Monday, July 18, 2016

7M di Banyuwangi Part 2

6

SAMBUNGAN...

Malam Jumat. Kami menghabiskannya dirumah Mas Amin. Malam itu, kami berencana untuk pulang ke Jember keesokan harinya.

Lagi-lagi. Rencana kami dibatalkan karena kami diajak untuk mengunjungi rumah saudara Mas Amin di (lupa nama tempatnya). Selesai sholat jumat, lagi-lagi kami diajak untuk berlibur ke pantai bersama-sama dengan keluarga Mas Amin dan saudara-saudaranya. Beruntungnya, kali ini tidak ada cegatan yang menghalangi kami.

Saya yang kali ini mengemudi sendiri (Pakdhe Ruhul naik mobil), terpisah dari rombongan. Saya yang nggak membawa hp (karena hilang) dan tak membawa uang sepeserpun kemudian berhenti ditepi jalan. Awalnya saya berniat untuk meminjam hp pada orang dan menelpon nomer Nduk Ayu, adik bungsu Mas Amin. Kebetulan saya menghafal nomer handphonenya. Hahaha.

Belum sempat meminjam, saya terlebih dahulu ditemukan oleh Nduk Ayu yang dibonceng oleh Mas Yahya, sepupunya. Ternyata bukan hanya saya dan Mas Yahya yang tertinggal. Mas Amin juga tertinggal. Mas Ulum malah kelewatan jalan. Syukurlah, akhirnya kami bersama-sama menuju pantai Bangsring.

Waktu kami datang di rumah Mas Amin di hari selasa, sebenarnya ia sudah menawarkan kami untuk berlibur ke pulau Tabuhan. Namun membutuhkan biaya sekitar 500.000 rupiah untuk menyebrang dari pantai menuju pulaunya. Biaya tersebut bisa ditanggung oleh maksimal 10 orang. Namun karena berbagai kendala, akhirnya kami sepakat untuk tidak kesana.

Tapi siapa sangka, kami sekarang malah diajak kesana. Gratis pula! Biaya penyebrangan dari pantai Bangsring ditanggung oleh Mas Ulum. Saya jadi agak heran, kenapa semua anak bernama Ulum yang saya kenal selalu sangat baik hati? Uhuk.

Saya jadi curiga pada Pakdhe Ruhul. Jangan-jangan ia tak pernah benar-benar mbatang dan mbangkong bersama kami. Jangan-jangan ia wiridan dengan posisi seolah-olah tertidur. Atau jangan-jangan, ia bermimpi wiridan untuk merayu Tuhan agar diberangkatkan ke pulau Tabuhan! Mengingat bahwa ialah yang paling ngebet untuk berangkat ke pantai.

Apapun itu, terimakasih yaa Rabb, terimakasih Mas Ulum, terimakasih untuk seluruh keluarga Mas Amin. Apalagi jika diingat-ingat, dari awal perjalanan di hari senin sampai sekarang, saya tak mengeluarkan uang sepeserpun. Sebenarnya dari Jember saya sudah membawa uang 10.000 rupiah untuk berjaga-jaga kalau ada apa-apa dijalan, namun ternyata uang tersebut malah hilang diperjalanan.

“hadeh, jaga-jaga kok cuma bawa 10.000 rupiah. Pancet ae kowe, Mus! Mulai SD mesti ae gak tau bondo!”

Ben! Saya gak begitu khawatir karena saya adalah hamba dari Sang Maha Kaya :)

Wes lah, memang sebuah kebodohan jika sampai melakukan hal seperti yang saya lakukan. Tapi akan lebih bodoh lagi jika kita sampai tak percaya bahwa Tuhan mampu mencukupi kita. Nggeh nopo nggeh?

Enough. Back to the topic!

Perjalanan dari pantai menuju pulau Tabuhan dapat ditempuh selama sekitar dua puluh menit menggunakan kapal kecil. Kita dapat melihat adanya air yang berbeda warna menjelang sampai ke pulau Tabuhan. Jika dari tengah kita “berlayar” di atas air yang berwarna biru, maka disekitar pantai pulau Tabuhan, kita disambut dengan warna air yang seperti kehijauan. Gradasi warna air laut tersebut sungguh menyenangkan untuk dilihat.

