Thursday, October 25, 2018

Serenjana Senja 3

6



Bulan ke tiga setelah pertemuan pertama kita, di bawah pepohonan akasia.
Kubuka lagi sebuah lembar yang sudah cukup lusuh di salah satu kantong tasku. Kubaca sekali lagi, sebuah puisi yang kuminta tuliskan secara spontan untuk yang kesekian kalinya. Aku hanya ingin menuntaskan segala yang menggangguku beberapa waktu belakangan ini,

Yaitu puisi... Aku benar-benar penasaran dengan puisi yang tak sengaja kutemukan di balik lukisan yang kubeli. Puisi yang hampir tak terbaca karena ditulis menggunakan tinta yang berwarna putih  agak perak di atas kanvas yang putih. Seakan-akan memang ingin disembunyikan, namun ingin ditampakkan. Entahlah. Ia juga tak pernah ingin menjawabnya saat aku menanyakan hal tersebut.

Bisa dibilang sok kenal sih, nekat juga...yah mau bagaimana lagi. Aku adalah tipe orang yang mudah penasaran. Tapi sebenarnya lucu juga, kita tak saling mengenal, namun tiap kali aku meminta padanya untuk bertemu, selalu saja aku meminta padanya untuk membuatkan puisi. Sampai di dua pertemuan terakhir kita, dia membawa bolpoin dan kertas sendiri karena sedang memprediksi akan diminta untuk membuatkan puisi lagi.

Tetapi, antara puisi dalam lukisan tersebut dan puisi-puisi yang dia buatkan untukku,  aku merasa ada yang berbeda. Kedalaman rasanya, pemilihan bahasa, penafsiran makna, dan…seseorang di dalamnya. Mungkin itu memang tidak sedikit, dan mungkin memang puisi yang kupegang ini milikku, tapi sepertinya, puisi ini bukan untukku. Betapa kau harusnya tahu jika wanita memiliki 2 Indra perasa lagi yang terletak di hati selain 5 Indra yang dimiliki manusia pada umumnya.

Mungkin memang tidak seharusnya aku memaksamu menuliskan sebuah puisi yang bagiku terasa hambar ini. Bukan kejam, itu hanya menurutku saja. Tapi aku tetap menyukainya, hanyasaja… tentu ada perasaan yang sulit untuk di ungkapkan ketika kita tak menemui apa yang kita harapkan. Mungkin, ini yang disebut kecewa.

Ah, sudahlah… terlalu banyak “mungkin” di kepala. Seharusnya aku memang tak perlu mengenalnya terlalu jauh. Cukup sekedar lukisan langitnya saja yang akan menjadi kawan baikku, karena bertemu lukisannya semacam takdir untukku. Sudahlah, sepertinya tak lagi bertemu dengannya adalah pilihan terbaik untukku. 

Tapi entahlah. Aku sebenarnya ingin terus bersama dan memang  sudah nyaman berteman dengannya. Namun di sisi lain, ia seperti... Ah entahlah. Perasaan ini terlalu rumit bahkan untuk kupahami sendiri

Kumasukkan kembali kertas tersebut setelah kulipat Serapi mungkin. Lalu ku beranjak teduh bayang dedaunan akasia.

------------------

Bulan pertama sejak pertemuan pertama, jelang pertemuan ke tiga dengannya

Ah betapa bodohnya. Aku kan memiliki daftar nama pembeli-pembeli lukisanku. Hahaha, sepertinya usaha dia untuk menyembunyikan namanya di tiap kali kutanya ketika bertemu akan menjadi sia-sia. Kubuka-buka daftar pengunjung yang menghadiri pameran. Kubuka lagi pada daftar pembeli lukisanku. Tak sulit bagiku untuk menemukan namamu dari daftar yang hanya beberapa itu. M a l a R e n j a n a. Deretan abjad terangkai dan kubunyikan namamu. Mala renjana.

Aku jadi tak begitu heran, mengapa kau suka sekali meminta untuk dibuatkan puisi, karena namamu sendiri seakan-akan sudah menjadi bait puisi tersendiri. Tentu saja, aku langsung dapat mengetahui namamu karena kaulah satu-satunya perempuan yang membelinya di hari itu. Dari awal kau memang bukan orang yang bisa kulewatkan begitu saja. Betapa sorot mata dan keceriaan yang kau tampakkan, benar-benar mengingatkan ku pada sesuatu.

Dan langit…kenapa dari sekian banyak yang terpajang akhirnya kau jatuhkan pilihan pada lukisan langit? 

Serta dilain waktu, kau juga telah menumpahkan kopi di salah satu lukisanku. Sepertinya kau ingin mengetahui reaksi diriku dengan melakukan hal tersebut, seakan-akan, kau ingin menghapus beberapa bagian yang ada disana. Ah, tapi darimana kau tahu lukisan itu menyimpan sejarah untukku?.
Baiklah…kali ini aku yang berlebihan. Dan sebentar lagi, aku memenuhi permintaanmu untuk kembali bertemu. 

----------------

“Um…aku suka puisimu, hanya saja…ini sedikit berbeda. Sebenarnya aku berharap puisi ini akan sama seperti puisi sebelumnya” ucapnya sambil menggaruk kepala, setelah ia membaca puisi yang baru saja ia minta padaku untuk membuatkannya lagi. 

