporan PPL dari bab 1 hingga bab entah pun tak kuasa. Eh, tapi kalau mau nanya proposal wisuda Qur'an, insyaaAllah sudah jadi. Ayo, barangkali ada yang berkenan untuk berpartisipasi mensukseskan kegiatan wisuda Qur'an mendatang, bisa hubungi saya melalui SMS, WA maupun telegram di 085230981025. Maa naqashat shodaqoh min maal. Sedekah itu ndak ngurangin harta, begitu dawuhnya kanjeng Nabi Al Musthofa Shalallahu alaihi wasallam :)

Pelatihan ala-ala militer. Kalau ini sih, saya kurang paham. Memang benar, di hari aktif, kami sering di push-up dengan hitungan yang tak sedikit. Saya juga pernah terkena hukuman hingga 165 hitungan push up. Salah seorang teman juga pernah jalan jongkok hingga ia tak kuasa untuk  sholat dengan berdiri selama beberapa hari. Tapi itu bukan pelatihan militer, melainkan akumulasi harian pelanggaran akademik. Efeknya luar biasa. Badan pun jadi atletis, lingkar lengan bertambah, perut dan dada ngotak-ngotak. Six pack. Mau bukti? Kalau laki-laki silahkan datang ke pondok. Kalau perempuan, mohon  persilahkan kami datang ke rumah njenengan, kita halalin dulu. Wkwkwk.

Coba tengok video ini...



Cuci otak. Haha, salah. Yang kami cuci itu jeroan, bukan otak. Kalau otaknya biasanya langsung dimasak full beserta kepalanya. Kalau tidak percaya, silahkan datang ke pondok di hari raya kurban besok. Santai, saya sendiri yang akan bakarin sate dan menyiapkan suguhan jika njenengan kesini. Tenang, satenya ndak akan kami bubuhi sianida kok. Paling-paling kami bubuhi mesiu. Kami kan  terduga  teroris haha.

Monggo, Ibnu Katsir Jember membuka pintu lebar-lebar bagi njenengan-njenengan yang ingin berkunjung. Apalagi sekarang momennya begitu tepat, momen lebaran, momen maaf-maafan. Monggo pondok kami dan segala kegiatan-kegiatannya diteliti lebih dalam. Mohon maaf saya ndak bisa bantu meneliti, lha wong tugas penelitian saya saja masih bingung mau saya apakan wkwkwk.

Atau, biar saya saja yang datang ke rumah-rumah njenengan untuk menjelaskan, jadi biar saya sekalian bisa bawa proposal kegiatan Wisuda Qur'an dan berharap njenengan mau berpartisipasi, baik dengan dana maupun doa untuk memuliakan para penghafal Alquran. 



Taqabbalallaahu Minna wa minkum. Mohon maaf lahir batin. Mohon maaf bila banyak sekali tulisan saya yang melukai tanpa saya sadari. 

*Silahkan scroll ke atas lagi. Ada foto manusia-manusia manis yang diduga belajar dan mengajar terorisme. Apalagi pada pemuda yg lagi nggendong balita berbaju pink, Waspadalah.





Sunday, April 22, 2018

Serenjana Senja 1

13

Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja (al Insyiqaq : 16) 

*saya tidak berniat untuk mengaitkan caption foto dengan isi tulisan. 

Selamat membaca :)


***

Dia berjalan semakin menjauh. Sebenarnya aku tak tega, namun aku lebih tak tega pada kondisi diriku yang akan tersiksa jikalau ia sampai benar-benar pergi meninggalkanku.

Baik. Sekarang atau tidak sama sekali!

Kuberanikan diri memanggilnya, dia yang berkerudung merah jingga. 

"Hai"

Ia tak menoleh sedikitpun

"Mbaak!"

Ia mulai membalik badannya. Kepadaku, terpicing tajam kedua matanya.

"Mbak, anu... anda belum bayar lukisan langit yang baru saja mbak beli dari saya!", aku setengah berteriak sembari tertawa.

Ia lantas berjalan mendekat padaku malu-malu, rona wajahnya menyenja, semerah jingga kerudungnya. 

Begitu konyol kisah awal perjumpaanku dengannya

***

Barangkali, sepotong senja bukan hanya seberkas nur. Ia juga selaksa kedip mata jelita haur yang mencipta merah bilur disetiap apapun yang dilaluinya. Semenjana merona, menggoda derana. Sipunya membasuh luruh lara.

Sore ini, sepertinya senja datang hanya untuk mencari selendang, lalu kembali terbang pulang. Tak ingin berlama-lama dibumi, ia takut Jaka Tarub kembali menyakiti.

