Tuesday, April 26, 2016

Gajah di Pelupuk Mata Tak Tampak, Bakteri Tipes di Sebrang Lautan Tampak

11

*WARNING. Tulisan ini berisi konten-konten yang kurang pantas. Saya sarankan anda untuk tidak membacanya. Lalu mengapa saya menulisnya? Ah entahlah, saya hanya gelisah. Dan salah satu penenang kegelisahan saya adalah dengan menulis. Itupun kalau tulisannya jadi, kalau “ndak jadi” ya jadinya saya malah semakin gelisah… --‘

Suasana agak gelap saat itu. Lampu kamar sudah dimatikan, namun terdapat seberkas cahaya tampak masih berdekam ditempatnya. Cahaya tersebut berasal dari lampu teras kamar kos kami yang kemudian menyusup melalui celah jendela dan pintu yang sedikit terbuka.

Terdapat 3 makhluk kesepian yang sudah terlelap sembari saling menindih. Si Benjut berada ditengah, tangan si Ambles memeluk tubuh si Benjut, sementara kaki si Clurut ngeloni si Benjut. Sialnya, tumit si Clurut pas berada di atas (maaf) “organ kenikmatan masa depan” si Benjut . Entahlah, saya tak tau apakah si Benjut sudah benar-benar terlelap atau belum, namun dia terlihat seperti menikmati adegan yang diperankan dalam ketidaksadaran oleh 2 orang yang tidur di sampingnya. Mata si Benjut mengatup rapat, namun bibirnya tak henti mesam-mesem sedari tadi.

Bajindul, nampaknya si Benjut benar-benar menikmatinya.

Saya sendiri masih terjaga sekalipun mata saya sudah tertutup sekitar 3 menit yang lalu. Bohemian Rhapsody dan Love of My Life nya QUEEN belum mampu mengantarkan saya tidur. Saya memutuskan untuk memutar satu lagu lagi. Pilihan saya jatuh pada Cancer-nya MCR. Lagu sudah berhenti, kantuk belum juga menyambangi. Seusai headset saya berhenti memutar playlist andalan tersebut, sayup-sayup terdengar suara ceramah islami. Nampaknya si Dlahom masih siaga didepan laptopnya.

Cahaya laptop menyinari wajah buram si Dlahom. Saya bersyukur akhirnya si Dlahom mau melihat ceramah-ceramah agama. Ah dia melihatnya diwaktu teman-teman sudah terlelap.
Mungkin ia ingin menghindari riya’. Ah muka-muka mesum sepertimu ternyata diam-diam begitu mulia!  

Saya tersenyum simpul dengan mata saya yang masih tertutup. Namun tiba-tiba rasa su’udzan menyeruak dalam diri saya. Saya memutuskan untuk memicingkan mata, mengintipnya.

Posisi layar laptop si Dlahom menghadap barisan lemari. Sekitar 30 detik saya mengintipnya sambil berpura-pura tertidur, saya menyadari ketidak-beresan yang terjadi pada si Dlahom.

Nafasnya tampak memburu, wajahnya benar-benar terlihat ndlahom (rongga mulut seditik terbuka, melongo). Sesekali ia menggigit bibir bawahnya dengan gigi seri atas. Lawakan penceramah yang hampir membuat saya cekikikan tersebut harusnya membuat tawa si Dlahom meledak, (mengingat bahwa satu-satunya manusia yang bisa menyaingi kekonyolan saya adalah si Dlahom). Namun ia sama sekali tak bergeming! ia terus saja berusaha mengatur pernapasannya yang semakin ndak karuan.

What The Fun!!!

Saya tidak tahu apa yang akan diperbuat Tuhan pada kaca lemari si Clurut yang besarnya mengikuti bentuk pintunya. Yang jelas, kaca tersebut telah menyebarkan aib si Dlahom pada saya!. Saya dapat dengan jelas melihat penyebab memburunya nafas si Dlahom lewat pantulan cermin atas gambar layar laptopnya. Sound laptopnya memang membunyikan ceramah, namun layarnya menampilkan pergulatan dan pergumulan beberapa ikhwan dan akhwat syayaathiin! Kaca lemari tersebut menampilkan dengan gamblang adegan sekitar 6 orang yang tak mengenakan seheleai benangpun bersamaan, mengadu tubuh, berekspresi wajah penuh rintih dan berpeluh.

Lupakan pertindihan antara si Ambles, Benjut dan Clurut tadi. Kali ini si Dlahom benar-benar menunjukkan eksistensi pertindihan yang sesungguhnya! Pertindihan yang produktif! Pertindihan yang tak hanya membuat satu pihak saja yang merasakan nikmatnya, kemudian bermesam-mesem sendirian dengan ria seperti si Benjut! Pergulatan dan pergumulan yang mengajarkan bahwa memang seharusnya kenikmatan itu dibagi rata, bukan cuma milik individu semata!

Memutar video “bertegangan tinggi” dengan backsound ceramah benar-benar suatu perkara yang jenius! Saya jadi semakin yakin kalau masih banyak hal-hal mengesankan yang belum saya pelajari darimu, kawan! *eh

Dari contoh diatas, mungkin akan terasa “gimana gitu” bagi kita. Berani-beraninya sesuatu hal yang sakral (pengajian) dijadikan bungkus untuk menonton gituan. Mungkin anda akan berpikir betapa si Dlahom adalah anak kos berwajah buram yang betul-betul buram, nggak mbeneh, ndak apik.

Stop!!! Berhenti dulu hakim-menghakiminya!

Ada yang lebih bejat dari dia. Kyai cabul? Ada! Anggota MUI mesum? Ada! Apalagi hanya sekedar manusia dengan hutang dimana-mana seperti si Dlahom?

Bahkan saya mendengar beberapa cerita mengenai penghafal Al-Qur’an yang kemudian menyewa pelacur karena tidak kuat dengan godaan!

Disadari atau tidak, banyak realita yang bahkan kita sendiri yang menjadi fa’il-nya, kita sendiri yang memerankan, pada hakikatnya lebih bejat dari apa yang dilakukan oleh si Dlahom.

Anda butuh contoh? Bermuhasabahlah, pasti anda menemukannya. Kalau tetap ndak ketemu, itu sudah menjadi salah satu kebejatan anda; “tidak bisa instropeksi diri”. Namun saya yakin kalau hanya sebagian kecil saja dari anda-anda yang lebih bejat dari dia. 

Atau mungkin, hanya sebagian kecil saja yang lebih baik dari Dlahom?

