Thursday, April 12, 2018

Jalan Cinta

2




"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana" ~Sapardi Djoko Damono
Jalan mencinta kita, tidaklah sama. Seperti halnya Sapardi yang memilih untuk mencintai dengan sederhana, "dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada", lanjut Sapardi dalam selirih puisinya, puisi yang sepertinya sering kita kutip tanpa menyertakan sumber aslinya.

Jalan mencinta kita, tentu saja berbeda-beda. Dan, ada jalan mencinta yang diisyaratkan begitu indah dalam beberapa kisah. Jalan mencinta itu adalah... Berlama-lama.

"Ini adalah tongkatku", jawab Musa alaihissalam, kala ia bertelanjang kaki di Lembah Thuwa dan Allah SWT bertanya mengenai benda yang sedang digenggam tangan kanannya.


"Aku bertumpu padanya", lanjutnya. 

Tak hanya berhenti disitu, ia mencari-cari jawaban agar bisa lebih berlama-lama dengan-Nya, "Dan aku merontokkan dedaunan dengan tongkat itu untuk makanan kambingku". Musa as menambah-nambahi jawaban untuk hal yang tak Allah SWT tanyakan.


Sungguh, Musa as ingin menambahkan jawaban lagi, namun kekakuan lidahnya membuat ia tak bisa mengucapkan satu persatu hal yang terlintas dipikirannya.



"Dan bagiku masih ada manfaat yang lain", ujar Musa as yang masih tak ingin menyelesaikan pembicaraan. 

3 jawaban ditambah 1 jawaban yang meringkas banyak jawaban untuk sebuah pertanyaan sederhana, "apa yang ada di tangan kananmu, wahai Musa?". 

Ada isyarat dalam ayat ini, bahwasanya Musa 'alaihissalam hanya ingin berlama-lama bercakap-cakap dengan Rabbnya.


Tak hanya milik Musa alaihissalam. Terkisah pula bahwasanya berlama-lama adalah jalan yang juga ditempuh oleh Al Musthofa ﷺ.



"Hingga aku berkeinginan untuk melakukan hal buruk. Aku ingin duduk dan meninggalkan Nabi ﷺ", keluh Ibnu Mas'ud, saat ia sholat bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu malam.

Betapa Rasul ﷺ berlama-lama berdiri saat sholat tahajjud, hingga salah seorang dari 4 orang yang Rasul ﷺ sarankan pada muslimin untuk belajar Al-Quran pada mereka, Ibnu Mas'ud, berniat meninggalkan beliau.



Pun dengan Nuh alaihissalam yang begitu tahan berlama-lama, berdakwah ratusan tahun lamanya. Berdakwah siang malam, baik secara terang-terangan maupun diam-diam, baik menggunakan bahasa yang lembut hingga doa-doa yang mengancam.

Bagaimana dengan kita? apa jalan kita mencinta-Nya juga sama dengan mereka? berlama-lama?


Barangkali, berlama-lama menonton drama korea, bermain Playstation dan lain-lain juga merupakan cara seseorang untuk mencinta-Nya...


"Haish, bagaimana sih. Ngawur kamu. Mana mungkin mereka-mereka yang menghabiskan waktu dengan hal-hal yang madharatnya jauh lebih banyak dari manfaatnya itu dikatakan sedang melakukan sesuatu untuk mencint-Nya?"


Isik talah, jangan motong pembicaraan. Barangkali mereka memang berlama-lama, namun berlama-lamanya mereka itu membuat mereka bosan, sehingga mereka meninggalkan perbuatan tersebut, bertaubat pada Allah dan tidak mengulanginya lagi, lalu mulai melakukan sesuatu yang jauh lebih bermanfaat dari yang pernah mereka kerjakan, bahkan mungkin jauh lebih bermanfaat dari yang kamu kerjakan.


Mari belajar untuk senantiasa berhusnudzan, kawan :) . Mari perbaiki cara pandang kita dalam menyikapi segala sesuatu, karena bisa jadi apa yang tampak buruk dimata kita, justru menggetarkan arsy dan menuai pujian dari malaikat-malaikat nun mulia. Sedangkan pandangan buruk kita yang merasa lebih baik dari mereka, justru malah menjadi jangkar terlempar di dasar neraka yang membelenggu kita. Na'uudzubillah min dzaalik


Wallaahu a'lam :)

*tulisan warna biru diatas ditulis bukan karena baper akibat laptop dan stick pernah disita. Serius. Haha. Btw tulisan warna birunya bisa di klik loh :)

*edisi mengedit dan reupload tulisan yang pernah saya upload, tapi bukan di blog ini.




2 comments:

  1. jalan cintamu seperti apa? apa seperti cerpen yang Sang waktu itu?

    ditinggal nikah.......? hahahahahaha

    ReplyDelete