Monday, January 08, 2018

Mencinta dan Laparlah

8

"Mau kopi?", ramah lelaki paruh baya padaku meski sepertinya kami tak saling mengenal. Kugeleng kepala dan kusungging senyum ringan-ringan. Bukannya tak mau, hanya saja Dokter menganjurkanku untuk berhenti meminum kopi. "Ngopi nggak ngopi kau itu tetap saja ngantukan. Daripada keluar uang terus tapi selalu gagal begadang, mending tak usahlah kau beli kopi lagi", anjur dokter saat itu.

Aku mulai duduk disamping lelaki paruh baya tersebut setelah helm dan jaket kuyupku tertanggal sempurna.

"Hati-hati sama cinta, Boy", ujarnya tiba-tiba dengan santai. Sesekali ia menyelentik rokok yang sebenarnya sudah mati, lalu menghisapnya seolah-olah masih menyala.

"Bisa gila kau dibuatnya, Boy", lanjutnya sambil menyeruput segelas kopi yang bahkan ampasnya pun sudah habis ia kunyah dan telan barusan. Aku mencoba untuk diam saja, menghemat energi agar ia bisa dikonsumsi oleh perut yang melilit-lilit sedari tadi.

"Aku dulu pernah jatuh cinta pada janda beranak 9, Boy. Entah kenapa, aku suka dengan sifat keibuannya. Coba bayangkan, Boy. Anaknya yang paling kecil--yang masih berusia 5 tahun--kalau mengompol di kasur, langsung saja ia cuci seprei beserta anaknya sekaligus di mesin cuci. Efektif dan efisien kan?." 

"Sedangkan anak ke 4 hingga 8 yang masih bersekolah baik di SD, SMP, dan SMA, tak pernah ia kasih uang saku. Masing-masing mereka dibawai golok oleh ibunya aga mereka minimal bisa memalak teman sekelas. Itu namanya mengajari kemandirian, Boy"

Cerita yang ia beberkan di kedai kopi tempatku meneduh dari hujan yang kian melebat, mulai agak menarik untuk disimak.

"Anak sulungnya meninggal saat kecil setelah memakan sayur kecubung buatannya, Sedangkan sisanya entah kemana. Kabarnya, mereka sengaja ditinggal di kereta oleh Ibunya karena ia tak tega membangunkan keduanya yang tengah lelap tertidur di bangku kereta"

Mananya yang keibuan? Itu tega namanya. Dan lagi, apa yang ia ceritakan terkesan mengada ada. Ingin sekali ku bertanya, tapi lebih kupilih untuk menghemat energi. Akhirnya, picing mata dan kernyit di dahi kutampakkan sebagai tanda tak percaya. Namun nampaknya, Ia tak memahami bahasa tubuhku. Ia melanjutkan cerita.

"Dulu, ia bercerai dengan suaminya karena suaminya tak kunjung memiliki mobil. Makanya, Boy, siang malam aku bekerja agar lekas lekas dapat membeli mobil untuk mempersuntingnya. Shubuh-shubuh aku keliling 5 desa untuk jualan sayur dan lauk pauk. Agak siang aku mulung sampah sampai sore. Sore sampai tengah malam aku jaga warnet. Tengah malam sampai shubuh, aku jadi pelayan di cafe. 1 bulan kemudian, aku mampu membeli Alphard, Boy"

Ceritanya semakin mengada-ngada. Mana mungkin ia bisa membeli mobil dengan pekerjaan seperti itu dalam waktu sesingkat ini?

"Di hari ke 27 aku kerja, aku menang togel besar, Boy. Langsung saja duitnya kubelikan mobil, sisanya kubelikan susu bear brand. Sudah lama aku tak meminumnya, Boy"

Kini, asal-usul mobil mulai tampak masuk akal.


"Lalu aku datang pada janda tersebut, Boy. Ternyata ia menolakku dengan alasan bahwa aku tak punya helm INK warna hitam. Ternyata dia sederhana sekali, Boy. Aku semakin menggebu untuk menuruti keinginannya. Aku lantas pulang dan menjual mobilku dengan harga murah agar cepat laku, lalu semua uangnya kubelikan helm INK hitam untuk memenuhi keinginannya. Saat aku kembali mempersuntingnya dengan helm, ia kembali menolakku, Boy. Dia malah minta dibuatkan candi dalam semalam. Emangnya aku Mark Zuckerberg apa", ujarnya sambil menggebrak meja. Rokok mati yang ia genggam ia masukkan ke mulutnya, lalu ia kunyah dengan geram. Perasaan yang bikin candi dalam semalam itu Sangkuriang. Sedangkan Mark Zuckerbeg itu yang dikutuk ibunya jadi batu. Ya, sepertinya begitu. 

Aku ingin tertawa, tapi tak kuasa. Meskipun terkesan mengada-ada, namun sepertinya benar juga jika cinta bisa membuat gila. Seperti orang disampingku ini yang tiba-tiba push up sembari tetap mengunyah rokok.

--------------------------------------------

Sebenarnya, seluruh cerita diataslah yang mengada-ada. Kecuali anjuran Dokter pada saya untuk berhenti meminum kopi, itu benar adanya.

Oke, saya mengakui jika cinta mampu kita melakukan hal-hal ekstra hingga membebani fisik dan pikiran secara berlebihan. Seperti halnya saya yang mencintai leyeh-leyeh. Tentu saja, mencintai leyeh-leyeh membuat saya terus bekerja keras dan berusaha untuk terus menerus leyeh-leyeh dengan berbagai cara hingga menemukan format leyeh-leyeh yang pas untuk saya praktekkan.

Hal-hal ekstra yang kita lakukan karena cinta, tentu saja mudah membuat tubuh kita lelah dan lapar.

Kesimpulannya (menurut saya) adalah, harusnya cinta itu maksimal membuatmu lapar. Janganlah sampai kau gila karena cinta.

Dan, sepertinya akhir-akhir ini saya sering lapar. 

Apakah itu dirimu, duhai keripik kentang gurih setoples yang telah membuatku jatuh cinta?

8 comments:

  1. Mustofa mulai laparMonday, January 08, 2018

    5 dari 6 post terakhirmu memuat ttg cinta. Fix, sepertinya dirimu sedang jatuh cinta ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, mboten mesti paklek/bulik. Kulo tasek pupuk bawang kok e :D

      Delete
  2. Pupuk bawang yg mulai mencafi makna cinta. Eyaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kripik kentang setoplesnya itu yg umi kasib itu lo, enak bos...

      Delete
  3. Tak laporke mark zuckerberg kowe ��

    ReplyDelete
  4. 5 dari 6 post terakhirmu memuat ttg cinta. Fix, sepertinya dirimu sedang jatuh cinta (2)

    ReplyDelete
  5. Wkwkwkwk.... rada sehatttt kamu ya boy 😅😅😅

    ReplyDelete