Ini bukan dunia dimana setan bisa terbakar habis hanya dengan bacaan ayat kursi bung! Okelah kalau misalnya setan yang menggoda terbakar habis, lah apa setan yang lainnya ndak pengen balas dendam?

Na’uudu billaahi min dzaalik.. Allaahummar hamnaa bitarkil ma’aashiy Abadan. Rahmatilah kami dengan meninggalkan maksiat ya Rabb..

SO, WHAT IS THE POINT, MUSTOFA SYAFIQ? Apa inti dari tulisan ini? Apa yang hendak kau sampaikan sebenarnya?

Eh iya ya, mmm apa ya? Ah entahlah, mungkin ini adalah satu dari puluhan tulisan saya yang “ndak jadi”

Dan akhirnya, saya semakin gelisah.

Saturday, April 09, 2016

Ndredeg? Jatuh Cintalah :)

26


Cinta, satu kata penuh makna

Begitulah para mbak-mbak Cherrybelle yang paha dan ketiaknya kerap memicu istighfar kala mendefinisikan cinta. Singkat, namun bermakna luas dan masih ngambang ndak jelas. Jika dipahami dengan logika goblok-goblokan, berarti ada banyak makna yang bisa digunakan untuk mengartikan cinta. Entah itu rindu, jatuh hati, sayang, atau bahkan cinta juga bisa ditafsirkan sebagai  dangdut, soto lamongan dan masih banyak lagi. Anda bisa menjadi mufassir tanpa harus menempuh berbagai persyaratan yang njlimet untuk hal ini

Aku soto lamongan padamu 


Tahukah kamu? Selama ini aku sungguh mendangdutimu 

Jika kita memakai metode tafsir bil ma’tsur, cinta bahkan bisa ditafsirkan sebagai  sakit! Sesuai dengan lirik, “Cinta memang tak selamanya bisa indah, cinta juga bisa berubah menjadi sakit”. Lihat, Charly eks vokalis ST 12 melakukan penafsiran yang berani terhadap cinta! Dengan logika yang sama, kita bisa menafsirkan cinta sebagai, flu burung, tipes, muntaber, diare, dan porak! Tau porak nggak? Sungguh suatu penyakit yang amat sangat mengerikan dan memalukan! Nista! Jika tidak tau, anda bisa menanyakannya pada akun fb Zal dan Muhammad Wahyudi, find them in my fb friendlist.

Dan hari-hariku kini semakin berat, sebab aku memuntaberimu, namun kau tidak membalasnya serupa. Sungguh sakit hati ini kala aku tau bahwa kau ternyata lebih memilih untuk memuntaberi musuhku. Tapi tenanglah, aku ikhlas.

Apalagi para ikhwan galau penggemar lagu-lagu mellow islami dan dan pendamba keluarga SAMARA, bisa tuh dicoba. 


Aku memflu burungimu karena Allah

Duh

Haha, patut dicoba!. Eh tapi catat, jangan sampai salah menafsirkan flu burung. Ini flu burung yang penyakit  lo, bukan flu burung yang itu hahaha. *ups

Dan para akhwat yang ikut-ikutan galau bisa membalasnya dengan, 

Untukmu kakanda, yang tertulis sebagai pangeran adinda fii lauhil mahfuuzh, bersabarlah. Karena kupastikan diare ini kupersembahkan hanya untuk dikau kelak, agar dikau merasakan bagaimana manisnya diareku yang belum pernah kubagi pada laki-laki lain.

Ciamik!

Duhai, betapa indahnya bau badan berlebih! Eh salah. Betapa dahsyatnya cinta dengan penafsiran yang kreatif!

ih mas penulis mah bisanya cuma ngledek, lah menurut pean sendiri, cinta itu apa?”

Hahaha, apa ya? Bila definisi cinta yang beredar selama ini adalah takut kehilangan, ingin terus bersama, bahagia bila bersama dll, maka saya akan membuat definisi yang berbeda kali ini.

Cinta adalah ndredeg, sesederhana itu! Tau ndredeg kan? Yang ndak tau silahkan browsing dulu.

Coba di ingat, kalo ndak pernah yo pura-pura pernah aja. Hal yang kita cintai adalah hal yang akan sering membuat hati kita berdesir! Ndredeg! Injih nopo injih?

Jika kita mendengar nama yang kita cintai…

Jika orang yang kita cintai tiba-tiba kirim pesan kangen…

Jika orang yang kita cintai tiba-tiba datang kerumah untuk meminang…

Jika kita tau mereka ternyata tak datang untuk meminang, tapi mengantar undangan nikah mereka...

Jika kita menyaksikan orang lain bersanding dengan orang yang kita cintai di pelaminan…

(Kata orang yang pernah mengalaminya, hal itu bener-bener bikin) ndredeg brooo. Itulah cinta menurut saya.

Ndredeg, sesederhana itu!

Tau gak? Allah juga membuat ndredeg sebagai salah satu tanda cinta looo, ndak percaya? baca aja Al-Anfal ayat 2, jangan sampai keliru mbuka' An-Nisaa’ ayat 3 yaa ^_^

Pernah jatuh dari sepeda motor? Kecelakaan kecil? Ndredeg kan? Berarti anda cinta jatuh dari sepeda motor.

Pernah ikut ulangan? Pengawas sudah mengancam di awal, bahwa nolehpun tidak akan dia toleransi. Lah anda ternyata ketahuan ngrepek, lihat catatan. Ndredeg kan? Berarti anda jatuh cinta pada pada pengawas. (yang ini bukan pengalaman penulis)

Tiba-tiba dapet sms yang menyatakan bahwa pacar anda hamil. Ndredeg? Ternyata yang menghamilinya adalah mantan anda sendiri. Eh tunggu, berarti anda...???!!! 

Memecahkan vas bunga kesayangan majikan, meminjam hp bos galak lalu hpnya hilang, dan sebagainya. Ndredeg kan?


Jika anda kemudian mengalami pembegalan di jalan, usahakan jangan sampai ndredeg! Kecuali kalo yang mbegal itu rombongan JKT48, silahkan ndredeg riaaa.

Ah entahlah, ah sudahlah, ah janganlah dimasukkan hati. Saya menulis hal diatas hanya sebagai wasilah agar saya bisa ngantuk. Kepala lagi pening, suhu badan kembali memanas, setidaknya dengan menulis, akhirnya saya bisa mengantuk. Bye, saya tidur dulu yaaa


Dan untukmu tipes, Assalaamualaikum :)

*catatan untuk para manusia  yang biasanya mengatasnamakan Allah untuk membungkus cinta palsu yang hanya dipenuhi nafsu. Sudahlah guys. Ada konsekuensi besar yang mengintai antum. Wallahi. Saya bukan orang yang baik pula, maka mari sama-sama memperbaiki diri, sama-sama saling mendoakan. Jangan malah pedang-pedangan (baik dalam arti hakiki dan majasi), mboten ilok.