“Puisi yang sebelumnya? Puisi apa? Puisi tempat pembuangan sampah?” Aku berusaha menangkap maksud perkataannya. 

Tapi…memang aku bukan penulis puisi, itu tidak ada dalam list bakatku. Aneh saja tiba-tiba dia meminta bertemu dan tak cukup sampai disitu, dia juga meminta sebuah puisi padaku. Dan apa? Tempat Pembuangan Sampah? Apa tema itu serta-merta muncul setelah melihat tampilan lusuhku dan gerobak sampah yang kubawa bersamaku dan kutinggalkan di pohon mangga seberang? Hei, aku hanya menggantikan tetangga yang sedang sakit untuk sementara. 

“Bukan... Itu... Mmm... Puisi yang ada di balik lukisan langitmu itu” jawabnya dengan nada bahagia. “Aku sangat menyukainya” deretan gigi yang rapi mempermanis senyumnya. "Ohya, ini ada makan sore untukmu. Maaf ya, ini cuma sekedar nasi sayur dan tempe saja. Hope you like it!", Ujarnya seraya mengeluarkan bungkusan dari dalam tasnya.

Aku menerimanya seraya berdebar setelah  ia menyebutkan mengenai puisi tersebut.

DEG!

Puisi dibalik lukisan langit! Ah puisi itu, bukan aku yang membuatnya. Bahkan, kalau bukan keinginan dari pemilik puisi tersebut, tentu saja aku sama sekali tak akan menjualnya dengan harga berapapun. Puisi itu, aku juga menyukainya, teramat sangat menyukainya.

Kemudian aku hanya tersenyum simpul, tanpa berniat menjawab atau menjelaskan padanya. Toh dia juga buru-buru setelah menengok jam yang melingkar manis di tangannya. Kemudian dia pergi begitu saja setelah mengucapkan terimakasih atas puisi yang baru saja kubuatkan.

Sepertinya tak hanya sorot mata dan keceriaannya saja. Mulai dari cara tersenyum, cara berbicara dan memperlakukanku, sikap saat menungguku, dan beberapa hal lainnya benar benar mirip dengan seseorang.

Ah, berapa kali pun kau minta bertemu, pasti akan kusanggupi, Mala Renjana.

~bersambung

**********

Baca juga Serenjana Senja dan Serenjana Senja 2 (tulisan berwarna biru bisa di klik loo)

Wednesday, October 24, 2018

Ku Tercekat Di Terminal

5


Malang nian nasib mereka. Baru saja menikah, bukannya kebahagiaan demi kebahagiaan yang mereka dapatkan, namun malah cobaan demi cobaan yang teramat berat. Bahkan dihari pernikahannya pun, ada banyak warga yang berusaha untuk membubarkan acara pernikahan mereka. Ah, kenapa pula sih warga-warga ini. Kok bisa-bisanya bertindak kasar  sedemikian rupa? Apa itu dikarenakan mereka tak mengumumkan pertunangan dan mengadakan pernikahan dimana banyak warga tak diundang? 

Cerita yang kudengar dari mempelai pria di terminal bis sore itu membuatku sedikit trenyuh. Ia bercerita sembari matanya berkaca-kaca. Sebelumnya, ia menawarkan beberapa potong bajunya yang ia keluarkan dari koper besar hitam lusuh miliknya agar kubeli. 

"Uangnya mau tak buat ongkos naik bis, dik. Saya sama pasangan saya mau pergi ke Jawa Tengah, barangkali disana saudara saya mau menerima kami", paparnya. Namanya Joni, namun katanya, ia lebih sering dipanggil Jek oleh teman-temannya.

Iya, baru saja Mas Jek dan pasangannya diusir dari desa mereka. Bahkan, dia bercerita jika  warga tega membakar kediaman mereka! Sebelum pembakaran tersebut, warga sudah meminta mereka untuk segera meninggalkan desa sesegera mungkin. Sebelum pembakaran itu pun, warga melempari rumah mereka dengan bebatuan hingga memecahkan kaca-kaca jendela.

Disela-sela ceritanya, kuajak dia ke salah satu warung dipojok terminal untuk mentraktirnya makan. Awalnya ia menolak ajakanku karena segan padaku yang telah memberinya uang untuk membeli tiket bis tanpa mengambil satupun baju-baju yang ia tawarkan padaku. Akhirnya ia mau setelah sekian lama kupaksa. Kebetulan saat itu aku baru saja mendapatkan rezeki yang lumayan besar setelah memenangkan lomba main PlayStation di salah satu rental PS terkenal kota ini. 

"Nunggu si Ria balik kesini dulu ya, mas? Ia masih buang air besar di toilet", pintanya, agar aku juga berkenan menunggu istrinya. Aku mengiyakannya. Kami kembali bercengkrama.

"Eh, warga marah bukan karena mas memelihara babi ngepet kan?", Aku mengajaknya bercanda. Ia sedikit tertawa, matanya masih berkaca-kaca.

"Atau, jangan-jangan mas sudah membuat cemburu warga-warga jomblo yang sudah lama mengidam-idamkan istri mas?"

"Atau, jangan-jangan, warga lagi bikin prank dan sebenarnya sudah menyediakan rumah untuk mas tempati bersama istri dan membakar rumah mas yang lama karena mereka tau rumah tersebut tak layak bagi pengantin baru, tapi mas keburu angkat kaki dari desa sehingga tak menyadarinya?", Ia tertawa lepas mendengar beberapa dugaan-dugaanku.