Sekalipun pernah disakiti, senja selalu berbaik hati. Kau juga boleh berbaik hati padanya dengan menyuguhkan secangkir kopi. Namun tentu saja ia akan menolak, karena secangkir kopi terlalu banyak, sedang waktunya hanya sejenak. Ia akan segera tiada kala kau tengah mendendang cerita. Ia akan pergi begitu saja kala kau sibuk mengambil kamera. Lengah sedikit, setolehmu akan mendapatinya mengepakkan sayap, lalu terbang tanpa cicit.

Hal paling bijak yang dapat kau lakukan adalah tersenyum menyapanya, lalu diamlah. Sudah begitu saja. Entah berdiri, duduk maupun terbaring, cukup diam dan nikmatilah.

***

Aku tau ia benar-benar tak sengaja. Namun ia terus saja memohon agar aku benar-benar memaafkannya.

"Tapi gara-gara aku, lukisan senjamu rusak kan?", ia mendesakku untuk mengakuinya bersalah. Hei, manusa baik dan lembut sepertiku tak mungkinlah mau melakukannya.

"Nggak kok... sepertinya para ahli akan menilai tumpahan kopi ini menimbulkan gradasi warna malam yang sempurna. Sepertinya... hehehe", ujarku ramah-ramah. Aku tak berbohong, barangkali memang ada yang menganggapnya sebagai pemanis gradasi warna. Namun tentu saja bukan diriku yang menganggapnya demikian. Aku hanya mencoba menenangkannya

Ia kembali ceria. Penjelasan yang kubumbui dengan baiknya prasangka sukses menenangkannya. Sekedip mata kemudian, bibirnya mengembang.

Ternyata bukan diatas kanvasku. Adalah rinai senyumnya, senja yang menyempurna.

Degupku mengencang. Sialan. Senyumnya tau saja cara berselip diantara satu degup ke degup lainnya dengan lancang.

***

"Benar, aku amat sangat menyukainya", jawabnya, jelang petang kala itu.

"Aneh, senja hanya begitu-begitu saja. Lantas, apa yang kau suka darinya?", semoga ia memberikan jawaban yang menarik

"Aku juga begini-begini saja. Lantas, apa yang kau suka dariku?", ujarnya, sembari melempar sesimpul senyum manja.

Haha. Jawaban yang benar-benar menarik. Menarik rasa gemas. Ah sudahlah.

Lantas kita hanya berdiam saja, sama-sama meneduhkan pandang pada senja. 

Kau melihat langit, ke ufuk pucuknya, peraduannya mengangkasa. 

Sedang aku, menikmati senja yang berdekam malu-malu dibawah lengkung pelangi dua alismu.

_________________________________________________

*bersambung di Serenjana Senja II (bisa di klik)

*ada ide untuk nama pemeran kali ini?





Sunday, April 15, 2018

Manfaat Belajar Bahasa Isyarat (Yang Mungkin Belum Anda Ketahui)

7

Pelatihan Bahasa Isyarat Bisindo pertama kami pada Desember 2017.


Apa anda pernah melihat orang yang berkomunikasi dengan bahasa isyarat?

Apa anda tertarik untuk mempelajarinya?

Hah? Tidak?

Apa sebab? *bisindostyle

Oalah… Eh jangan salah persepsi dulu. Bahasa isyarat itu seru dan banyak manfaatnya. Mungkin sudah banyak ditulis mengenai manfaat kita belajar bahasa isyarat secara umum (mungkin lo ya :p ). Makanya, disini saya akan mengulas apa saja manfaat kita belajar bahasa isyarat dalam pembahasan yang mungkin belum pernah diulas (sekali lagi, ini cuma kemungkinan lo :D )


1   1. Metode berkomunikasi solutif dalam beberapa kondisi

Sebentar lagi kita memasuki bulan Ramadhan. Tidak bisa dipungkiri bahwasanya bau mulut kita menjadi berkali-kali lipat anunya. "Saat puasa produksi liur (saliva) akan berkurang sehingga bakteri dalam mulut akan lebih mudah berkembang, ini yang kadang menyebabkan mulut menjadi berbau," ungkap Ahli Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Diah M. Utari 

Tentu saja, bau mulut membuat kita kurang percaya diri untuk ngobrol dengan teman-teman kita, apalagi pada calon mertua. Bisa buruk pamor kita dihadapan mereka. Kalau sudah jadi mertua mah tak masalah mana mungkin mertua tega meminta putra/I nya agar bercerai dengan kita hanya karena bau mulut? Tapi kalau iya, ya itu nasib anda wkwkwk

Sabar brooo...



Haha... 


Nah, agar tetap dapat menjaga kepercayaan diri, maka bahasa isyarat menjadi pilihan bahasa yang pas untuk anda gunakan sebagai media berkomunikasi.