Thursday, March 17, 2016

Terlalu Biasa

9

Kenapa?

Mengapa?

Ah tak usah terlalu mempedulikan diksi kata. Semuanya sama. Apa sama dengan bagaimana, kapan sama dengan dimana. Iya sama dengan tidak, ada sama dengan tidak ada, dan pikiranku semakin lama semakin sama dengan orang gila.

Ruangan  terasa semakin menyempit, mataku semakin berkunang-kunang. Bapak tua berwajah garang didepanku membetulkan posisi topi koboi coklatnya yang sedikit miring ke kiri, lalu mencabut sebilah mandau yang terselip dipinggang kanannya. Amboooii.  Aku berusaha untuk tersenyum, senyum yang kutujukan untuk mengejeknya. Kusempatkan pula untuk meludah ke arah wajahnya. Dengan ibu jari dan telunjuk tangan kirinya yang penuh dengan berbagai macam akik, ia membuka kaca mata hitamnya, membuangnya begitu saja entah kemana. Amarah memancar dengan jelas dari matanya kali ini.




“Keparat!!! @#$%^&*&^%$#@#$%^&*&^%$#@!!!”, Pak Tua tersebut mengumpat sembari mengacungkan mandaunya. Aku tak bisa mendengar umpatan Pak Tua tersebut dengan jelas, telingaku masih berdengung dengan hebat. Entah kenapa tiba-tiba aku bisa duduk di sebuah kursi dengan tangan dan kaki terikat semenjak aku membuka mata 5 menit yang lalu. Tubuhku terasa nyeri dimana-mana. Entah darimana darah mengucur, yang jelas, aku dapat melihat simbahan darahku dilantai.

“AYO AKUI SAJA!!!”, bentaknya.

“AYO NGAKU!!!”, dia mengulanginya sambil menyayunkan mata mandau yang tumpul ke leher kiriku. Aku mengerang. Apakah gerangan yang harus kuakui? Eranganku belum usai, tapi ia tak segan mendaratkan tendangan T ke dadaku dengan dinginnya. Aku terjungkal kebelakang, menindih tanganku sendiri yang masih terikat dengan kuat dibelakang kursi. Sakit. Kepalaku membentur lantai cukup keras. Tenaga bandot tua yang satu ini rasanya haram untuk diremehkan.

Ah sial. Apa yang harus kuakui?.  Ia mendekat padaku, lalu jongkok dan kembali mengacungkan goloknya. Kali ini tak main-main, mata mandaunya yang tajam bersentuhan langsung dengan leherku!. Gegabah sedikit saja, bisa putus tergorok leher ini.

“SUDAHLAH AKUI SAJA KALAU KAU ITU MANUSIA!!!”, dia berteriak berusaha menakut-nakutiku. Sedangkan aku bukanlah ayam yang takut dengan getakan. Emangnya dia apaan? Jin? Woi kita ini sama sama manusia!. Aku kebingungan, sedangkan ia semakin geram.  Aku hendak menjawab, namun suaraku benar-benar parau. Aku memilih untuk menutup mata. Dan nampaknya, Pak Tua tersebut memilih untuk menghunjamkan mandaunya sambil berbisik, “Kau memang hanya sebatas manusia”.

Aku terbangun. Bajuku basah dengan keringat dingin. 2 kaplet obat Tera-F yang  kutenggak sekaligus sebelum tidur dimana perkaplet obat tersebut mengandung 650 mg paracetamol sukses menurunkan demamku. Untuk yang ketiga kalinya, aku harus terbaring seminggu karena gejala tipes. Sebenarnya aku sudah diwanti-wanti agar aku tak melakukan beberapa hal dan memakan beberapa makanan yang dapat memicu tipesku kembali. Namun entahlah, aku selalu tergoda untuk melanggarnya.

Kau hanya manusia biasa. Iya, kata-kata Pak Tua dari mimpiku tadi masih terngiang cukup jelas. Aku tertegun dan merenung. Ya, aku memang manusia biasa, sangatlah biasa.

Manusia biasa. Dan tujuanku untuk melampaui semua orang yang yang ingin kulampaui, menjadi serba bisa di segala hal, dan ingin paham banyak hal adalah salah besar! Iya, salah. Karena aku hanyalah...

Manusia biasa. Semua tujuanku membuatku terlalu memaksakan tubuh, melupakan haknya, melampaui batasnya. Awalnya aku merasa bisa dengan mengatur jadwal tidur sedemikian rupa, membaca ini itu, menghafalkan ini itu, mencoba menerapkan ini itu, dan lain lain. Dan akhirnya, tipes didatangkan Tuhan sebagai pengingat kalau aku hanyalah...

Manusia biasa. Aku pernah berbicara tak akan jatuh cinta sebelum waktunya. Meskipun akhirnya aku tak akan mengungkapkan sebelum merasa pantas,  meskipun aku telah belajar untuk mengendalikan pandangan, namun pesonamu benar-benar membuatku mengakui kalau aku memanglah...

Manusia Biasa. Aku berusaha untuk tidak pulang sekalipun liburan panjang. Namun terkadang, aku terlalu rindu pulang untuk sekedar memijit ibu, atau minta pada ibu untuk mengusap-usap punggungku. Rasa rindu adalah suatu tanda kalau diriku seorang...

Manusia biasa. Aku terkadang menulis sajak-sajak yang nggak jelas untuk meluapkan perasaanku. Yaaaa, i'm an introvert ! Aku lebih suka menuliskan hari-hariku pada buku harian coklat daripada harus mengungkapkannya secara lisan. 

"Nulis diary? Nulis puisi? Kok mirip cewek banget sih..."

Mirip cewek atau apapun itu aku gak peduli omonganmu. Karena aku hanyalah...

Manusia biasa. Kadang aku cuek dengan ocehan orang. Sekalipun itu ocehan-ocehan kasar yang merendahkan. Dan terkadang pula nasehat lembut malah membuatku meradang. Aku tak tau apa yang terjadi pada diriku. Ketidaktauan ini menegaskan statusku sebagai...

Manusia biasa. Sekalipun aku tau bahwa 4 Imam madzhab mengharamkan alat-alat musik, terkadang aku ingin kembali memegang gitar sambil meniup harmonica, menyanyikan lagu Terlalu Manis, Bento, dan Seperti Para Koruptor bareng-bareng bersama kawan-kawan just like that old time, manggung di cafe bareng mas Tio, dan lain lain. 