Tak lama kemudian, datang seorang bapak yang tiba-tiba duduk diantara kami. Sebelum ku tersenyum, ia tersenyum terlebih dahulu padaku. Lalu ia menoleh pada mas-mas yang bercengkrama denganku sedari tadi. 

"Sayang, lama ya nunggunya? Maaf, itu ku masih sakit setelah kamu sikat beberapa malam lalu, jadi BAB nya agak lama", bapak-bapak tersebut berucap manja sembari menggelayut pada lengan mas-mas tadi.

"Ah nggak kok sayang. Untukmu, apa sih yang tidak kulakukan? Oh iya sayang, ini ada adik baik yang mau menraktir kita makan", balas mas-mas tersebut.

Keduanya lantas menoleh dan tersenyum padaku

"Kenalkan dik, ini pasangan saya, Ria. Nama lengkapnya Rian Sutardji"

Mataku sedikit terbelalak.  Kihela nafas sejenak. Ingin kuberkata-kata, namun aku hanya bisa menganga. Cerita-cerita yang dari tadi dipaparkan mas Jek kembali berputar-putar di kepala. Sialan! Semua bentuk kekasaran warga pada mereka jadi masuk akal. Ternyata mereka...

Ah ingin ku berteriak, namun lidahku tercekat.

-----------

Haha... Tentu saja cerita diatas bukan kisah asli, karena beberapa hari ini saya hanya tergeletak begitu saja dikamar (sehingga punya banyak waktu menulis, namun sayangnya tak tergunakan secara maksimal, sehingga hanya berlalu dengan nonton-nonton YouTube offline yang seabrek). 

Saya hanya menulisnya untuk memenuhi request lama teman saya yang ingin dituliskan kisah cinta yang tragis. Ya begitulah, sepertinya tak memenuhi ekspektasi nya wkwkwk. 

Eh, tapi tenang sayang, saya normal kok. Hanya saja saya tak punya cukup uang untuk mempersuntingmu, sayang. *Berbicara pada gambar MacBook dan iPhone X

Btw, jangan coba-coba jadi kayak mereka ya gaesss

Thursday, October 11, 2018

Tuesday, September 25, 2018

Serenjana Senja II

13



Pagi mengantar embun pada dedaunan dan daun pintu kamarmu
Sore mengantar gerimis pada mereka yang rindu
Tuhan mengantar senyuman pada kelebat hati yang senantiasa mendoa
Mengantarmu padaku

------------------

Selamat pagi… Jangan lupa besok… Pohon beringin samping Kantor Perpustakaan Daerah. Jam 2 siang.”

Sms aneh dari nomor yang tak ku kenal menyelinap diantara sms-sms promo NSP dan CFC yang menyesaki inbox di hp jadulku.Maaf, ini siapa? Apa maksud anda?”, aku membalas sms tersebut setelah membeli pulsa terlebih dahulu.

Aku salah satu dari sedikit pembeli lukisanmu. Sudahlah, datang saja” :)

Sialan, aku tau lukisanku memang tak begitu laku, tapi ya mbok jangan memakai kata ‘sedikit pembeli’ seperti itu. Ah sudahlah, percuma juga aku memaki-maki disini. Membalas smsnya pun akan membuang-buang pulsa saja.

Bagaimana? Bisa datang kan? (/\)”

Ia mengirim sms lagi sekitar setengah jam setelah sms terakhirnya kuterima. Kugeletakkan hpku begitu saja setelah membacanya, lalu aku mulai merebahkan kepala yang sejak kemarin harus terjaga untuk menyelesaikan beberapa deadline lukisan yang sudah ditagih-tagih oeleh beberapa pemesan. Aku mendengar hpku kembai berbunyi setelah sekitar 10 menit mencoba merebahkan kepala dan memejamkan mata.

Kenapa smsnya nggak dibalas? Nggak punya pulsa ya? Oh ya, kamu kan sepi pembeli, jadi harus banyak-banyak melakukan penghematan agar jangan sampai hasil kerjamu yang sedikit itu habis gara-gara membalas smsku. Wkwkwk”

Aku hanya tersenyum setelah membaca sms tersebut. Rasa penasaran ini membuatku memutuskan untuk benar-benar datang besok di tempat yang ia tawarkan.

Hei? Kok gak dibalas sih?

Ia mengirim pesan lagi. Bisa ditebak, pengirim pesan ini adalah seorang wanita. Sudah memahami kondisiku yang serba berkekurangan, namun tetap saja ingin dibalas smsnya. Tunggu saja besok. Nona. Aku akan datang memenuhi undangan.

Aku kembali merebahkan badan dan memejamkan mata. Terdengar nada pesan masuk berdering beberapa kali. Sepertinya, itu pesan dari pengirim yang sama. Aku semakin yakin jika ia adalah seorang wanita.

***
Langit begitu cerah siang ini. Namun cuaca terasa tak begitu panas sekalipun tak ada mendung maupun awan yang bergelayut menaungi.

Ohya, aku kan sedang berada di bawah pohon beringin yang besar. Pantas saja tak kurasa panas dari tadi.

10 menit berlalu. Aku masih belum merasakan tanda-tanda kehadiran dirinya. Baru berjarak beberapa kedip mata, nada pesan masuk hpku berdering.