Kami sampai di pulau Tabuhan sekitar jam tiga sore.

Pasirnya berwarna putih seperti di film-film. Banyak terdapat pecahan terumbu karang yang kami temui disepanjang pantai. Katanya, pecahan tersebut berasal dari terumbu karang yang terkena bom peledak untuk menangkap ikan. Jangan salahkan nelayan, apalagi presiden. Cukup salahkan saya karena berita ini belum saya konfirmasi kebenarannya.



Kami mengambil banyak sekali foto disana. Yasudah. Itu saja sih. Ohya, kami juga berlarian, snorkel snorkel juga, sholat ashar, dan apalagi ya? Tapi percayalah, kami sangat bahagia. Banyak hal yang tidak bisa dijabarkan dengan kata.

“Ih ayo lah mas, coba deh deskripsikan dikit aja dengan bahasamu”

hah okelah. Dikit aja yaaa..

Selambai siur basah tertiup. Bajuku basah kuyup. Mataku basah terkatup. Ingatanku basah tak aruk.
Kujejakkan kakiku pada hamparan putihnya pasir. Tak butuh waktu lama, debur ombak kecil dengan buih-buih tipis diatasnya membuat jejak-jejak kakiku terhapus begitu saja. Begitu mudahnya.
Namun aku bukanlah pantai, maka tolong jangan datang dan pergi begitu saja. Karena aku hanya memiliki rindu untuk membasuh jejakmu, dan asal kau tau, kecipaknya membuat hati semakin ngilu.

Lah kok malah ngawur gini? Udah lah stop stop.

Sebenarnya saya juga mengambil sebuah batu dari sana. Pecahan batu karang yang berwarna merah. Niatnya sih niruin salah satu skenario Descendant of the Sun. Namun karena belahan hati saya tak ada disana saat itu, jadinya saya meletakkan batu itu kembali huhuhu *emang punya belahan hati?

Di pulau ini, Pakdhe Ruhul mengatakan bahwa kami bisa kesini karena Tuhan masih sayang kita. Ia juga mengatakan hal itu berulang-ulang saat kami naik sepeda motor, sebanyak berkali-kali kami lolos dari kecelakaan. kami memang menaiki sepeda motor yang kurang "bertaji" untuk dibawa bersilaturrahmi ke Banyuwangi. Rem depan yang sudah bisa dibilang tak berfungsi, rem belakang yang kurang berfungsi, tidak ada klakson dan helm yang malah mengganggu pandangan membuat kami sering terlibat kejadian-kejadian yang berpotensi mencelakakan.


Pakdhe Ruhul juga menjelaskan, bahwa salah satu tanda Tuhan masih sayang kita adalah dengan tertutupnya kemungkinan-kemungkinan bagi kita untuk melakukan maksiat.

Duh Gusti, berfoto dengan Nduk Ayu dan Mbak Nikmah (adik pertama Mas Amin) bukan suatu kemaksiatan, kan?


Mas-mas di ma'had dan ditempat lain, mohon maaf lahir batin ya? :p

Akhirnya kami memutuskan untuk pulang. kami sampai di pantai Bangsring sekitar jam 5 sore dan sampai di rumah Mas Amin sekitar jam 8 (kalau salah mohon dikoreksi).

Malam sabtu. Kami terlalu lelah untuk beraktivitas saat itu. Mbatang menjadi pilihan paling tepat untuk memulihkan badan yang rasa-rasanya remuk. Setelah sekian lama terbaring sakit dikasur membuat tubuh saya masih belum terbiasa dan mudah capek jika dipakai jalan-jalan kemana-mana.

Keesokan harinya, kami pamit. Beragam model kalimat permohonan maaf kami sampaikan pada ibunya Mas Amin, karena bagaimanapun, ia tetap sabar menerima dan memulyakan kami sekalipun hal yang kami lakukan hanyalah 7M seperti yang telah saya sebutkan di tulisan sebelumnya. Sekali lagi kami mohon maaf dan kami sangat berterimakasih sekali. 

Akhirnya kami pulang.