Ah benar. Tak usah diteruskan. Aku memang hanya sebatas manusia yang terlalu biasa. Namun setidaknya tak pernah terbersit dipikiranku untuk mencabuli seseorang, atau menikah dengan sesama laki-laki.

Haha..

Saturday, January 09, 2016

Embo Wes

4





Belum bisa dibilang santri kalo masih belum ngghosob sandal..

-Anonim

Entah sudah yang keberapa kalinya, saya bangun tidur dengan perasaan takut dan ndredeg. Tentunya bukan karena mencemaskan urusan umat islam saat ini. Ayolah, saya tidak sesuci itu..

Dewi Fortuna yang masih kelelahan setelah membantu Southampton mencukur Arsenal dengan 4 gol tanpa balas, membuatnya tidak bisa hadir dan berpihak pada saya dihari itu. Yap, saya harus mengawali hari dengan keapesan yang timbul karena kekonyolan yang harusnya tak saya lakukan.

Sejadah yang saya gunakan untuk menyelimuti kaki ditarik oleh seseoorang, pundak saya ditepuk dengan pelan. Seperti biasa, saya langsung mengambil posisi duduk dan memandang wajah orang yang membangunkan.

Deg, jantung saya ndruedeg.

Ah sialaaan, yang membangunkan saya ternyata Ust Didik.

"Kan wajar broo dibangunkan ustad dipagi hari? opo seng mbok khawatirkan?"

Wajar gundulmu. Saat dibangunkan Ust Didik, saya langsung menyadari ada 3 kesalahan yang saya lakukan.

Beberapa hal harus saya laksanakan di malam hari membuat mata ngantuk bukan kepalang. Setelah sholat Shubuh, saya putuskan untuk tidur kembali. Agar tidak ketahuan, saya memilih gazebo Abu Bakar sebagai tempat pelarian saya. Tanpa bakso-basi, saya langsung melelapkan diri, meninggalkan halaqah ngaji, meninggalkan pengajian rutin Ust Kho' yang wajib untuk dihadiri seluruh santri.

 3 kesalahan yang cukup fatal. Kabur-tidur, ndak ngaji, ndak ikut pengajian. Saya memicu otak untuk menemukan jawaban dari 14 kemungkinan nasehat dan pertanyaan yang akan di ajukan Ust Didik pada saya. Dan apa yang keluar dari Ust Didik sama sekali tidak terdapat dalam prediksi saya. Ternyata ada 1 kesalahan lagi yang tidak saya sadari. Sial!

"Kamu tahu itu sandal siapa?" , Ust Didik bertanya dengan mimik datar. Saya tak segera menjawabnya. Beliau mengulangi pertanyaan tersebut. Saya menggeleng kepala.

"Nggak tau, Ustad..", jawaban saya membuat beliau menghela nafas agak panjang. Saat itu saya baru sadar, kalau sandal yang saya pakai ke gazebo adalah sandal beliau.

"Oh dari tadi saya cari sandal saya, ternyata ada disini. Cepet ke masjid!", beliau menggunakan nada semi-perintah. Muka saya tertunduk. Sudah kabur dari ngaji dan pengajian, tidur pula. Kaburnya pun dengan ngghoshob sandal ustad. Apes.

Selesai pengajian, beberapa teman menceritakan tentang bagaimana Ust Didik yang berputar-putar berkali kali, kebingungan, dari masjid ke kamar santri, dari kamar santri ke kamar mandi, menunggu anak yang sedang berada di kamar mandi sambil berharap sandalnya dibawa anak tersebut. Saya merasa sangat berdosa, apalagi dalam kondisi istri beliau yang baru saja meelahirkan, beliau pasti ingin cepat-cepat ke rumah untuk menjaga istri dan bayi mereka, bukan malah muter-muter nyari sandal.

Wes talah, lak pengen ngghosob sandal, telitien disek rek iku sandale sopo...






Friday, December 04, 2015

Sudahlah, Husnudzon aja...

2




Jauhnya saya dari televisi dan jarangnya saya berinteraksi secara positif dengan internet sukses menggagalkan keinginan saya menjadi anak yang kekinian. Sebenarnya sih, saya lumayan sering internetan. Tapi mangamint.com, facebook.com, dan samehadaku.net selalu saja menjadi pelabuhan tombol enter di keyboard laptop saya.

1 Dollar AS seharga Nasgor Istimewa Plus Plus + Es Buah Rumput Laut Nanang 99[1], kebakaran hutan yang disengaja disana (nunjuk entah kemana), pergolakan mengenai Freeport, skenario pertemuan Jokowi dengan anak pedalaman, sampai skandal pak Pasha Ungu dengan bu Angel Karamoy. Huh, mana saya tau semua itu selama ini?

Berawal dari beberapa link yang tersebar di facebook mengenai nyeplosnya Ustadz Anu (Nama disamarkan) yang katanya merakyat dan mudah diterima masyarakat, pintu hati saya jadi terbuka. Lambat laun, history browser saya tidak hanya didominasi oleh 3 alamat diatas.

Jama’aaaah oooo jama’aaah...

Perlu diketahui wahai jama’ah, sebelum saya ber-uzlah, saya dulunya gemar sekali nonton tv. Once upon a time, saat jari saya salah memencet tombol remote tv, saluran berganti pada suatu acara dakwah yang pematerinya belum pernah saya lihat sebelumnya. Sejak awal saya menonton acara dakwah itu, kelima panca indra saya sudah meronta-ronta untuk segera mengganti channel ke saluran lain. Tapi tiap kali saya menggantinya, ibu saya langsung memasang muka melas untuk menggantinya kembali ke acara dakwah tadi. Meskipun saya bukan orang yang paham mengenai agama dan sangat butuh pendalaman mengenai hal tersebut, namun rasa nggak sreg’e ati memang sulit untuk dihindari. Akhirnya saya memilih untuk meninggalkan tv, lalu membuka laptop dan memainkan PES 2013 bajakan.

Ketidakcocokan hati saya terhadap beliau terbukti benar. Beragam kontroversi bermunculan. Mulai dari nangkring di atas mimbar dan fatwa celotehan mengenai ketidakharusan memilih pemimpin yang Islam, dimana beliau kemudian membuat sebuah penganalogian pemilihan pemimpin itu seperti pemilihan pilot pesawat terbang. Whooops, api tersulut, ajang penghujatan publik dimulai. Ajang yang bebas dan tanpa syarat untuk menjadi peserta itu sontak membuat lautan manusia mengikutinya. Mulai dari para manusia yang pengetahuan agamanya sudah berada dalam level “jangan diragukan lagi”, sampai para manusia dengan level sangat meragukan bersatu padu, bahu membahu menghujat si Ustadz Anu.