Kalau lawan bicara anda tidak bisa bahasa isyarat, maka ini kesempatan bagi anda yang sudah bisa untuk mengajari mereka, atau ajaklah mereka ke pelatihan-pelatihan bahasa isyarat. Ayo buruaaan Mumpung masih ada sisa waktu sekitar satu bulan sebelum Ramadhan tiba.

Sariawan? Sakit gigi? Malas untuk berbicara? Lagi ngunyah pecek tempe hingga susah untuk berbicara? Berbicalah dengan bahasa isyarat. Hehehe


2   2. Sarana melatih otak

Pernah belajar senam otak kanan? Itu loh… yang tangan kanan dan tangan kiri tak menyatu, yang cinta bertepuk sebelah tangan :p

Haha, maaf, bukan itu. Ini lo, yang seperti ini...




Nah, yang itu lo... dimana tangan kanan kita membentuk pola tertentu dan tangan kiri kita membentuk pola yang lain, lalu menganu-nganukannya. Semacam dibuat bergantian tapi di variasikan gitu. Paham ndak? Mbulet ya? ^_^v

Kurang lebih, bahasa isyarat melakukan hal serupa seperti excercise tadi. Iyakan?dengan belajar bahasa isyarat, insyaaAllah kemampuan otak anda akan berkembang. InsyaaAllaah :)

Sebenarnya sih, belajar bahasa apapun membuat otak anda berkembang. Kecuali bahasa(n) kapan lulus S3, kapan nikahi 3 orang, kapan gendong anaknya cicit. Bisa bisa konslet utekmu wkwkwk


3. Sarana mengungkapkan perasaan tanpa ketahuan

Ini cocok bagi anda-anda yang ingin melamar anak orang namun tak tahu harus dari mana memulainya. Mungkin bisa berawal dari isyarat ketap-ketip ke calon mertua. Eh tapi ketap-ketipnya jangan cepat-cepat dan usahakan untuk selalu tersenyum. Karena jika ketap-ketip cepat dengan ekspresi gimanaa gituuu... Bisa-bisa si camer menghampiri  anda sambil membawakan insto dan berkata dengan iba, "kelilipen a, Le?". 

Gagal... gagaaaal...  wkwkwk

Sebentar... Bagaimana jika kita mengungkapkan perasaan pada orang yang ternyata juga bisa berbahasa isyarat? 

Jika iya, mungkin si dia akan bertanya, "benarkah? serius?"

Maka jawab saja, "Saya cuma latihan kok"

"Untuk apa kamu latihan berisyarat akan meminang-minang seperti itu?", balasnya, *mungkin.

"Ehheee... Anu pak... ya untuk melamar putri bapak :) "

Eaaa. Eh tapi jangan ucapkan "eaaa" didepannya. Apalagi pas didepan hidungnya. Mulut anda kan sedang bau wkwkwk.

Bisa-bisaa, nanti anda...



4. Sudahlah. Semakin ngawur nantinya hahaha

Kalam Allah itu indah... Kisah-kisah didalamnya begitu menggugah, pun didalamnya, rahmat dan ampunan limpah tercurah. 

Syariat-syariat-Nya pun indah... hingga apa-apa yang sulit jadi terasa mudah.

Sunnah-sunnah Rasulullaah shallallaahu alaihi wasallam juga begitu indah. Tanya pada siapapun yang tetap meniti jalannya sekalipun selayang pandang, kehidupannya terlihat begitu "tersisksa". Dan 'berkah' akan kau dapati sebagai jawabannya.

Keterbatasan teman-teman tuli dalam mendengar, tentu saja membuat mereka kurang bisa menikmati itu semua. 

Jika bukan kita, siapa lagi yang akan berbagi Islam yang indah ini pada mereka?

Betapa saya kadang teringat mbak Nur dan kawan-kawan sahabat tuli saat saya mendengar alunan murattal Imam Masjidil Haram dan yang lain, "Semerdu dan semenggetarkan ini, pernahkan teman-teman tuli mendengar dan merasakannya?"

Yaa Rabb... Engkau tentu tahu apa yang terbaik. Jika mereka memang benar-benar tak bisa mendengarnya dalam keadaan sadar di dunia, saya ingin sekali agar Engkau hadirkan alunan tersebut dalam mimpi-mimpi mereka... juga di surga kelak, disisi ucapan salam yang akan mereka terima...


5. Barangkali berminat menjadi perantara Kalam-Nya pada mereka

Kami mengadakan pelatihan bahasa isyarat rutin dan gratis yang sudah berjalan sejak Desember 2017 lalu. Hubungi nomor saya di 085230981025 baik dengan sms, telepon, WA maupun Telegram untuk info lebih lanjut. 

Posternya ada di instagram @media_ibka, coba saja scroll-scroll. Maaf tidak bisa saya upload karena adzan ashar sudah berkumandang.