Sebelum sampai ke Jember, kami mampir menuju rumah Fariz untuk mengambil jaket yang tertinggal. Namun ternyata keluarganya sedang bepergian. Untunglah disana kami disambut oleh mbahnya Fariz yang kemudian menawari kami untuk makan siang.

Ditawari begituan, kami jadi riang. Dasar santri rai gedhek!

Kami akhirnya pamit setelah menghabiskan hampir sewakul nasi. Kami melanjutkan perjalanan, dan akhirnya sampai di Jember sekitar pukul 2 siang.

Kali ini memoar-memoar tersebut tak hanya meminta tempat dihati. Ia meminta alunan musik dan kerlip lampu. Saya dapat merasakannya, mereka mulai menari-nari.

Kami akan kembali, Banyuwangi.

7M di Banyuwangi Part 1

0

Banyuwangi. Kota ini (Banyuwangi itu kota, tah?) memang tak seperti Jogja yang katanya tersusun dari kenangan, maupun seperti Jember yang tersusun dari polisi tidur. Namun setelah pertama kali mengunjunginya, tiba-tiba beberapa memoar meminta tempat yang khusus di hati untuk menetap disana, meminta agar mereka tak dilupakan begitu saja.

Akhirnya, 11 Juli 2016 lalu saya berkesempatan untuk kembali mengunjunginya bersama dengan Pakdhe  Ruhul, Syamsul, dan Marwan. Kami membawa dua sepeda motor. Saya (terus-menerus) membonceng Pakdhe Ruhul, sedangkan Syamsul dan Marwan saling bergantian menyetir.

Niat awal kami sebenarnya hanyalah bersilaturrahmi pada teman-teman yang bertempat tinggal di Banyuwangi. Setelah dipikir-pikir, muncul niat-niat lain yang sepertinya kurang pantas dan terlalu vulgar bila disebutkan di sini. Hahaha, mau tau tah?

Kami berangkat di hari senin menjelang ashar, dan baru sampai di rumah Fariz yang terletak di Karangharjo-Glenmore sekitar jam lima sore. Harusnya perjalanan bisa ditempuh lebih cepat jika kami tidak diguyur hujan di sepanjang jalan.

Di Garahan, hujan mulai turun menyapa. Kami menepi sebentar untuk memakai jas hujan yang dibawa oleh Syamsul. Apesnya, jas hujan yang saya pakai tersebut ternyata bau kencing kucing. Karena mendesak sekali, akhirnya terpaksa saya memakainya. Beberapa saat kemudian, hujan yang semakin deras memaksa kami untuk menepi sebentar.

Tidak tahan dengan bau kencing kucing yang menyengat, saya melepasnya. Sesaat setelah saya melepas jas hujan tersebut, saya teringat dengan adanya jas hujan yang cukup nyaman dalam sepeda motor yang saya naiki. Padahal sebelum berangkat, saya sudah mengingat-ingat kalau ada jas hujan di sepeda motor tersebut.

Entah untuk keberapa kalinya saya mengutuk betapa pelupanya diri ini. Akhirnya saya memakai jas hujan yang nyaman, dan jas hujan yang bau itu dipakai Marwan.

Sesampainya di rumah Fariz, saya baru sadar jika jaket yang saya kenakan mulai berbau kencing kucing. Tentu saja, jaket Marwan mengalami kondisi yang sama dengan jaket saya. Akhirnya jaket tersebut kami tinggalkan dirumah Fariz dengan harapan jaket kami akan dicucikan oleh keluarganya :p.

Disana, kami disuguhi berbagai macam makanan dan beberapa wejangan dari bapaknya Fariz. Sebenarnya, kami hendak melanjutkan perjalanan setelah makan dan beristirahat sebentar disana. Namun dikamar Fariz, kami tergoda saat melihat pemandangan yang jauh lebih menggiurkan dari aurat wanita, yaitu dua buah stik PS. Walaupun sudah dijamah, dipegang, diremas dan dipencet-pencet oleh puluhan lelaki, stik PS tetap saja terlihat menggoda bagi kami.

Stik tersebut masih menancap dilaptop dengan spesifikasi keren, dan game PES 2013 update terbaru tinggal menunggu klik saja untuk dimainkan. Budyal!

