Wednesday, January 17, 2018

Tadabbur Surat Yusuf : Jalan Sukses

3



 "Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik” [Yusuf:3]

Kisah terbaik. Bukan main julukan yang Allah berikan pada kisah Nabi Yusuf Alaihissalam dan keluarganya. Julukan yang tidak berlebihan karena didalamnya, termuat kisah mengenai kasih sayang, kecemburuan, ujian, godaan, fitnah, kepercayaan, dengki, kebesaran hati, perwujudan mimpi, dan masih banyak lagi jika kita mau mentadabburinya lebih dalam lagi. Kisah yang saya cintai, kisah yang berawal dari mimpi dan berakhir dengan terwujudnya mimpi.

Berbicara mengenai “terbaik”. Mari kita kosongkan pikiran terlebih dahulu, lalu coba cari benang merah  antara “terbaik” dengan “sukses”, agar kita dapat memetik pelajaran dari jalan suksesnya Yusuf Alaihissalam.

Ketemu?

“Enggak”

Baik, saya beri contoh bagaimana cara mencari hubungannya.

Ada hubungan antara “senyum” dengan “tangis”. Bagaimana bisa? Jadi begini.

Suatu hari, akhwat bercadar tersenyum pada saya. Saya yang ke-GR-an, menganggapnya sebagai pertanda ia menyukai saya. Akhirnya saya menyiapkan segala buat mempersuntingnya. Di hari-H saat saya mencoba datang untuk melamarnya, eh ternyata dia tak menyukai saya, keluarganya juga tak menyukai saya. Tapi kucingnya menyukai saya, mungkin karena saya bau amis. Jadilah saya menangis dibuatnya.

Paham? Ada sebuah proses yang terjadi sebagai penghubung antara “senyum” dan “tangis”

Dan contoh diatas hanyalah contoh rekaan belaka. Lagian, mana bisa saya tahu apakah dia tersenyum atau tidak jika ia bercadar?

“Kan bisa memperhatikan rona matanya.”

Andaipun ketahuan dari  matanya, ya mana saya tahu? Saya kan sedang menundukkan pandangan saat itu. *eaaa

Kembali ke hubungan antara “Terbaik” dan “sukses”.  Ada dua ayat beredaksi hampir mirip, yang menjadi indikator kesuksesan yang diraih oleh Yusuf Alaihissalam.

Di ayat 21, Yusuf kecil yang dibenci saudaranya, dibuang di sumur nun jauh disana, dijual dengan harga seadanya... Allah tempatkan  di sebuah keluarga dimana Yusuf tak memiliki pilihan lain selain tinggal disana.

“Dan demikian itu, kami beri kedudukan pada Yusuf, agar Kami dapat mengajarkannya....”
  
Berselang 35 ayat setelahnya, Allah kembali mengulang ayat tersebut, dengan redaksi berbeda, 

“Dan demikian itu, kami beri kedudukan pada Yusuf di Bumi, agar ia dengan tinggali dimana saja yang dia mau.....”

Diawal, Allah memberi Yusuf AS tempat tinggal tanpa Yusuf AS bisa memilihnya. Dan ayat kedua menunjukkan jika kini Yusuf AS bisa bertempat dimanapun sak penake, atau dalam artian lain, Yusuf AS sudah menjadi orang sukses karena sekarang ia bisa kemanapun, atau dalam istilah modern, mungkin seperti travelling, hiking, snorkling, dang –ing –ing yang lain.

Penak kan? Ya, mana ada sukses yang ra penak.

“Ada kok”

Sudah jangan berdebat disini. Jangan ngganggu saya nulis dulu.

Tentu saja, kesuksesan yang dialami Yusuf  AS itu tak ujug-ujug datang. 35 ayat yang berjejer diantara 2 ayat yang saya sebutkan diatas memberitahu kita, bahwa jalan menempuh kesuksesan itu dipenuhi dengan kebencian orang sekitar, tak dihargai, tak diperdulikan, banyak rayuan, banyak fitnah bertebaran, disalahkan padahal tak salah, dilupakan.

Mengerikan bukan?

Namun, bentang 35 ayat tersebut juga mengajarkan bahwa akan ada kesempatan untuk meraih kesuksesan, jika kita kita tetap menjadi orang yang ikhlas, jujur dan baik dalam melewati semua ujian diatas. Iya kan, Bu?


“Sebentar, sebentar. Saya dari tadi nggak paham dengan apa yang samean bicarakan mas. Kayak gak ada poinnya, nggak jelas juga. Pembahasan yang saya cari juga gak ada”

Memangnya apa yang kau cari?