Sini, di pohon beringin. Kamu ngapain dari tadi di bawah pohon mangga?”

Ha? pohon mangga? Aku lantas melihat lagi pohon tempatku bernaung dengan seksama. Ternyata benar, ini adalah pohon mangga. Ah, betapa terkadang kecerobohanku terlalu keterlaluan. Aku lantas melihat sekeliling, nampak seorang wanita berkacamata sedang melambaikan tangan kirinya padaku. Tangan kanannya sibuk menutupi mulutnya, menahan tawa. Lalu setengah berlari ke arahku. Ah, aku mengingatnya. Ia adalah pembeli lukisan senja tempo itu. Beberapa kedip mata kemudian, Ia sudah berada begitu dekat. Aku tercekat.

“Hei mas?”

Lidahku kaku, aku masih kesulitan menguasai degup yang seketika memburu.

“Halo?”, ia menjentikkan jari didepan mukaku. Sedangkan aku masih tak tau harus bagaimana. Bersyukurkah? Atau bagaimana harusnya aku bertingkah? Betapa jejak yang dia tinggalkan di pertemuan pertama masih menciptakan gelisah demi gelisah. Sedangkan sekarang, ia hadir langsung dihadapan. Duhai Tuhan, apa yang harus kulakukan?

“Eh iya, ada apa mbak? Mau beli lukisan lagi kah?”, ujarku terbata-bata. Kutundukkan muka dan kuhirup nafas sedalam-dalamnya agar lebih tenang menguasai suasana.

“Haha, nggak kok. Aku mau minta bantu buatin puisi, bisa kan?”

“Aduh, saya nggak bisa bikin puisi mbak, menyusun kata-kata indah bagi saya tak semudah menyusun garis, titik dan koma serta merangkai komposisi warna pada kanvas, mbak”

“Yaaahh, mas. Masak sih nggak bisa?”

“ya kalau puisi sekedarnya sih bisa-bisa saja mbak. Butuh sekarang juga tah?”, aku mencoba menyanggupinya. Ia mengangguk ceria. “Puisinya tentang apa mbak?”

“Tempat pembuangan sampah, mas”, ujarnya sambil tertawa.

Sialan, membuat puisi-puisi cinta saja ku tak bisa, nah ini lhakok diminta membuat puisi dengan tema sedemikian rupa. Aku mengernyitkan dahi padanya, ia menjawabnya dengan menyodorkan selembar kertas buram dan pena berwarna biru, juga  senyum simpul yang terasa familiar. Sembari membuatkannya puisi, aku mencoba mengingat-ingat dimana pernah kutemui senyum tersebut.

Suatu hari, pemuda itu berdiri gagah 
ditangannya terkepal sampah 
namun ia membuangnya sembarangan. Hah! 
Ingin ku marah! 
Tak perdulikah ia dengan bumi yang semakin parah?


Kupungut kembali sampah yang ia buang tadi 
kulemparkan padanya tanpa peduli 
ia melongok kanan dan kiri


kenapa kau kembalikan sampah ini padaku?”, ujarnya kaku 
tolong jangan buang sampah sembarangan!”, ku perketus jawabku 


Loh, ini kan area TPS. Ya sah-sah sajalah!”, jawabnya 
oh iya, ini TPS, ya? 
Buru-buru ku menyingkir darinya 
betapa diriku malu bermerah muka

Ku sodorkan kembali kertas dan pena yang ia berikan padaku untuk membuat puisi setelah ku menyelesaikannya. Betapa kemudian ia tak kuasa menahan tawa. “Kamu bikin puisi atau bikin cerita komedi sih, mas?”, ucapnya sambil menyeka air mata yang keluar karena tertawa. Ia tersenyum memandangku begitu lama setelah puas tertawa. “Eh ini, ada bakwan, aku buat sendiri lo, dimakan ya?”

Ah, aku mengingat senyum dan tawa itu. Itu senyum miliknya yang turun bersama gerimis pada suatu senja, lalu melepas sayapnya dan memintaku menyimpannya karena ia ingin menjadi manusia beberapa masa, yang membuatku begitu menyesal kenapa tak menanyakan namanya sebelum aku terjaga dari mimpi ini.

Pembeli lukisan yang membuatku gelisah saat terjaga dan bidadari yang menyamar menjadi manusia dalam mimpi, lalu menghantui tidurku.

Duhai, apakah kalian sosok yang sama?

~Bersambung...




*Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan Serenjana Senja yang sudah saya tulis sebelumnya di blog ini juga. (tulisan berwarna biru bisa diklik lo)

Monday, September 17, 2018

Janc*kologi

1



Oleh: Abdil Gufron A. (Kelahiran di Jawa namun fasih berbahasa Madura, kini ia sedang menempuh studi di sebuah Pesantren dan sedang kuliah di salah satu PTKIN di daerah Jember)

Janc*k adalah sebuah kata yang sangat masyhur di kalangan masyarakat Jawa. Selain itu kata ini juga sering dikatakan oleh pemuda Surabaya yang menjadi sapaan akrabnya untuk teman sebayanya, namun  hal ini tak perlu ditiru oleh siapapun.