Awalnya kami sudah berjanji akan menghentikan permainan setelah bermain dua kali. Namun janji hanyalah janji. Siapa sih yang tahan dengan rayuan PES? Apalagi tidak adanya ustadz-ustadz senior dari kesantrian membuat permainan kami semakin tak terhentikan. Tidak ada yang akan merampas stik PS kami kali ini! Ayo sikat wes!

Malam selasa. Dari sekitar jam 7 malam kami bermain PES 2013 dan baru berhenti bermain sekitar jam 12 malam, kemudian rehat sebentar untuk “menebus dosa”. Setelah selesai, saya, Fariz dan Pakdhe Ruhul melanjutkan permainan. Saya selesai sekitar jam 2, sisanya baru tertidur di jam 3 pagi. Beberapa jam kemudian, kami berempat ditambah Fariz, meluncur menuju kediaman Mas Amin di Bangorejo.

Mas Amin sendiri adalah...........

*Saya kurang bisa mendeskripsikan Mas Amin hanya dalam satu atau dua paragraf singkat. Kurang afdhal rasanya. Sebenarnya sudah ada beberapa anak yang menginginkan saya untuk menulis mengenai Mas Amin. Jika ada lima orang lagi yang meminta hal yang sama, insyaallah saya akan menuliskannya. Jadi paragraf diatas di skip saja yaaaa?

Rumah Mas Amin kemudian menjadi “markas” kami berempat selama di Banyuwangi. Jika diingat-ingat, kami hanya melakukan 7M disana. Mbadhok (makan; bahasa kasar), Mbatang (tidur terus; aduh agak sulit nyari translatenya), Mblakrak (artinya seperti bepergian; agak sulit nyari arti yang tepat), Mbolang (jalan-jalan), Mbangkong (tidur hingga siang), Mbrojot (BAB), Mblolak-mblolok (hanya Pakdhe Ruhul yang mengalami ini. Dijamin, anda akan terpingkal setelah mendengar ceritanya)

Duh duh...

Perlakuan Mas Amin dan Ibunya yang baiiiik sekali semakin menambah ke-sungkan-an kami selama disana. Kami merasa malu sekalipun muka-muka kami pada hakikatnya sudah teranyam dari bambu (rai gedhek).

Malam rabu. Kami mengunjungi rumah Mas Najib. Sepulangnya dari sana, kami “menyita” laptop Mas Najib karena ia tertangkap basah memiliki drama korea Descendant of the Sun.

Sesampainya di rumah Mas Amin, kami menonton drakor Descendant of the Sun dari jam sebelas malam hingga jam tiga pagi, beristirahat sebentar hingga shubuh, kemudian setelah shubuh langsung menonton lagi hingga jam setengah empat sore. Itupun terhenti gara-gara laptopnya tiba-tiba ceket dan sama sekali nggak bisa diapa-apakan. Akhirnya kami memutuskan untuk mem-force shutdown dan mendiamkannya beberapa saat. Jam lima sore kami menyalakannya lagi dan menontonnya kembali hingga sekitar pukul sembilan malam.

*Segala rencana yang telah tersusun di hari itu buyar gara-gara kami menonton Descendant of the Sun. Jika belum nonton, saya sarankan untuk tidak menontonnya! awas kecanduan!

Malam kamis. Seusai kami mematikan laptop, kami meluncur menuju rumah Mas Niam di Mangir. Rencananya, esok pagi kita akan melihat sunrise di pantai boom. Namun karena kami mengamalkan 7M, rencana tersebut tinggallah sebuah rencana. Kami tak jadi berangkat. Setelah shubuh kami malah mbatang dan akhirnya mbangkong. Karpet yang membalut spon empuk memang rasa-rasanya terlalu sia-sia jika ditinggalkan terlalu cepat. Setelah terbangun, kami mbadhok dan mbrojot. Kami baru berangkat mbolang dan mblakrak sekitar jam 10 pagi. Mas Niam ikut dalam rombongan kami kali ini.