“Tips menjadi ganteng ala-ala Nabi Yusuf”

Haish --'

Gak perlu jadi ganteng bro. Jadilah sukses. Jika Nabi Yusuf yang sukses bisa dengan bebas memilih kedudukan dimana saja, maka dengan kesuksesan, insyaaAllah kau akan dapat melabuhkan hatimu dimana saja, Bro.

Wallaahu a’lam 

"Judulnya nggak nyambung sama isi tulisannya mas, tadabburnya mana?"

Oh iya 

Tuesday, January 16, 2018

Sudah, Biar Aku Saja

1



Sebenarnya, rasa yang kau simpan telah kuketahui. Begitu pula dengan dirimu yang sepertinya juga telah mengetahui perasaanku. 

Hanyasanya, kita berdua sama-sama spesies pemalu. Kau malu untuk mengakui rasa itu, sedangkan aku juga terlalu malu untuk mengungkap bahwa sebenarnya, ini adalah rasa milikmu.

Apa perlu kulanjutkan? Aku dapat merasakan degup jantungmu mulai mengencang.

Sepertinya, kau tau bahwa aku lebih memilih untuk berpura-pura tak mengetahui perasaanmu dan lebih memilih untuk menanggung beban yang seharusnya kau yang menanggungnya. Sedikit mengutip dialog di salah satu scene film Dilan, “…berat. Kau tak akan kuat, biar aku saja”

Masih terbayang manisnya ekspresi berterimakasihmu , saat  kau melihat diriku membuat gestur seolah-olah menandakan aku yang memiliki rasa tersebut ; garuk-garuk kepala, terus saja tersenyum sambil sesekali meminta maaf pada beberapa orang disekitar kita yang terus saja memicingkan mata, murka. 

Sepertinya kau merasa sedikit iba. Sudah, tak usahlah kau berlaku demikian. Salah paham dan cemohan, aku terlalu terbiasa mendapatkannya. 


Hei, santai saja. Aku masih kuat. 


Kau meminta untuk menyudahinya? baiklah jika itu inginmu. 

Kalau begitu berdirilah sekarang. Angkat tangan dan mengakulah jika yang kentut dari tadi adalah dirimu, agar orang orang di halte yang sesak ini tak lagi memperhatikanku dengan pandangan yang kurang mengenakkan. 

Coba perhatikan, ada bapak-bapak yang bahkan menutup telinga dan memejamkan mata setelah lubang hidungnya ia sumbat dengan tutup bolpoin. Ada juga adik-adik yang sibuk menutup lubang-lubang di tasnya agar amoniakmu tak bersarang ditempat mereka meletakkan bekal makanan. Ada juga mas-mas yang menutup resletingnya, meskipun sepertinya bukan karena kentutmu, namun karena diingatkan bahwa resletingnya terbuka dari tadi.

Hei, kau mau pandangan murka mereka beralih kepadamu jika kau mengakuinya?


Iya kan? Sudah kubilang, kau tak akan kuat. Biar aku saja yang menanggung beban dari perasaan yang kau keluarkan dari tadi.

*Tentu saja ini bukan kisah asli.


Thursday, January 11, 2018

Kenangan Yang Terlambat Datang

1

Hujan yang turun berdentingan sedari tadi, kenapa harus datang dengan irama serindu ini?  

Sudah satu jam berlalu, namun langit masih saja abu pekat. Pun dengan angin yang terus bersiur berat. Tak ada satupun gelegar guntur. Atau mungkin ada namun aku saja yang tak menyadarinya. Sepertinya dari tadi yang terdengar hanyalah alunan rast khas Imam Al Mathrud yang diputar oleh masjid sebelah lamat-lamat. 

Dari balik pudar kepul uap temulawak yang baru saja kuseduh, aku menggerutu seorang diri. Bukan pada hujan, namun pada beberapa pendar kenang yang semakin kurang ajar menyita fokusku. 

Sialan. Kenangan macam apa pula ini. Jelas, ini bukan rindu, apalagi cinta yang akhir-akhir ini aku dikira sedang mengidapnya. Sama sekali aku tak tau ini apa. Gelisah benar aku dibuatnya.

Fokus semakin membuyar. Proposal yang bahkan latar belakangnya masih acak-acakan meskipun sudah lebih dari satu jam kukerjakan tak mampu lagi kulanjutkan. Ah biarlah. Kuraih HP, lalu kurebahkan badan dikursi panjang workspaceku.

"Fiq, di pondok hujan?", tanya seorang teman melalui pesan yang baru muncul sesaat setelah aku menghidupkan paket data. 

"Tolong angkatkan jemuran ya?", isi pesan temanku yang satu lagi.