Namun, ada sebuah pernyataan aneh dari Sujiwo Tejo, ia adalah seorang budayawan dan penulis beberapa buku best seller mungkin. Ungkapnya dalam sebuah video bertajuk sekitar 10 menit. Bahwa janc*k itu maknanya sangat luas bahkan lebih luas dari ungkapan “fuck”. Jadi jangan disalah artikan dan jangan juga salah faham. Dan selama ini kita tahu bahwa janc*k itu bermakna negatif padahal tidak begitu.

Pada perkembangannya janc*k mulai dikenal oleh suku lain seperti Madura yang rata-rata berinteraksi langsung dengan masyarakat jawa terutama Jawa Timur yang menggunakan bahasa jawa agak kasar. Berbeda dengan suku jawa di kraton jogja sana yang memang sudah memakai jawa kromo tingkat tinggi.

Dalam pemakain bahasa saja rakyat kita sering menggunakan ungkapan yang tidak sesuai dengan maknanya. Seperti:

VITAL: Yang artinya sangat penting. Namun masyarakat saat mendengar kata ini seolah-olah menjurus pada hal yang porno. Padahal tidak jika kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti sangat penting. Jadi jika kita memakainya pada kalimat seperti uang kaget ini sangat vital bagiku. Yah ini sah-sah saja tidak hanya dipakai untuk semisal vitalitas dan  alat vital saja dan ini pemahaman yang harus diluruskan.

Kembali ke pembahasan pada  paragraf kedua di atas. Bahwasanya Sujiwo Tejo menamai dirinya sebagai President the Jancukers, yang mengandung pemahaman bahwa ia adalah seorang pemimpin bagi golongan yang notabene memakai bahasa jawa utamanya jawa agak kasar sebagaimana yang banyak dijumpai di Jawa Timur. Dia seolah olah mewakili aspirasi masyarakat jawa sebagai suku terbesar di Indonesia.    

Sujiwo Tejo banyak orang yang menganggap aneh bahkan terlalu radikal dalam berfikir. Bagaimana tidak ungkapan yang di mata masyarakat dianggap tabu dan buruk itu dijadikan lirik lagu dan identitas kepribadiaannya.


Sunday, September 16, 2018

Lantas, Apa Lagi? Jika Semua Sia-Sia?

6


Betapa terharunya saya ketika membuka twitter, ada pesan masuk yang menanyakan kapan blog ini akan di update lagi. Begitu pula dengan beberapa pesan WA yang menginginkan hal serupa. Ada juga salah satu komentar terakhir di blog ini yang juga meminta saya untuk menulis lagi. Memang haru sih, tapi saya ingin menyarankan kepada orang-orang di atas untuk segera berkonsultasi dengan psikolog, karena bagi saya agak aneh jika sampai ada yang meminta saya menulis konten lagi, padahal konten-konten sebelumnya GJ, penuh dengan ketidakjelasan-ketidakjelasan. Ngawur pula. Haha. 

Tuesday, August 07, 2018

Siapa Lebih Hina!

4


Saya tercenung agak lama setelah mendengar perkataan dari mbak Elza. Lalu saya coba pandang kembali "rumah tenda-rumah tenda" yang mereka dirikan untuk digunakan sebagai tempat beristirahat dan tempat penampungan sampah yang sudah mereka pilah dan kumpulkan. 

Tak lama kemudian, sebuah truk pengangkut sampah mendekat pada kami. Saya bisa melihat dengan jelas wajah sumringah mereka saat sampah itu 'blek' diturunkan didepan mereka. Tak usah menunggu aba-aba, apa lagi menunggu kepastian dari dia yang nggantungin kamu, mereka langsung saja memunguti sampah plastik menggunakan tongkat besi yang sudah sedikit  dimodifikasi untuk menusuk dan memisahkan sampah plastik dari kawanannya, lalu memasukkan sampah tersebut dalam keranjang-keranjang lusuh yang mereka siapkan.

"Betapa sesuatu yang hina menurut kita, masih diperebutkan oleh mereka", ucapan mbak Elza terngiang kembali di kepala saya.

Saya menghela nafas pendek. Sebenarnya ingin sekali sekali saya menghela nafas panjang, namun udara dan bau di TPS sepertinya tak memungkinkan bagi saya untuk dapat melakukannya dengan nikmat. Dalam perkara bernafas ini pun, saya menyadari sesuatu. Ah, betapa sangat kurangnya saya bersyukur atas udara segar yang selama ini kami hirup.


"Belum tentu kondisimu lebih baik, nak", ucapan mbak Elza yang baru saja terngiang kembali,  berganti menjadi  suara yang lain. Entah, itu suara siapa. 

"Yang kami perebutkan dan kau sebut sesuatu yang hina hanyalah menurut pandangan matamu saja. Tidakkah kau menyadari? Justru kaulah yang tengah memperebutkan hal yang hina. Sedangkan yang kami lakukan ini hanyalah mencari rizki dan mengharap Ia meridhoi, nak", lanjutnya.

"Tidakkah kau ingat, nak? Bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah bertanya pada sahabat sembari tangan beliau memegang telinga bangkai anak kambing, 'Siapa diantara kalian yang berkenan membeli ini seharga satu dirham?'. Begitu murah, namun tak ada yang mau membelinya, nak!. Semua menganggap kambing hina tersebut tak layak untuk dihargai sedemikian rupa."

"Demi Allâh, sungguh, dunia itu lebih hina bagi Allah daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian!! Itulah yang kemudian ditegaskan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pada mereka, nak!"