Sek, tunggu sebentar

Jama’aaaah oooo jama’aaah, tahukah anda kalau nabi Muhammad SAW yang kepribadiannya beyond imagination juga pernah ditegur oleh Allah beberapa kali?

“Mana mungkin Nabi Muhammad nglakuin kesalahan? Goblok elu yak? Dasar Islam KTP!”
“Eh tau dari mana lu? Jangan ngawur kalo ngomong!”

Aduh. Mboten percados? Monggo dibaca Al-Qurannya... Bahkan Allah SWT tanpa segan-segan mencantumkan teguran tersebut didalam Al-Qur’an.
Surat apa? Ayat berapa? Nggak usah sok ribet ngekhatamin Al-Quran sekaligus baca artinya. Nggak usah susah-susah mempelajari Asbab An Nuzulnya, apalagi tafsir-tafsirnya. Nggak usah update status,
”Alhamdulillaah, baru aja khatamin Al-Quran. Hafalanku sekarang juga nambah 2 Juz. Semoga berkah dunia akhirat aamiiiin #keepFighting #Khataman #SemangatMenghafalAlQur’an.” 
Pesantren Al-Google siap menampung ketidaksempatan kita akan membaca dan mempelajari Al-Qur’an karena urusan dan pencarian akan kepuasan dunia...

Jama’aaah ooo jama’aaah, ayo dipikir. Nabi Muhammad yang semulia itu saja pernah ditegur Allah, apalagi ustadz Anu yang notabene hanya sebatas manusia yang terlalu biasa?

Namun saya curiga... 

Jangan-jangan ini memang skenario dari ustadz Anu agar kita semua mempelajari dalil mengenai masalah kepemimpinan dalam Islam. Gimana?Metode dakwah  bil hikmah beliau keren kan?

Nabi Musa AS mempunyai mu’jizat membelah lautan hanya dengan bermodalkan sebilah tongkat. Bahkan Nabi sekelas beliaupun ternyata masih gagal paham atas apa-apa yang dilakukan oleh Nabi Khidir. Sekaliber Umar bin Khattab, yang keberadaannya mampu membuat para Setan tunggang langgang pun tidak sadar jika manusia tampan yang datang dan menanyakan pengertian Islam, Iman dan Ihsan pada Rasulullah adalah malaikat Jibril. Lalu, apalah daya kita menangkap pesan mulia dibalik tindakan dan ucapan dari ustadz Anu?

Jama’aah ooo jama’aaah...

Sudahlaaah. Saya memohon dengan amat sangat, janganlah kalian  menghujat beliau lagi. Kalau seumpamanya beliau nesu lalu mutung dakwah karena terus-menerus kalian hujat, siapa lagi ulama’ yang akan menyadarkan Para Pencari Tu(h)an yang semakin merajalela?
Sisi baik saya akhirnya memaksa membuat saya menyimpulkan kalau kontroversi yang beliau cuatkan ke permukaan hanyalah sebuah propaganda belaka! Itu semua adalah cara dan pengorbanan beliau agar kita mempelajari Islam lebih dalam lagi, sekalipun hanya belajar di Pesantren Al-Google.
Husnudzan memang selalu indah kan, Mblo?





[1] Menurut data dari msn.com pada tanggal 26 September 2015, nilai 1 Dollar AS setara dengan Rp. 13.755,00

Wednesday, November 25, 2015

Kerasukan

0

Aku menyimpan wajahmu dalam getir waktu, menjadi butir gerimis yang menjatuhkan bulir tangis mataku. (@Ojinx_) 
*** 
Sialan sialan sialaan... Satu persatu bayang-bayang rindu yang bertalu-talu mulai mengambil alih diriku. Hampir tiga jam kuhabiskan hanya untuk melamunkan berbagai memoar, lengkap dengan pergantian senyum dan beberapa butir air mata yang tak ku sadari mulai menggerayang. Dari dalam tempat yang suci, aku beranjak menepi, bersembunyi dalam sepi...


Aneh, tanpa diketahui sabab-musababnya, aku mulai merindukan omelan ibu karena kemalasanku mencuci piring, rengekan adikku, sambal buatan bapak, rujak mbak Ni, ah segala hal yang berbau kampung halaman memang selalu sukses merangsang aktifnya sisi melankolisku yang ingin kusembunyikan dari dunia.

Aku juga mulai merindukan merdunya tilawah mas Adi dan mas Parto, perdebatan dengan mas Idin, hinaan mas Wahyu, keperkasaan Tama bermain PES, kemisteriusan mas Fatoni, permainan futsal mas Fian, kentut mas Abid, seruan gibol mas Fadli dan masih banyak lagi. Juga bagaimana kecanggungan kami kepada ustad Laghani ketika mendengar beliau melantunkan adzan saat tidak ada satupun anak yang berada di masjid untuk menyerukan kalimat-kalimat suci yang kini mulai terabaikan. Al Fanani, kau harus bertanggung jawab atas kerinduan ini!

Tak hanya berhenti disitu. Betapa menyebalkannya sikap Anang membuatku merindu. Begitu pula berbagai kenangan bersama dengan Ilham, Tiko, Rio dan sambal gorengnya, duo Rijal, Widy, Memet, Aho dan kiriman nasinya, Agil, Puguh, mas Ajis, mas Tirto, mas Shindu, mas Bustenji, mas Wildan, mas Rijal, mas Amilin, mas Fikri dll. Berbagai momen mengenai betapa konyol dan panasnya rivalitas antara kamar wetan dengan kamar lor
Tak ketinggalan pula pak Kyai, bu Nyai dan mbak Dinda yang jadi "perebutan" kami kendati dia sudah bersuami. Oh ya, jangan khawatir, lesung pipit senyumane samean isih tergambar jelas dimemoriku mas Pur, semoga kau bahagia disana...

Tak ketinggalan Reyhan, Yusron, Udin, Faruq, Yogi, Romi, ah seluruh teman sekelas dan lain kelas pokok'e wes. Kompetisi PES, Jebakan tipe-x, saling menyembunyikan buku lalu menggambar "anu" dibuku teman-teman yang disembunyikan, persekongkolan untuk ngetrek-ngetrek Ponidi, kebejatan Dodon dkk, "kefasihan" Vicky saat membaca teks dengan cepat, saling tuduh dan fitnah atas adanya kentut maupun "mengada-adanya" kentut dalam kelas. 
Hahaha. Juga masih tergambar jelas, bagaimana perbedaan air muka kalian saat melihat pak Khol** dengan melihat bu Khoir. 
Kenangan akan dosa pada banyak guru, terutama pada bu Indah. Heh wes njaluk sepuro a rek? 
Atas semua itu, bagaimana mungkin aku melupakannya? Hei, Yovie masih kalian ingat kaaan? 