Aku tak lekas membalas pesan mereka. Aku teringat sesuatu. Benar, bukan cinta maupun rindu yang menggelisahkanku. Ini juga bukan sebuah kenangan, melainkan ingatan yang sudah sekian hujan selalu terlambat datang.

Jemuran bajuku belum diangkat! (*)

*Gabungan dari beberapa kisah pribadi

Monday, January 08, 2018

Mencinta dan Laparlah

8

"Mau kopi?", ramah lelaki paruh baya padaku meski sepertinya kami tak saling mengenal. Kugeleng kepala dan kusungging senyum ringan-ringan. Bukannya tak mau, hanya saja Dokter menganjurkanku untuk berhenti meminum kopi. "Ngopi nggak ngopi kau itu tetap saja ngantukan. Daripada keluar uang terus tapi selalu gagal begadang, mending tak usahlah kau beli kopi lagi", anjur dokter saat itu.

Aku mulai duduk disamping lelaki paruh baya tersebut setelah helm dan jaket kuyupku tertanggal sempurna.

"Hati-hati sama cinta, Boy", ujarnya tiba-tiba dengan santai. Sesekali ia menyelentik rokok yang sebenarnya sudah mati, lalu menghisapnya seolah-olah masih menyala.

"Bisa gila kau dibuatnya, Boy", lanjutnya sambil menyeruput segelas kopi yang bahkan ampasnya pun sudah habis ia kunyah dan telan barusan. Aku mencoba untuk diam saja, menghemat energi agar ia bisa dikonsumsi oleh perut yang melilit-lilit sedari tadi.

"Aku dulu pernah jatuh cinta pada janda beranak 9, Boy. Entah kenapa, aku suka dengan sifat keibuannya. Coba bayangkan, Boy. Anaknya yang paling kecil--yang masih berusia 5 tahun--kalau mengompol di kasur, langsung saja ia cuci seprei beserta anaknya sekaligus di mesin cuci. Efektif dan efisien kan?." 

"Sedangkan anak ke 4 hingga 8 yang masih bersekolah baik di SD, SMP, dan SMA, tak pernah ia kasih uang saku. Masing-masing mereka dibawai golok oleh ibunya aga mereka minimal bisa memalak teman sekelas. Itu namanya mengajari kemandirian, Boy"

Cerita yang ia beberkan di kedai kopi tempatku meneduh dari hujan yang kian melebat, mulai agak menarik untuk disimak.

"Anak sulungnya meninggal saat kecil setelah memakan sayur kecubung buatannya, Sedangkan sisanya entah kemana. Kabarnya, mereka sengaja ditinggal di kereta oleh Ibunya karena ia tak tega membangunkan keduanya yang tengah lelap tertidur di bangku kereta"

Mananya yang keibuan? Itu tega namanya. Dan lagi, apa yang ia ceritakan terkesan mengada ada. Ingin sekali ku bertanya, tapi lebih kupilih untuk menghemat energi. Akhirnya, picing mata dan kernyit di dahi kutampakkan sebagai tanda tak percaya. Namun nampaknya, Ia tak memahami bahasa tubuhku. Ia melanjutkan cerita.

"Dulu, ia bercerai dengan suaminya karena suaminya tak kunjung memiliki mobil. Makanya, Boy, siang malam aku bekerja agar lekas lekas dapat membeli mobil untuk mempersuntingnya. Shubuh-shubuh aku keliling 5 desa untuk jualan sayur dan lauk pauk. Agak siang aku mulung sampah sampai sore. Sore sampai tengah malam aku jaga warnet. Tengah malam sampai shubuh, aku jadi pelayan di cafe. 1 bulan kemudian, aku mampu membeli Alphard, Boy"

Ceritanya semakin mengada-ngada. Mana mungkin ia bisa membeli mobil dengan pekerjaan seperti itu dalam waktu sesingkat ini?

"Di hari ke 27 aku kerja, aku menang togel besar, Boy. Langsung saja duitnya kubelikan mobil, sisanya kubelikan susu bear brand. Sudah lama aku tak meminumnya, Boy"

Kini, asal-usul mobil mulai tampak masuk akal.


"Lalu aku datang pada janda tersebut, Boy. Ternyata ia menolakku dengan alasan bahwa aku tak punya helm INK warna hitam. Ternyata dia sederhana sekali, Boy. Aku semakin menggebu untuk menuruti keinginannya. Aku lantas pulang dan menjual mobilku dengan harga murah agar cepat laku, lalu semua uangnya kubelikan helm INK hitam untuk memenuhi keinginannya. Saat aku kembali mempersuntingnya dengan helm, ia kembali menolakku, Boy. Dia malah minta dibuatkan candi dalam semalam. Emangnya aku Mark Zuckerberg apa", ujarnya sambil menggebrak meja. Rokok mati yang ia genggam ia masukkan ke mulutnya, lalu ia kunyah dengan geram. Perasaan yang bikin candi dalam semalam itu Sangkuriang. Sedangkan Mark Zuckerbeg itu yang dikutuk ibunya jadi batu. Ya, sepertinya begitu. 