"Sungguh, nak. Yang kami cari hanya rezeki untuk makan sehari-hari, agar kami bisa terus beribadah kepada-Nya dengan baik dan silaturrahmi dengan hamba-hambaNya tetap terjalin rapi. Jarang, bahkan mungkin tak terbersit sedikitpun pikiran dlaam diri kami untuk mencari 'dunia' sebagaimana yang kau cari. Renungkan, nak!"

"Apa tujuanmu sekolah tinggi-tinggi? Untuk merengkuh kenikmatan dunia lebih banyak lagi? Amboi. Ciamik betul cita-citamu, nak!"

"HP yang kau gunakan untuk memotret kami, ah, seberapa mahal itu nak? Katamu, mau membeli hp semahal itu untuk mempermudah pengerjaan amanah yang kau emban, juga mempermudah untuk menulis di blog ini. Padahal kau juga tahu kalau blog ini sepi pengunjung, bahkan yang mengunjunginya pun karena iseng-iseng saja mengklik link yang kau bagi di mana-mana." 

"Ah, hidupmu memang enak, nak. Makan gratis, kuliah gratis, menuntut ilmu agama gratis, punya banyak teman-teman yang baik yang sering memberi traktiran gratis, orang tua yang peduli, orang-orang menghargaimu dan masih banyak lagi kenikmatan-kenikmatan yang kau miliki. Tapi tahukah dirimu, nak? Bisa jadi kenikmatan itu adalah kenikmatan akhiratmu yang disegerakan di dunia ini, hingga tak tersisa satupun kenikmatan akhirat yang akan engkau dapati!"

"Sedangkan kami, bolehlah kau pandang sengsara di dunia, namun bisa jadi kelak diakhirat, kami mendapati kenikmatan-kenikmatan yang memang Allah sediakan untuk kami sebagai ganti kenikmatan yang Ia tahan untuk kami di dunia, sehingga kami terlihat sengsara."

"Perkenankan kami bertanya, nak. Jadi siapa yang memperebutkan hal yang hina? Siapa yang lebih hina? Kami atau dirimu nak?"

Suara tersebut berhenti. Saya ingin menangis, namun tak bisa. Benar sepertinya, hati saya sudah mengeras karena terlalu cinta pada dunia, yang lebih buruk dari pada seonggok bangkai kambing sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam.

Duhai. Betapa kau, seorang yang teramat hina, Mustofa! 

***

اَللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِيْ دِيْنِنَا وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا
.
“Ya Allah, janganlah Engkau timpakan musibah dalam kepentingan agama kami. Janganlah engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami juga akhir dari ilmu kami”


Saturday, July 07, 2018

Hampir Nangis

4

Tiba-tiba saja, ada beberapa potong rekaman dan gambar dari kejadian dua tahun lalu yang bertubi-tubi menyeruak dalam kepala. Sialnya, ingatan-ingatan tersebut datang di waktu yang tidak tepat. Untung saja saya cepat menguasai diri. Ah, jika tidak, tentu saja tadi pagi saya pasti menangis. Sebenarnya, menangis pun tak masalah, karena sebelumnya juga banyak yang menangis saat acara penyematan mahkota. Saya sendiri memilih untuk menyingkir saat acara penyematan mahkota wisudawan pada orang tua, karena saya yakin, saya tak akan mampu menguasai diri untuk tidak menangis.

*** 

Betapa menyenangkannya suasana sarapan kami di dua tahun yang lalu, karena kami dapat bermain dan melihat keseruan adik-adik PaudQu yang gedung sekolahnya masih "numpang" di rumah pak Huda, depan dapur pondok kami. Namun sekarang, alhamdulillah, PaudQu kini sudah memiliki gedung sekolah sendiri. (Tulisan berwarna biru bisa di klik lo)

Bagaimana ndak menyenangkan, lha wong jadwal sarapan kami bertepatan dengan jadwal mereka senam pinguin. Haha, lucu! Bagaimana ya, aduh, saya kurang bisa mendeskripsikan kelucuan gerakan-gerakan mereka. Tapi kalau disuruh menerjemahkan gerimis, petang, gugur dedaunan, senyum simpul dan semesta ini untukmu, sepertinya saya mampu. Ehm(Tulisan berwarna biru bisa di klik lo [2])

"Halah lebay"

Ahahaha. Eh, btw, njenengan tau senam pinguin apa tidak? 

"Tidak"

Laaaah... Kalau senam poco-poco?

"Tidak"

Kalau senam SKJ? Tau?

"Tidak juga"

Mmm... Kalau senam dua jari?

"Tauuuu brooo"

Tetew!

Back to the topic




Dan baru saja tadi pagi, di acara wisuda mereka, hampir-hampir saya menumpahkan air mata saat menyaksikan mereka menyanyikan lagu Terimakasih Guruku sebagai persembahan dan ekspresi terimakasih mereka selama 2 tahun belajar bersama ustadz-ustadzah yang supeeer-supeeer swabar. Saya teringat bagaimana kami tertawa-tawa terhibur saat melihat mereka berkejaran dengan ustadzah, minta diantarkan pipis dan buang air besar, nangis gujel-gujel, bahkan ada yang minta untuk masuk ke molen (alat pengaduk semen) dan masih banyak lagi momen-momen lucu serupa. (Tulisan berwarna biru bisa di klik lo [3])

Teringat juga saat mereka berlari dan kemudian memeluk ustadz-ustadzah, lalu mulai menciumi pipi-pipi yang mungkin sering basah kala mendoakan mereka di tengah hening malam. Mencium tangan yang tak lelah menuntun mereka belajar menulis. Menatap wajah yang senantiasa berbinar saat bertemu dan mengajar mereka kendati banyak sekali permasalahan-permasalahan berat yang tengah mereka hadapi. Menyimak dan mendengar kata-kata baik dari bibir-bibir yang senantiasa menyebut nama-nama mereka dalam tengadah doa dan tak jengah mengajari mereka membaca.