Militansi yang diajarkan mas Nuzur, pak Hadi, mas Hutri, bang Apoy dan banyaaaak lagi teman-teman aktivis dari berbagai golongan lainnya juga turut serta menyumbang haru yang harus ku jalani sendiri.

Begitu pula dengan kekonyolan saat SMP, khususnya di kelas SOGE. Huh, tidak ada yang bisa kuungkapkan mengenai kalian. You are simply the best!
Lebih khusus lagi untuk Ajiji, Yudha, Mamak. Eh tenan sepurane rek lek aku ngilang, gak tau ngabari, gak tau silaturrahmi. Sepuraneeeee. Penjalukan sepuraku isih durung kasep kan? 

Ah sialan, entah apa yang merasukiku sekarang. Tengah malam sudah terlewati. Aku lantas berbaring. Pojok kanan masjid Al Falah memang paling nyaman untuk melelapkan diri. 
***
Kelak, jika kau tak ditakdirkan bersamaku, simpanlah kita pada tempat paling bahagia. (@bilangansenja)

Friday, November 20, 2015

Sang Waktu

0




SANG WAKTU


........................ Sudahlah, itu saja curahan hatiku. Mungkin ini terakhir kalinya aku menulis untukmu, Mas Fahri.. Terimakasih atas semua hal yang telah kau ajarkan padaku. Terimakasih atas seluruh cintamu yang kau bungkus rapi hanya untuk menyembunyikan bagaimana perasaanmu. Namun kau terlalu bodoh untuk menyembunyikannya Mas. Aku tahu jika kau mencintaiku. Tapi cukup sampai disini Mas. Kita tak mungkin lagi bersama. Doakan aku ya Mas, sama seperti doa yang kau lafadzkan tiap kali kau selesai mengajari kami mengaji. Aku juga akan selalu berdoa untukmu, agar kau selalu bahagia dengan kehidupanmu yang baru :)

            Hampir 2 lembar kertas ia gunakan untuk menulis diary kali ini. Alya menutup diarynya dengan terisak. Ia mencoba tersenyum, namun lagi-lagi air mata bercucuran dalam senyumnya. Sementara, rintik hujan yang semakin deras diluar sana menjadi bukti gagalnya mega menyembunyikan tangisnya.

**

            Membaca buku, tertidur, lalu terbangun. Kepalaku pening, mulutku kering, Ah rasanya panas sekali cuaca kali ini. Beberapa butir keringat terlihat berlomba-lomba menuruni wajahku. Langsung saja bibirku menyeruput air mineral dalam botol sedikit demi sedikit untuk menghematnya.
            Belum sampai lima detik mataku terbuka, aku mencium keberadaan dari benda yang sangat kubenci. Asap rokok. Seketika hati dan pikiranku menggerutu. Menggerutu pada bapak-bapak di depan dan belakang kursi bis yang kududuki. Bapak-bapak yang tak acuh, bahkan tertawa-tawa sambil memegang rokok yang sesekali mereka isap. Yang lebih membuatku sebal adalah, saat aku sadar bahwa disamping kiriku, ada seorang ibu yang tengah berjibaku dengan ujung selendang untuk menghalau asap rokok, selendang yang juga ia gunakan untuk menggendong seorang bayi dengan wajah memerah kepanasan.
            “Njenengan mboten pindah kursi mawon bu?”, aku mengambil ancang-ancang untuk berpindah tempat duduk, sambil menyarankan agar ibu tersebut  berpindah pula, daripada ia dan anaknya harus menanggung akibat dari asap rokok yang mendekam di paru-paru mereka, asap yang selalu mengintai dan mencari saat yang tepat untuk menghancurkan inangnya.
            Ibu tersebut diam saja, ia seperti tak menganggapku ada. Setelah aku berpindah ke kursi belakang, ia memanggil seorang bapak didepannya yang tengah asyik mengisap rokoknya untuk duduk disampingnya. Oh, ternyata bapak yang merokok tersebut adalah suaminya. Meskipun mereka telah duduk dalam satu deret kursi, bapak tersebut masih saja merokok. Si Ibu tersebut mulai kewalahan menyingkirkan asap rokok yang mengebul kesana kemari tanpa dosa. Ah aku tak habis pikir, ayah macam apa yang tega merokok didepan istri dan anaknya yang masih bayi?
            Aku kembali larut dalam buku Nalar Ayat-Ayat Semesta karya Agus Purwanto. Hanya sekedar membaca-baca ringan. Nampaknya tidak ada ibrah[1] yang bisa kuserap dalam kondisi seperti ini, pikiranku sedang tidak fokus. Terlalu banyak hal yang diproses secara bersamaan dalam otakku. Huh rasanya RAM otak yang begitu kecil ini sudah mulai menampakkan gejala-gejala overload. Akhirnya kembali tidur menjadi pilihan terakhirku untuk menghabiskan waktu di bis sebelum sampai di tujuan. Saat itu aku tak sadar, jika ternyata ada sepasang mata milik wanita berkerudung biru yang terus memperhatikanku dari tadi.
            Tiba-tiba seluruh ruangan bis menjadi silau, aku merasakan tubuhku bergetar hebat dalam sesaat. Kelopak mataku menutup dengan paksa, mulutku terkatup rapat tak bisa kubuka. Aku tak punya kesempatan untuk bertanya-tanya. Hei, apakah gerangan yang terjadi?