Aku ingin tertawa, tapi tak kuasa. Meskipun terkesan mengada-ada, namun sepertinya benar juga jika cinta bisa membuat gila. Seperti orang disampingku ini yang tiba-tiba push up sembari tetap mengunyah rokok.

--------------------------------------------

Sebenarnya, seluruh cerita diataslah yang mengada-ada. Kecuali anjuran Dokter pada saya untuk berhenti meminum kopi, itu benar adanya.

Oke, saya mengakui jika cinta mampu kita melakukan hal-hal ekstra hingga membebani fisik dan pikiran secara berlebihan. Seperti halnya saya yang mencintai leyeh-leyeh. Tentu saja, mencintai leyeh-leyeh membuat saya terus bekerja keras dan berusaha untuk terus menerus leyeh-leyeh dengan berbagai cara hingga menemukan format leyeh-leyeh yang pas untuk saya praktekkan.

Hal-hal ekstra yang kita lakukan karena cinta, tentu saja mudah membuat tubuh kita lelah dan lapar.

Kesimpulannya (menurut saya) adalah, harusnya cinta itu maksimal membuatmu lapar. Janganlah sampai kau gila karena cinta.

Dan, sepertinya akhir-akhir ini saya sering lapar. 

Apakah itu dirimu, duhai keripik kentang gurih setoples yang telah membuatku jatuh cinta?

Wednesday, January 03, 2018

AYO NIKAH!

3

HP : "1 message unread" 

Me : pressing open key 

HP : "Message couldn't opened, please take a bath first"

Me : "hah?" 

*****

"Ayo nikah"

Saya termenung beberapa jurus. Waktu yang cukup untuk menjadikan saya menjadi daging 76 bagian jika saya terdiam selama itu di medan perang. Juga waktu yang cukup untuk bagi Joko Bandung untuk menyelesaikan sebuah villa zaman now untuk mengganti 1 candi yang gagal ia tepati pada Nawang Wulan di zaman old. 

Nama pengirim pesan tercantum di kontak hp jadul saya dan itu berarti saya mengenalnya. Konten singkat pesan tersebut membuat saya bingung memilih perasaan. Bukan antara senang, gembira, merasa akhirnya laku juga, atau bahkan jijik dan najis. Tapi antara heran dan sangat heran. Bagaimana tidak. Saya sepertinya bukan orang yang tepat untuk diajak nikah sedini ini. Jangankan tanggung jawab. Main romantis romantisan seperti yang anak-anak SD zaman sekarang lakukan pun saya tak akan bisa. Tak pernah dilatih soalnya. Umm, ada yang mau saya jadikan media berlatih romantis? Laki-laki boleh. Tapi sebagai samsak, media berlatih tendang tinju. 

Saya adalah tipe orang yang masih lebih memilih untuk main PS daripada mengumpulkan uangnya sebagai modal memproduksi tempe untuk kemudian dijual di Mesir, agar bisa bertemu dalam kisah roman dengan Ana Althafunnisa. Saya juga pasti lebih memilih untuk makan mie sedap kremes ayem daripada harus saling suap manja dengan kekasih. Iyalah, kekasih saya mana mampu menyuap cuapi saya, dengan manja pula. 

Kembali ke pengirim pesan. Hubungan yang terjalin diantara kami hanyalah hubungan pertemanan biasa. Sejak saya bersekolah di tingkat sekolah menengah, kami memang sering berkomunikasi, namun itupun sepertinya hanya sebatas bertukar informasi, juga bertukar pandangan mengenai novel dan buku. Komunikasi kami sempat terputus lama. Dan siang itu, pesan mengherankan itu muncul tanpa prolog apa-apa.

Saya lantas menghapus pesan tersebut dan tak mau membahasnya dengan pengirim pesan tersebut. Sepertinya, saat itu hpnya dibajak salah seorang temannya. Saya beranggapan demikian, karena sebelumnya, facebook salah seorang teman shalih saya yang kata-kata mutiara selalu menghiasi dindingnya, tiba-tiba memposting kata-kata aneh dan kotor. Seperti ini,

"Manusia menganggapku baik, padahal aku aneh dan kotor. Siapa lagi kalau bukan Engkau yang menutupi aibku, ya Rabb..."