Siang itu, rencananya kita hendak ke pantai Watu Dodol. Namun apalah daya, cegatan polisi menggagalkan rencana kami kali ini. Padahal tinggal sak-encrutan lagi kami sampai kesana. Apes. Akhirnya kami kembali dan berhenti di pesarean Datuk Ibrahim untuk berziarah sekaligus sholat dhuhur. Padahal yang meminta ke pesarean adalah Pakdhe Ruhul. Namun setibanya disana, hanya Mas Amin, Syamsul, dan Marwan yang “berziarah”. Saya dan Pakdhe Ruhul malah saling melakukan tasmi’ ringan. Mas Niam sibuk membetulkan hpnya yang agak rusak.

Karena perut sudah agak lapar, jadinya kami melanjutkan perjalanan ke rumah Shofi.

Setibanya disana, kami disambut oleh anak-anak kecil yang ternyata adalah adik-adik Shofi dan teman-teman bermainnya. Sesuai tebakan saya, adik-adik Shofi sudah terlihat cantik sekalipun belum remaja. Yah nggak heran lah, lha wong Shofi nya aja nggantengnya kayak gitu.
 
Syafiq besar-Nisa-Aini-Syafiq kecil-Gaktau namanya-Mas Amin-Marwan-Syamsul
Namanya Nisa dan Aini. Karena si Nisa sudah agak besar, jadi saya hanya berani mencium si Aini. Ia berbicara dengan bahasa osing. Ketidakmengertian saya akan bahasanya semakin menambah keimutan dirinya. Tiap kali ia berbicara, ia selalu tersenyum. Tiap kali ia tersenyum, Aini terhias oleh lesung pipit mungil disebelah kanan bibirnya. Duh duh, maning-maning isun, mung sewates angen, kembyang-kembyang kertas, klendai paran!

Sesuai dengan prediksi dan harapan kami, Kami dijamu dengan (nasi) hangat disana. Hehe. Seusainya, kami—ditambah dengan Shofi—langsung  meluncur ke Taman Suruh untuk berenang. Diantara kami semua, cuma saya yang nggak berenang. Sebenarnya saya ingin sekali berenang, namun... alah nggak usah curhat deh.

Di perjalanan pulang, kami—tanpa Shofi—mampir ke rumah Mas Dana di Rogojampi. Kami sampai dirumahnya sekitar pukul lima sore. Disana kami kembali bertemu dengan Mas Najib yang kemudian menagih siapapun yang menonton Descendant of the Sun di laptopnya untuk masing-masing membayar 10.000 rupiah, kemudian dinaikkan menjadi 20.000 rupiah karena terjadi suatu masalah kecil pada laptopnya.

Kami juga berjumpa dengan Mas Arip dan Mas Sholeh yang tengah berkunjung kesana.

Seusai makan bakso yang ditraktir oleh keluarga Mas Dana, kami pamit pulang ke Bangorejo.

BERSAMBUNG...


Sunday, July 10, 2016

Update Nggak Jelas

1

"Kapan mas update blog lagi?"

"Kok lama nggak nulis sih?"

"Tiap aku buka, tulisannya kok nggak nambah? masih sakit tah?"


Hah. Demikianlah beberapa komentar teman-teman yang (sepertinya) menunggu blog saya terupdate (lagi). 

Biasanya saya akan menjawab mereka dengan jawaban yang sama, "masih nggak ada mood hahaha".

"Emang nulis itu butuh mood ya mas?"

Nggaklah brooo. Nulis di blog itu butuh komputer dan koneksi internet. Sedangkan charger laptop saya rusak, keyboard internal rusak, keyboard eksternal juga rusak. Ada sih on-screen-keyboard, tapi rasanya ngetik pake on-screen-keyboard itu seperti ngetik dengan on-screen-keyboard .

"hah? ih GJ kamu mas"

Haha *ekspresi datar.

"lah katanya chargernya rusak? Berarti laptopnya kan nggak hidup? tapi sekarang kok bisa nulis?"

Lah, katanya disuruh nulis, kok sekarang malah ditanyain gitu? ah tau ah. Bikin mood ilang aja.... Udahlah nggak usah diterusin lagi tulisan ini.

"Lah katanya tadi nulis itu nggak butuh mood? gimana sih kamu mas?"