Ah, banyak sekali yang teringat, namun sedikit sekali yang mampu saya tulis. Saya mulai tak kuasa menahan apa yang saya tahan sedari pagi tadi.

Tumbuhlah dalam ketaaan pada Allah, dik. Tolong kami, duhai adik-adik yang shalih shalihah, teruslah belajar dan belajar. Jadilah mushlih mushlihah, orang baik yang kelak akan memperbaiki negeri ini dengan nilai-nilai Qur'ani yang kalian pelajari sejak dini. (Tulisan berwarna biru bisa di klik lo [4])

Salam dari saya, kakak kalian yang punya cita-cita memajukan bangsa, namun sampai sekarang masih belum bisa memajukan dirinya sendiri yang ndlahom dan mbelgedes ini.

Bersama Wardah. Wisudawati Favorit!







Monday, July 02, 2018

Solo

0

https://m2indonesia.com/wp-content/uploads/sites/2/2015/07/bengawan-solo.jpg


Ketika keadaan mengharuskan saya untuk pergi ke Solo, saya mengingat sesuatu, bahwasanya dulu Solo menjadi kota yang paling ingin saya kunjungi. Lha bagaimana tidak, banyak sekali penyanyi terkenal favorit saya yang menyematkan 'Solo' sebagai gelar mereka. Ada Afgan, Agnes, Ebiet G Ade dan masih banyak lagi. Ya, mereka-mereka adalah penyanyi solo. Itu dulu, saat saya masih suka bermain dan mendengarkan musik.


Haha. Bercanda. Bukan karena itu kok.

Jadi, dulu sewaktu saya masih aktif berlatih bersama grup musik Kroncong yang lumayan sering diundang di luar kota, saya dikenalkan pada lagu Bengawan Solo. Lagunya terasa familiar, mungkin karena sering didendangkan dimana-mana. Apalagi Bengawan Solo sering sekali muncul di pelajaran SD saya. Beberapa hal tersebut bahu-membahu membuat saya ingin tahu, 'memangnya Solo itu seperti apa?'. Btw, saya pernah diminta jadi vokalis lho. Dulu suara saya sempat merdu nan melengking tinggi. Ndak percaya juga ndakpapa, toh sekarang saya juga tak akan bisa membuktikannya. Namun permintaan itu tak pernah saya lakukan, karena saya harus bersekolah di Jember. Rasanya juga tidak mungkin bila seminggu sekali pulang ke Lumajang hanya untuk berlatih kroncong. Akhirnya saya pensiun dini.

Kembali ke Solo.

Seringkali Solo dikaitkan dengan kehalusan. Entah itu perangainya, tutur katanya, bahkan mungkin hingga kapas-kapas yang dijual disana. Semuanya halus. Memang sih, sama sekali saya tak menemui adanya kekasaran-kekasaran selama 2 hari yang saya habiskan di Solo kemarin. Lha ketika kemarin kami mengikuti agenda Dr Muinudinillah, kami memarkir motor pinjaman seharian didepan warung tanpa membeli apa-apa. Sewaktu kami mengambilnya, ada kertas terselip bertuliskan ''bukan parkir umum, nekad, gemboos!" di setir sepeda motor. Saya juga mendapat sepotong senyuman dari ibu-ibu yang saya duga menjadi pemilik warung tersebut. Eh tapi motornya tidak digembosi kok.Alus tenan kan? 

Keramahtamahan juga selalu kami dapatkan dimana-mana. Entah itu dari teman-teman Mamduh yang kos-kos mereka menjadi tempat istirahat kami selama disini, entah itu dari Dr Muinudinillah dan putra-putranya, entah itu dari ibu-ibu penjual makanan, tukang parkir, kucing, burung, bahkan semut pun juga menunjukkan keramahtamahannya.

Solo juga sering dikaitkan dengan budaya Jawa. Ketika kami kemarin berkesempatan memasuki hotel Royal Surakarta Heritage, kami melihat banyak sekali benda-benda yang sepertinya bernilai budaya seperti guci-guci besar, topeng-topeng kayu, batik dan banyak lagi hal-hal yang menonjolkan kesan budaya. Kalau ndak salah, saya juga sempat melihat ada lembaga pendidikan batik ketika menyusuri jalan di sana. 

Solo juga sering dikaitkan dengan Al mukarrom Jokowi. *Ndaknyambung

Ohya, masjid-masjid disini bagus-bagus. Ah betapa senangnya jikalau kelak dapat tinggal disini. Mau ke masjid manapun rasanya oke oke saja. Hal ini membuat saya menduga, mungkin Solo terbentuk dari kata Arab 'sholluu' yang berarti sholatlah kalian. Makanya, masjid-masjid ya dibuat bagus-bagus untuk mengimbangi kata perintah tersebut biar ndak timpang. Sholluu! Sholluu!