Sebentar, itu sedang dibajak atau memang itu salah satu kata-kata mutiaranya yang rendah hati? 

abaikan. Mengenai status FB tersebut, saya hanya bercanda dan mengarang.

Suatu hari pula, saya membentuk isyarat love dengan kedua tangan, ditambah beberapa kedip pada seorang bocah SD didepan ibunya. Tentu saja, saya hanya bercanda. Namun kedip saya semakin cepat dan memerih, mungkin kelilipan. Saya sudahi simbol love dengan tangan untuk kemudian mengucek-ngucek mata.

"Jangan adiknya lah, Fiq. Kan ada mbaknya. Sekarang Syafiq umur berapa?", goda ibunya pada saya. Untuk kali ini, saya mengenal kakak dari adik kecil yang saya candai sebagai salah satu dari jajaran most wanted need for speed. Eh maaf, itu kan judul game. 

Tapi memang tak berlebihan jika saya mengkategorikannya sebagai Most Wanted disini. Umm, kalau saya menyebutkan ciri-ciri fisik maupun sifatnya, bisa-bisa saya tertangkap basah oleh para pndd. Pengagumnya dalam diam. Bahkan tanpa disebutkan seperti ini pun, sepertinya sudah ada yang tau ia siapa.

Saya tak berani menjawab pertanyaan ibu itu. Dijawabpun sepertinya ia tak akan percaya, mengingat muka saya yang lebih tua dari muka adik saya. *Iyalah*. Maksudnya, mengingat muka saya yang terlihat lebih tua dari umur saya.

Seketika, degup mengencang dan dengan derasnya keringat bercucuran. Saya berlari berlalu, panggilan ibu itu, saat itu tak lagi saya hiraukan. Namun saya yakin, itu cuma bercanda. Ia memahami saya seperti apa dan saya juga paham model candaannya bagaimana. Degup mengencang itu karena efek kopi, sedangkan saya belum sarapan. Keringat deras bercucuran, itu efek dari saya yang berlari-lari untuk mencari kabel olor dan menyiapkan pembukaan sebuah acara. 

********

Mungkin bagi sebagian orang, pertanyaan "kapan nikah?" adalah pertanyaan horor. 



Tapi percayalah, pertanyaan "kamu siap nikah sama aku" atau pernyataan "ayo nikah" sepertinya jauh lebih horor.

Jadi, apa kamu (yang entah siapa, dimana, apa, kapan, bagaimana dan mengapa) sudah siap saya hororin? Laki-laki boleh. Sebagai pencuci tumpukan baju yang baunya sudah menghorori lemari saya.






Thursday, December 07, 2017

Kekasih Rahasia :)

6

*Happy 1st Anniversary, honey*

Dimulai dari kisah satu tahun lalu...

Sebenarnya, aku tak tau seperti apa dirimu. Hanya nama dan beberapa hal tentang dirimu saja yang ku tau dari teman-temanku. 

"Mana mana? Yang mana sih?", cecarku pada seorang teman yang memberi tahuku saat dirimu lewat.

"Aduh telat, itu lo yang anu-nya hitam", jawabnya enteng sambil terkekeh berlalu. "Subhanallah masyaa Allah banget pokoknya", lanjutnya. 

Sontak saja, gelagapan kupandang kesana-kemari. Bahkan ku berlari di sekitaran hanya untuk menemukanmu. Namun sepertinya kali ini sia-sia, sama seperti usaha-usahaku sebelumnya.


Segera kuambil wudlu agar dapat kutahan sukmaku yang mulai melayang-layang, meninggalkan pijakan yang semestinya.

Sebenarnya beberapa kali aku telah melihatmu, namun dalam posisi yang jauh dan dirimu sedang bergerak cepat. Seringkali kau tampil "hitam", tanpa pernah jelas, seperti apa mukamu.

Kian hari, debar semakin mengencang, degup semakin tak beraturan. Nafas seketika memburu tiap ada yang menyebut namamu.

Saat itu juga aku dapaat memahami salah satu bait syair arab yang sering diucapkan guruku. Bahwasanya cinta mengubah kelezatan menjadi rasa sakit. Aku mengalaminya. makan jadi tak enak, tidur tak nyenyak. 

Ah sial, lama-lama bisa terkapar penasaran aku kalau terus begini.

Akhirnya kuputuskan. Kau yang masih belum kutahu seperti apa rupamu, harus kutemui dan ku persunting dengan resmi. Kau harus segera halal untukku.

Nekad saja. Hanya berbekal nama dan modal seadanya, kuminta salah seorang teman untuk mengantarkanku.

"Serius kamu mau bersamanya?", tanyanya seraya menahan tawa. Ia yang tahu segala kesederhanaanku seakan tak percaya dengan tekad yang sudah meluap-luap ini.