Ohya... Untuk peserta-peserta yang pernah mengikuti pelatihan, Jazaakumullaah ahsanal jazaa' ^_^






Thursday, April 12, 2018

Jalan Cinta

2




"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana" ~Sapardi Djoko Damono
Jalan mencinta kita, tidaklah sama. Seperti halnya Sapardi yang memilih untuk mencintai dengan sederhana, "dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada", lanjut Sapardi dalam selirih puisinya, puisi yang sepertinya sering kita kutip tanpa menyertakan sumber aslinya.

Jalan mencinta kita, tentu saja berbeda-beda. Dan, ada jalan mencinta yang diisyaratkan begitu indah dalam beberapa kisah. Jalan mencinta itu adalah... Berlama-lama.

"Ini adalah tongkatku", jawab Musa alaihissalam, kala ia bertelanjang kaki di Lembah Thuwa dan Allah SWT bertanya mengenai benda yang sedang digenggam tangan kanannya.


"Aku bertumpu padanya", lanjutnya. 

Tak hanya berhenti disitu, ia mencari-cari jawaban agar bisa lebih berlama-lama dengan-Nya, "Dan aku merontokkan dedaunan dengan tongkat itu untuk makanan kambingku". Musa as menambah-nambahi jawaban untuk hal yang tak Allah SWT tanyakan.


Sungguh, Musa as ingin menambahkan jawaban lagi, namun kekakuan lidahnya membuat ia tak bisa mengucapkan satu persatu hal yang terlintas dipikirannya.



"Dan bagiku masih ada manfaat yang lain", ujar Musa as yang masih tak ingin menyelesaikan pembicaraan. 

3 jawaban ditambah 1 jawaban yang meringkas banyak jawaban untuk sebuah pertanyaan sederhana, "apa yang ada di tangan kananmu, wahai Musa?". 

Ada isyarat dalam ayat ini, bahwasanya Musa 'alaihissalam hanya ingin berlama-lama bercakap-cakap dengan Rabbnya.


Tak hanya milik Musa alaihissalam. Terkisah pula bahwasanya berlama-lama adalah jalan yang juga ditempuh oleh Al Musthofa ﷺ.



"Hingga aku berkeinginan untuk melakukan hal buruk. Aku ingin duduk dan meninggalkan Nabi ﷺ", keluh Ibnu Mas'ud, saat ia sholat bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu malam.

Betapa Rasul ﷺ berlama-lama berdiri saat sholat tahajjud, hingga salah seorang dari 4 orang yang Rasul ﷺ sarankan pada muslimin untuk belajar Al-Quran pada mereka, Ibnu Mas'ud, berniat meninggalkan beliau.



Pun dengan Nuh alaihissalam yang begitu tahan berlama-lama, berdakwah ratusan tahun lamanya. Berdakwah siang malam, baik secara terang-terangan maupun diam-diam, baik menggunakan bahasa yang lembut hingga doa-doa yang mengancam.

Bagaimana dengan kita? apa jalan kita mencinta-Nya juga sama dengan mereka? berlama-lama?


Barangkali, berlama-lama menonton drama korea, bermain Playstation dan lain-lain juga merupakan cara seseorang untuk mencinta-Nya...


"Haish, bagaimana sih. Ngawur kamu. Mana mungkin mereka-mereka yang menghabiskan waktu dengan hal-hal yang madharatnya jauh lebih banyak dari manfaatnya itu dikatakan sedang melakukan sesuatu untuk mencint-Nya?"


Isik talah, jangan motong pembicaraan. Barangkali mereka memang berlama-lama, namun berlama-lamanya mereka itu membuat mereka bosan, sehingga mereka meninggalkan perbuatan tersebut, bertaubat pada Allah dan tidak mengulanginya lagi, lalu mulai melakukan sesuatu yang jauh lebih bermanfaat dari yang pernah mereka kerjakan, bahkan mungkin jauh lebih bermanfaat dari yang kamu kerjakan.


Mari belajar untuk senantiasa berhusnudzan, kawan :) . Mari perbaiki cara pandang kita dalam menyikapi segala sesuatu, karena bisa jadi apa yang tampak buruk dimata kita, justru menggetarkan arsy dan menuai pujian dari malaikat-malaikat nun mulia. Sedangkan pandangan buruk kita yang merasa lebih baik dari mereka, justru malah menjadi jangkar terlempar di dasar neraka yang membelenggu kita. Na'uudzubillah min dzaalik


Wallaahu a'lam :)

*tulisan warna biru diatas ditulis bukan karena baper akibat laptop dan stick pernah disita. Serius. Haha. Btw tulisan warna birunya bisa di klik loh :)

*edisi mengedit dan reupload tulisan yang pernah saya upload, tapi bukan di blog ini.