 **

            Srak-srek... srak srek. Alya masih saja sibuk membolak-balik buku paket fisikanya yang tak kunjung ia mengerti. Sesekali ia berbaring, sekedar membalas beberapa mention di twitter dan pesan BBM yang tak henti meraung-raung sedari tadi. Di depannya, laptop asus putih miliknya nampak mengiba. White coffee di sampingnya pun juga mulai enggan merayu agar segera dinikmati. Uap panas kopi tersebut mulai memudar. Tak peduli uap kopi atau apapun itu, Sang Waktu memang selalu tega merenggut apapun sesuka hati.
            Wajah ayunya merengut, dahinya berkerut, isi kepalanya makin berkecamuk. Tugas membuat cover design untuk majalah bulanan sekolah masih belum tersentuh, pelajaran fisika yang akan diujikan tak kunjung ia pahami, belum lagi mengenai tarian tradisional yang harus ia tampilkan untuk penilaian besok. Jam dinding yang bertuliskan Bank BNI membentuk sudut 30°, menunjukkan bahwa hari baru kurang sekitar satu jam lagi. Ia mencoba memejamkan mata sejenak setelah memasang alarm agar berbunyi 20 menit kemudian. Alarm memang berbunyi kencang, namun adzan shubuhlah yang kemudian membangunkannya. Ia terbangun dengan penuh penyesalan karena telah terlena dengan lelah raganya. Kali ini ia memasang mimik sedih pada wajah ayunya. Sepertinya Alya cukup cemas dan panik. Belum ada pekerjaan yang tuntas ia selesaikan, begitu pula dengan beberapa hal yang harus ia persiapkan seperti ulangan fisika dan tarian yang harus ia tampilkan hari ini. Jantungnya berdegup kencang, keringat dingin tiba-tiba bermunculan dari tengkuknya. Sayangnya, raut muka yang ia pasang dan kondisi yang ia alami belum bisa mengambil alih pesona dirinya.
            Hanya berjarak beberapa kedip mata, jarum kecil dari jam dinding tiba-tiba dengan berani menunjuk angka 7. Yang mulanya beranjak terang, tiba-tiba langit menjadi pekat. Gelap, matahari seperti memancarkan cahaya hitam, menghapus keberadaan tiap-tiap cahaya yang mencoba menjadi pahlawan. Mungkin Sang Waktu sedang berulah. Detik berdetak dengan cepatnya. Bahkan jam tangan dan jam dinding yang mati pun mencoba memaksakan diri mereka hanya untuk ikut memutar jarum mengikuti kehendak Sang Waktu. Tak terasa, 5 tahun terloncati begitu saja.                       
            Kini Alya menjadi seorang gadis yang bisa dibilang cukup sukses. Sempat menunda kuliah selama 2 tahun, kini ia menjadi owner dari sebuah usaha Garment yang paling tersohor se-saentero kota. Ia menjalankan usahanya sambil berkuliah. Tak hanya itu, ia juga menjadi guru mengaji di sekitar tempat tinggalnya. Sang Waktu menempanya menjadi gadis dengan paras ayu, berprestasi, berpenghasilan, religius pula. Bahkan dengan uang yang ia kumpulkan, Alya hampir menyelesaikan pembangunan suatu lembaga pendidikan berbasis wirausaha dan keagamaan khusus untuk anak yatim piatu.
            Dengan tingkat kesuksesan seperti itu di usia mudanya, ia masih merasa tidak tenang. Ya, ia belum menikah. Seluruh keluarganya terus mendesak agar Alya segera menikah. Sebenarnya banyak yang telah meminangnya, mulai dari golongan konglomerat sampai para pemuda dari kaum marjinal, mulai dari manusia yang memiliki trah darah biru, sampai manusia terpuruk yang kesehariannya hanya dihabiskan dengan menonton film biru. Tak sedikit pula yang mundur karena karena merasa minder pada Alya. Entahlah, Alya selalu memiliki alasan yang tak jelas saat menolak mereka semua.
            Angin berhembus tak beraturan. Ia memaksa dedaunan untuk gugur segugur-gugurnya. Suhu menjadi sangat dingin, lalu menjadi sangat panas di beberapa detik berikutnya. Nampaknya Sang Waktu punya banyak cara untuk mempermainkan kehidupan. Lagi-lagi, 2 tahun berjalan bagai beberapa kedipan mata saja. 
            Aku terjaga dari tidurku. Buku Nalar Ayat-Ayat Semesta masih terletak di atas pahaku, tergenggam  dengan tangan kiriku. Kembali ku seruput air mineral yang tinggal ¼ dari wadahnya. Kuperhatikan sekitar, nampaknya susunan dari penumpang bis sedikit berubah. Sekelebat teringat dalam kepalaku, rasanya tadi ada cahaya yang sangat menyilaukan disini, ah entahlah, mungkin hanya halusinasi semata. Beberapa menit setelah terbangun, seorang perempuan dengan kerudung biru berjalan mendatangiku dengan wajah berbinar.
            “Assalamu'alaikum. Mas Fahri kan? Sampean masih ingat saya mas?”, perempuan itu menyapaku terlebih dahulu, lalu duduk tepat disampingku. Wajahnya memang terlihat familiar, namun aku gagal menemukan nama perempuan tersebut dalam ratusan folder yang sudah lama tidak pernah kubuka dalam otakku. Aku menyerah.
            “Hehe, maaf saya lupa, anda siapa ya?”, aku menjawabnya dengan bahasa sehalus mungkin. Wajahnya yang semula berbinar, sekarang terlihat sedikit meredup. Aku mengutuk salah satu kelemahan dari diriku yang fatal, yaitu mudah melupakan nama dan wajah seseorang.
            “Ihh mas ini kok lupa sih, aku Dini mas, Sukma Andini Raharja”, ujarnya riang. Dini, ya aku mengingatnya. Hei, apakah wajahnya berubah? Ah aku lupa. Seingatku, Dini adalah temanku dari SD hingga SMA. Dini, anak yang telah mempermalukanku dihadapan seluruh anggota OSIS dan teman yang lainnya saat SMA. Anak yang telah menemukan dan membaca puisi rahasiaku secara terbuka di kantin. Puisi yang ku tulis mengenai Alya. Belasan puisi yang mengisahkan suatu keanggunan yang tak pernah bisa digapai oleh diriku yang sarat akan kehinaan.
            “Gimana kabarnya mas? Eh kemana aja sih kok gak ada kabar dalam 7 tahun terakhir?”, lanjutnya. Aku mulai menjelaskan panjang lebar. Apa yang kulakukan dalam beberapa tahun terakhir, alasanku menonaktifkan seluruh akun media sosial, mengganti nomer handphone, dan banyak lainnya. Dini menyimak dengan seksama, sambil sesekali bertanya beberapa hal yang lainnya.
            “Oh iya mas, masih ingat ke Alya? Dia baru saja nikah lo minggu kemarin”, tiba-tiba Dini mengatakan hal yang sangat tidak ingin kudengar. Dia mengatakannya seperti seorang anak kecil yang tengah memberi tahu ibunya bahwa dia memperoleh nilai sempurna di tiap-tiap mata pelajaran ujian. Lututku lemas, jantungku berdegup semakin cepat. “Sayang mas, padahal selama ini sampean lah orang yang ditunggu Alya. Tau nggak, dia sudah nolak belasan perasaan pria yang ingin melamarnya, hanya untuk menunggu kedatangan dan pinangan dari sampean, eh ternyata yang ditunggu-tunggu malah ga ada kabar sama sekali. Payah sampean mas!”, tutur Dini, dengan nada kekecewaan. Aku tak perlu mengkonfirmasi kebenaran cerita tersebut. Aku berteman dengannya mulai SD hingga SMA, aku mulai mengingat tentang dirinya, aku ingat bagaimana jujurnya Dini dalam menyampaikan berita.
            Dadaku terasa sesak. Ternyata Alya selama ini menunggu diriku. Andai aku tahu perasaannya terhadapku, aku pasti tak perlu merasa minder untuk menyatakan perasaanku padanya. Ah bodohnya, bodohnya aku yang hanya berani menyapanya lewat media sosial. Betapa bodohnya aku yang hanya berani berkomunikasi dengannya saat ia memintaku untuk mengajarinya berbagai mata pelajaran, itupun melalui media sosial. Bodohnya aku yang hanya bisa melukis impian untuk bisa bersamanya dalam berbagai puisi rahasia. Ah andai aku bisa kembali ke masa saat SMA, aku pasti akan …
            Belum sempat menyelesaikan kalimat perandaianku, petir menyambar membabi buta. Secara ajaib, jalanan dipenuhi air berwarna hitam. Bis yang kutumpangi menbunyikan klakson dengan irama nada yang aneh. Para penumpang menoleh padaku, lalu menertawakanku dengan tawa yang menyeramkan. Tubuhku seperti terpaku, aku tak bisa melarikan diri. Apa yang hendak Sang Waktu perbuat kali ini? Pandanganku menjadi kabur, semakin gelap, puncaknya, aku tidak bisa melihat. Lalu aku terhuyung entah kemana.
            Saat aku membuka mata, suasana terasa damai. Aku sangat terkejut saat mengetahui bahwa waktu kembali ke empat tahun yang lalu, aku mengetahuinya setelah melihat kalender di warung Cak To, warung yang terletak persis di sebelah rumahku. Aku mengecek handphoneku untuk memastikan tanggal dan tahun. Ternyata cocok!. Aku menanyakan tentang keanehan waktu yang kualami hari ini pada Mbak Astiti, istri dari Cak To yang sedang menjaga warung hari ini. Dia sama sekali tidak menghiraukanku. Aku lalu beranjak keluar dari warung, untuk menuju rumahku.
            Tidak seperti biasanya, rumahku dipenuhi orang. Aku penasaran, kupercepat langkahku. Diluar rumah, banyak sekali teman SMA ku yang saling diam. Aku semakin penasaran. Aku bertanya-tanya pada orang sekitar, namun tidak ada yang menjawabnya. Aku bertanya pada Ayahku yang sedang duduk di kursi teras, ia malah beranjak pergi meninggalkanku tanpa berucap sepatah katapun.
            Aku benar benar lemas saat mengetahui ada seseorang yang tengah tersenyum, terbujur kaku, dalam balutan kain yang menyelimutinya seperti seorang mayat. Seseorang tersebut memakai tubuhku, memiliki wajah seperti wajahku. Dia adalah diriku. Apakah aku mati? Aku mati?  Aku mendapati Ibuku menangis tersedu-sedu, begitu pula dengan Alya yang menangis sambil terkulai lemas. Aku mulai menitikkan air mata. Aku mulai paham, mengapa kondektur bis tidak meminta uang tiket padaku. Aku jadi tahu, mengapa ibu di bis tersebut tidak mengacuhkan pembicaraanku, mbak Astiti yang tidak menjawab pertanyaanku. Apakah aku sudah mati? Aku benar-benar tidak paham. Lantas bagaimana dengan Dini? Bagaimana ia bisa berbincang-bincang denganku? Pikiranku kacau. Tiba-tiba seseorang menarik tanganku dengan lembut.
            Sayup-sayup kudengar suara symphony, mengalunkan instrumen requiem dengan nada sedih yang mencekam. Di seberang jalan luar rumahku, ada banyak barisan orang berbaju serba putih yang tersenyum tipis, seakan bahagia menyambut kedatanganku. Mereka semua melayang! Aku bingung, sekaligus takut bukan kepalang.
            “Din? Apa maksud semua ini?”, ya, Dini lah yang menarik tanganku. Ia hanya tersenyum, ia tak menjawab pertanyaanku. Aku dibawanya terbang keatas. “Din?”, tanyaku sekali lagi. Ia mengenakan sepasang sayap putih yang amat indah. Semakin menjauh, semakin menjauh, semakin menjauh dari permukaan bumi.
            Sang Waktu sepertinya tengah tergelak, aku dapat mendengar tawanya yang menggelegar. Apakah aku benar-benar mati? Ratusan tanda tanya masih saja terus bermunculan memenuhi otakku. Apakah maksud dari semua ini?