"Hai sadar, ia itu berkelas, manusia lusuh sepertimu mana pantas bersanding dengannya?", aku menangkap ucapan-ucapan itu dari sirat matanya. 

"Bah. ra urus. Aku nggak peduli!", sirat tatapan mataku kala menatap balik matanya dengan lebih tajam.


"Tapi banyak kok yang lebih cantik darinya", temanku berusaha memberikan opsi lain. "Dari pada masih gak jelas begini?"



Aku diam saja, mataku masih lekat-lekat tajam menatapnya. 


Akhirnya ia menyerah, lalu menurutiku untuk pergi kemanapun aku mau di hari itu. "tenang, nanti tak kasih sesuatu", imingku padanya agar ia mau menyetir motor kemanapun aku mau.

Akhirnya, kami berangkat dan menuju ke setiap tempat. Ya, setiap tempat yang kuduga dirimu berada disana.

Terik kian meninggi, hingga merendah lagi. Dari pagi, sama sekali tak kutemukan jejakmu. Yang kutemukan hanyalah sosok yang berpenampilan mirip denganmu. Meskipun belum kutahu seperti apa dirimu, aku yakin kalau yang kulihat dari pagi tadi bukanlah dirimu.

Benarlah apa pepatah bilang. Niat baik tak pernah tertampik. Akhirnya ku bertemu dirimu disalah satu pertokoan, di penghujung sore dan sisa-sia luap tekadku. Padahal sebenarnya aku mulai menyerah, "ya sudahlah kalau tak jodoh", keluhku pada teman yang mulai merasa menang setelah mendengar keragu-raguanku. Namun kini, akulah yang menang. 


Benar, aku sangat yakin kalau selama ini yang ku kagumi diam-diam adalah dirimu.

Sontak saja kuutarakan keinginanku untuk membina hidup denganmu. Tentu saja, kau tak sendiri saat itu. Ada beberapa saudaramu dan juga 'orang tua'mu. Kau diam saja, 'orang tua'mu mengangguk setuju. Mereka nampak bahagia, saudaramu nampak tersipu.


Tak lupa kuhaturkan, bahwa hanya segini mahar yang ku punya. Syukurlah mereka memahami keterbatasanku. Mereka tetap setuju, bahkan mereka memperingan maharku, "Buat ongkos bensin pulang, Nak". Ah betapa mereka bisa mengerti keaadaanku. "Kasian, udah lusuh, nekat lagi. Mukanya polos pula", mungkin itu yang mereka pikirkan.

Akhirnya, sah lah kita hidup bersama. Mendebarkan juga rasanya menempuh hidup baruku denganmu. 


Sampai sekarang, tak banyak yang tahu tentang hubungan rahasia ini. Ya, bahkan kalau perlu jangan sampai ada yang tau. Karena pondok pesanntren tempatku bernaung sekarang, juga melarang kami untuk menikah sebelum lulus dari sini. 



Namun sekarang sepertinya harus kuungkap pada publik tentang hubungan kita. Agar mereka paham kalau kita sudah menjadi pasangan yang halal. Agar tak terjadi fitnah dimana-mana. Masalah pondok pesantren, apa kata nanti.

Ternyata kau amat menyenangkan. Ku ajak bermain PS, mau. Ku ajak main futsal, mau. Ku ajak renang, mau. Makan disana sini, mau. Jalan jalan ke sana sini pun mau. Tak hanya penurut dan menyenangkan, kau juga amat lekat denganku. Aku semakin sayang padamu.


Pernah suatu saat kau kutinggal di suatu tempat tanpa sengaja. Aku yang baru sadar kalau telah meninggalkanmu langsung kembali ke tempat itu. Kudapati dirimu meringkuk lesu. Kau mungkin capai mencariku kemana-mana. Hahaha, maaf. Kejadian ini takkan terulangi.



Suka duka banyak kita lalui. Bukankah kopi yang terlalu manis tak akan sempurna untuk dinikmati? Hidup pun begitu. Hidup tanpa kepahitan sama sekali bukanlah hidup yang akan seru untuk dijalani.

Namun 2 Desember kemarin, tepat sehari sebelum satu tahun perayaan kebersamaan kita, kau meminta untuk berpisah. Sebenarnya hatiku jadi kacau, semuanya terasa akan menjadi berat tanpa kehadiranmu. 

Hai, ada apakah gerangan? Aku tercekat. Kau mendiamkanku. Dengan bodohnya, aku pun turut mendiamkanmu. Sebenarnya aku mendiamkanmu karena aku sedang mengerjakan banyak hal, bukan karena ingin mendiamkanmu. Haha, ingatkah kau akan kejadian itu? saat kita saling mendiamkan? lucu tau.