Ohya. Saya masih bingung. Sebenarnya Surakarta dan Solo itu bedanya dimana ya? Yowislah, tak browsing dulu. Tulisan ini sampai disini saja.

Terimakasih


Probolinggo-Leces, diatas nggronjal-nggronjalnya  jalan raya, di dalam bus Jogja-Bwi dan ditengah batuk yang menjadi-jadi



Sunday, July 01, 2018

Halal Bihalal Dadakan

0

Mamduh. *Candid

Seharian kemarin, ada dua halal bihalal yang tak pernah terbayangkan akan kami (saya dan bro Mamduh) datangi.

Yang pertama adalah halal bihalal PERKI. Mbuh apa singkatannya, saya lupa. Kalau saya ndak keliru, 'K'nya itu kardiovaskuler. Yang jelas, semua yang datang itu adalah keluarga dokter-dokter. Ada banyak dokter spesialis juga. Hingga saya merasa aman-aman saja kalau misalkan tiba-tiba saya tipes disana. Haha

Conference room dari salah satu hotel bintang 5 di Solo menjadi tempat diselenggarakannya halal bihalal tersebut. Tentu saja, saya dan Mamduh bukan berstatus sebagai undangan. Kami hanya mengiyakan ajakan Dr Muinudinillah Basri untuk menghadiri kegiatan tersebut. Beliau sendiri akan mengisi tausiyah pada halal bihalal tersebut. Jadi ceritanya, seusai berbincang santai dengan beliau sejak sekitar jam 8 pagi, kami berangkat ke Hotel The Royal Surakarta Heritage dengan menaiki mobil yang beliau setir sendiri pada pukul 09.30, dan sampai di lokasi setengah jam kemudian.

Dr Muinudinillah sedang mengisi tausiyah

Saya pribadi gelisah ketika memasuki ruangan tersebut. Betapa tidak, karpet ruangannya begitu empuk, tapi kami tak diperkenankan melepas alas kaki. Ini rasanya semacam memakai baju mahal, baru nan wangi dalam keadaan keringetan pol, setelah ngecor bangunan pula. Ra biasa, bray.

Sewaktu break, saya ngikut2 dokter-dokter didepan yang mengambil kudapan beberapa jenis makanan ringan dengan garpu, dan memakannya menggunakan garpu itu pula. Lha saya ikut-ikut ngambil pakai garpu, tapi kesulitan saat harus memakannya menggunakan garpu pula. Akhirnya, tak sikat nggo tangan saja. Bukannya kampungan, hanya saja kalau hal-hal mudah janganlah dipersulit. Tapi tadi saya sempat makan kacang pakai garpu Lo. Keren kan.

Iki mbuh ndek ndi

Yang kedua adalah halal bihalal RT. Mbuh itu RTnya siapa. Lha wong diajak buat makan-makan, ya kami iyakan saja. Lumayan lah, dengan mengikuti halal bihalal ini, kami bisa sedikit menghemat, agar uangnya bisa ditabung untuk menghalalbihalalkan si dia kelak. Haha. 

Ada sesi yang menarik. Jadi, anak2 kecil yang hadir diminta untuk maju dan mengambil kertas origami. Hadiah-hadiah sudah disiapkan bagi mereka yang mau membuat origami dan maju untuk memperkenalkan karyanya ke depan. Nah, ternyata kebanyakan dari mereka membuat karya pesawat dan burung. Sudahlah agak ribet, mainstream pula.

Sebenarnya ada beberapa opsi origami yg mudah dan sepertinya belum pernah dikerjakan, seperti origami selimut. Tinggal lipat-lipat saja menjadi persegi, atau di untel-untel (di umek-umek) juga boleh bagi mereka yang malas untuk melipat. Lalu bilang saja kalau itu origami selimut.

Atau lipat sisi-sisinya sedikit saja. Itu bisa jadi origami taplak meja. Atau bisa juga membentuk topi ulang tahun. Lumayan, topinya bisa dipakai untuk membungkus dan membawa pulang camilan. Origami jas hujan tenda juga mudah. Apalagi origami kertas origami. Ya sudah. Ndak usah di lipat lagi. Tetew

Tapi entahlah. Barangkali saya saja yang terlalu bodoh jika menganggap hal2 seperti itu sebagai karya origami. Maaf. Bahkan rasanya, saya terkesan menurunkan standar origami yang biasanya dibuat dengan indah, presisi dan ketelitian yang tinggi, serta kesabaran mengendalikan emosi. Iya, origami itu bisa digunakan sebagai media melatih emosi, terlebih jika saat anda sedang khusyuk2nya membuat origami, lah tiba-tiba anda disenggol teman. Nyenggolnya pakai sepeda motor dengan kecepatan 50 km/jam pula. Emosi to? Eh jangan sampai emosi. Ingat, anda sedang mengerjakan origami.

Tapi, andaipun ada yang melakukannya, wah dia pastilah orang yang memiliki kemampuan berpikir yang out of the box. Entahlah. Out of the box atau malas ya? Haha

Eh, btw saya sudah halal bihalal sampai Solo, lho. Jadi,  kira-kira kapan saya bisa halal bihalal ke rumah njenengan sembari menghalalbihalalkan njenengan?