[1] Pelajaran



Wednesday, June 17, 2015

Dinginnya Kumbolo dan Hangatnya Pertemanan Kami

9

Aku termenung, cukup lama. Sebatang spidol hitam dan secarik kertas putih lusuh dengan sobekan yang tak simetri seakan mempergunjingkan sebab diamku. Aku yang biasanya menulis sajak-sajak dengan lanyahnya, kini hanya bisa terdiam, bergulat dengan bayang yang hanya datang sekelebat. Bayang yang selalu lenyap sebelum selesai kutekuri per centimeternya untuk memastikan siapakah dia.


Tuesday, June 09, 2015

Tuesday, May 05, 2015

Murattal per 1/2 Hizb (per seperempat) Juz

3

Assalaamu'alaikum wa rahmatullaah wa barakaatuh

Alhamdulillaah, beberapa saat yang lalu, saya mendapatkan link untuk mendownload murattal per seperempat juz Al-Qur'an.
Kemudian saya berinisiatif untuk mempermudah pen-download-an dengan menaruh murattal tersebut dalam satu folder di GoogleDrive milik saya.

Murattal ini dibawakan oleh salah satu Imam favorit saya yaitu Syaikh Abdurrahman As Sudais, salah seorang imam di Masjidil Haram Makkah.
Suaranya yang mengalir merdu beserta penghayatan ditiap irama rast yang ia bawakan, sungguh membuat hati tenang saat mendengarkannya.

Murattal per seperempat juz ini sangat cocok bagi teman-teman yang ingin menghafalkan Al-Qur'an. Soalnya anu... aduh rasain sendiri wes hahaha

langsung sajaaa, ini link downloadnya...
DOWNLOAD MUROTTAL PER SEPEREMPAT JUZ SYAIKH ABDURRAHMAN AS SUDAIS



Sumber murattal : murottalperjuz.blogspot.com








>