Setelah tenang dan sedikit bebas dari tugas-tugas dan kewajiban yang diamahkan padaku, aku mulai mencari tahu, apa penyebab kau meminta berpisah.

Ah ternyata hanya karena perkara sepele. Pinmu patah karena sudah berkarat. 


Kubelah hujan dengan rindu. Ingin segera ku berdamai denganmu. Akhirnya kutemukan pertokoan jam tangan, dan kubelikan pin sekaligus tali yang baru untukmu. 

Dan akhirnya, kita dapat bersama lagi, jam Casio illuminator hitamku tersayang :) semoga kita kian langgeng kedepannya. 


*Sengaja tak menyertakan foto. Saya pencemburu.


Cinta itu ada dimana saja. Temukan cinta dalam segala hal yang baik, dan hal-hal baikpun akan mencintaimu 


Monday, July 10, 2017

PESANTRENKU PESANTREN WAHHABI (?)

24


Sebenarnya saya pribadi santai-santai saja ketika ada sebuah situs yang mencantumkan nama “rumah kedua” kami sebagai pondok yang beraliran wahhabi. Karena jaman dulu sebelum Pak Wahhab lahir, junjungan kita Nabi Besar Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam malah kerap dijuluki sebagai orang gila dan tukang sihir. Tapi memang seluruh urusan dan prilakunya menakjubkan sebagaimana persaksian ibunda kita, Aisyah RA. Jadi tuduhan tersebut tak pernah membuat beliau mutung dalam berdakwah. Sangat berbeda dengan saya yang mulai agak risih dengan tuduhan wahhabi pada kami, apalagi ketika “katanya” sudah ada beberapa akun IG yang menyebarkannya. Terlebih lagi ketika para saudara saya yang nahdliyyin kulluhum mulai bertanya-tanya, “pondokmu pondok apa?”

Sambil tersenyum dan memohon untuk berlalu, saya menjawab ,"Anu, pondok pesantren pakdhe :) menawi putranipun njenengan badhe dipondo'aken teng mriku, monggo. Sedayanipun beasiswa lo  :)" 

______________________________________________________



Sekitar sekian jam yang lalu, saya mendapat kiriman foto diatas dari salah seorang teman. Sebenarnya, tanpa membuat tulisan tanggapan pun tak apa. Tapi biarlah, sudah lama juga nggak posting di blog, dan tumben juga ada yang nanya kenapa saya kok gak posting lagi. Ya udah deh, mari bahas dari highlight ijo yang pertama, sampai terakhir.

Oke. Monggo dinikmati curhat kulo.


 *Lulusannya mudah berkata syirik dan bahkan mengkafirkan saudara kita

Untung saya membaca post njenengan bukan saat sedang minum. Kalau iya, bisa muncrat pak! Hahaha. 

Lulusan sini itu mudah berkata “Saya siap menikahi putri anda” pak!. Nah kalo njenengan dan teman-teman njenengan punya putri-putri sholihah yang siap nikah, monggo kirimi kami pesan. Lewat ustadz boleh, lewat jaringan pribadi langsung dengan saya lebih disarankan.

Mengkafirkan saudara njenengan?  Saudara yang mana? weleh weleh. Daripada mengkafirkan, mending saya ajak main PS. Terus yang kalah harus mbayari rentalnya. Pripun? 

Ssst. Jangan rame-rame, saya tau beberapa rental PS yang asyik pak. 


*Tawassul + Sholawatan

Keduprak kedubrung keduprak kedubrung, tet tet tet tet ta tak gentak joss!!!

Kurang lebih begitulah bunyi yang dikeluarkan sound atas masjid Al Falah Pondok Ibnu Katsir Jember tiap malam jumat, sekitar pukul 20.00-22.00. Tentu saja tanpa bunyi “tet tet tet tet ta tak gentak jos” karena itu bukan acara dangdutan. Kami sedang bersholawat rutinan simthud duror.

Saya kok jadi ragu ya, jangan-jangan kalian yang nuduh-nuduh itu ngerti gak sama sholawat simthud duror?

Dan kami ada 2 set alat al banjari, kalo njenengan yang nuduh-nuduh belum punya, bisa pinjam dulu alat kami, lalu mari sholawatan bareng. 

Shollu ‘ala sayyidinaa Muhammad!!!


*Ziarah Kubur

Aduh. Sudah bikin survei pak? Mmm, atau anda mau segera kami ziarahi?


*Tahlilan

Sebagian santri tahlilan kok tiap ada warga sekitar yang meninggal.

Nah itu tuh. Cuma sebagian kan? Lah sebagian lainnya gimana?

Kalo semua santri ikut tahlilan, yho ra kamot nggriya lan piringe pak !

Kalau keluarga/teman njenengan ada yang meninggal, atau njenengan sendiri barangkali, kami siap hadir di tahlilan kok. Siapkan saja akomodasi pulang pergi. Jangan lupa air minum disediakan juga, biar ndak seret waktu makan rawon. Kalau belum ada yang meninggal, kami siap kok untuk mendoakan agar segera anu...*eh

Agar senantiasa mendapat rahmat dan hidayah tentunya.


*Memperingati Maulid

Nun sewu pak, kami masih punya rekaman video acara maulid nabi yang diselenggarakan disini. Coba aja njenengan buka youtube. Nama channelnya "Media Ibnu Katsir". Jangan lupa subscribe nggeh?  Syukur-syukur kalau seluruh videonya di download dan dilihat. Coba dilihat semua videonya, barangkali njenengan menemukan kata-kata kebencian disana. 

Tapi kalau mau kesini sekarang, jajan dan berkatan maulidan tentu saja sudah habis pak.

Eh tapi jajan hari raya belum habis looo, monggo buruan kesini pak!!!

Dan jikalau anda berkenan untuk menjadi penceramah di acara mauludan kami, akan dengan sangat senang hati kami terima. Tapi mohon maaf kalau misalkan sambutan kami dan apa yang kami berikan untuk njenengan kurang berkenan di hati njenengan. Tapi kami sangat yakin kalau njenengan itu lillaahi ta’ala. Ikhlas pol. Nggeh kan?


*Istighotsah

Tanpa dengan disertai meningginya perasaan dalam hati, saya harus ungkapkan bahwa pondok kami juga ikut menjadi inisiator dan penggerak suksesnya acara “Menjunjung Tinggi Izzul Ulama wal Muslimin untuk Kemaslahatan Bangsa” yang dilaksanakan di gedung Soetardjo 2 Desember kemarin. 

Apa isi acaranya? Istighosah bersama-sama! Yang hadir ribuan pak! Iya ribuan! Kotak kuenya juga ribuan! apalagi gelas air mineralnya! 

Mboten percados? Masih ada file-file banner dan kartu panitia di komputer desainer kami. Tas saya yang talinya putus saat mengawal acara juga masih ada kok. Nggeh pak, putus. Harganya Rp. 15.000, beli bekas pula. Bahkan bayarnya baru beberapa bulan setelah pembelian pula. Eh sek sebentar, tak cari dulu. Kayaknya saya sudah lama gak liat tas itu hahaha 

Mau bikin acara serupa namun gak punya desainer handal? ah nanti bisa minta file mentahnya ke kami 😊 kan enak, tinggal edit-edit dikit, jadi deeeh. Tenang, kami nggak akan mempermasalahkan plagiarisme kok.

Toh makalah saya juga masih sering copy paste. 


*31. Pondok Pesantren Ibnu Katsir Jember 

Atas hidayah Allah SWT kami sadar, bahwa kami harus senantiasa mempertahankan iman kami. Dan njenengan pasti lebih tau, kalo orang beriman itu adalah orang yang tidak mengacungkan tangan dan mengatakan KAFIR pada saudaranya. Dan salah satu kriteria iman adalah dengan memuliakan tamu. 

Mari piknik ke Ibnu katsir pak. Kami punya wisma tamu yang wenak dan nyaman looo. Tuan rumah wisma tamu juga pandai memasak pak. Njenengan mau minta sate? ayam bakar? gulai? nggak usah minta pun, anda akan dilayani dengan pelayanan terbaik dari kami. Kami akan berusaha untuk memulyakan njenengan. Kalau butuh pijat, hubungi saya pribadi.

Kenapa?

Karena saya nggak berani masang tarif pijet. Cukup dengan memenuhi hajat njenengan, insyaAllah Allah akan "berada" dalam hajat kami. 

Tenang, layanan saya bukan pijet plus plus kok. Saya tau kalo njenengan amat menjaga diri dari maksiat. Tapi kalau njenengan memang mau yang plus plus, ada plus setrum listrik, ada plus arang bakar. Atau kalau njenengan mau plus ngunyah batu bata, juga bisa kami sediakan.

Oh ya jangan lupa, kalo misalnya njenengan jadi ke wisma tamu Ibnu Katsir, hubungi saya ya, biar saya bisa makan-makan enak juga pak :)

Mengenai ibadah sholat, jangan khawatir. Sholat shubuh kami pakai qunut kok, dzikir kami juga dzikir jahr. 

Wallaahu a'lam ^_^