*gubrak

Thursday, May 12, 2016

Maafkan Kami :'(

1



Keterlaluankah hamba-Mu ini yaa Rabb?
Sakit sedikit mengeluh
Sial sedikit melenguh
Sementara diluar sana
Saudara kami
Saudara kami...
Berlarian jauh
Menangis bersimpuh
Tak berupa lagi wajah mereka
Bukan lagi daki yang mengotorinya
Namun darah bercampur peluh
Tubuh penuh lepuh
Tiap detik riuh
Tiap jam dihujani bom-bom yang angkuh
Tiap hari bangunan runtuh

Keterlaluankah hamba-Mu ini yaa Rabb?
Yang tak acuh
Tiap hari bermain,tak jenuh
Sementara diluar sana
Saudara kami
Saudara kami...
Terbunuh
Negrinya gaduh

Keterlaluankah hamba-Mu ini yaa Rabb?
Yang hatinya tak luluh
Yang tak berusaha menolong, merengkuh
Saudara kami
Tubuhnya tak lagi utuh
Airmatanya keruh

Maafkan kami, maaf.






Wednesday, May 11, 2016

Sang Waktu 2

12

“Apa yang kau lakukan sekarang, Al?”

“Tentu saja membaca diarimu, Bodoh”, Alya menjawab dengan lirih. Ia tak benar-benar mengucapkan bodoh pada orang yang menyukainya. Ia mengucapkan kata bodoh sembari tertawa dengan menggemaskan, kedua kelopak matanya menyempit, kadar manis dalam tawanya bertambah berkali-kali lipat kala ketiga lesung pipit Alya mulai nampak. Ya, Alya memiliki tiga buah lesung pipit. Dua di masing-masing pipinya, satu di samping bibir kanannya. Sempurna!

Banyak teman kita—termasuk aku sendiri---yang menyamakan Nina Zatulini dengan Alya. Hanya saja Alya lebih muda dan sedikit lebih kecil tubuhnya, dan memiliki tiga buah lesung pipit tentunya. Satu lagi perbedaannya, jika Nina Zatulini adalah seorang artis, maka Alya sama sekali tak bisa disuruh untuk berakting. Itu bukanlah kelemahan. Bukankah menyenangkan memiliki seorang teman yang jujur?

“Ups maaf hehehe”, ia menutup bibir mungilnya yang terbuka saat tertawa dengan tangan kanannya. Tawanya berganti senyum yang tak kalah menawan. Tiga lesung pipitnya belum memudar.

Aku mengingat kejadian beberapa tahun lalu, tahun dimana aku pertama kali melihat Alya tersenyum sangat dekat. Waktu itu, sebelum pulang sekolah, Roni si ketua kelasku memberikan handphonenya padaku. Tanpa diberi kesempatan bertanya, ia menyuruhku untuk membaca sms yang tertera di hp nya.

Mas Ron, bilangin ke mas Fahri ntar pulang sekolah jangan sampai dia pulang dulu. Tunggu aku didepan Sanggar Pramuka. Trimakasih mas ^_^ “

Tentu saja ia memanggil kami “mas”. Kami kelas XII, dan Alya masih kelas XI. Namun pesona yang ia miliki membuat ia dinobatkan menjadi Putri Sekolah. Suatu ajang nggak resmi buatan paguyuban laki-laki kelas XI dan XII. Penobatannya tiap hari. Tak perlu menunggu bulan, apalagi tahun. Dan pemenangnya tiap hari adalah Alya. Walaupun Alya sedang tidak masuk sekolah, ia tetap dinobatkan sebagai Putri Sekolah. Edan.

“Oh”, aku menghela nafas sejenak, “Okelah, eh tapi ada apa sih?”, tanyaku berpura-pura penasaran. Aku sebenarnya sudah tau maksud Alya, tadi waktu istirahat Dini memberitahuku. Ah sialan si Roni bisa smsan dengan Alya. Namun mengingat posisinya sebagai Ketua OSIS dan kapten tim futsal SMA kita, rasanya bakal percuma iri padanya. Nggak akan merubah apa-apa.

Dia hanya mengangkat bahu dan menggelengkan kepala, ketus. Ah biarlah, yang penting aku dapet momen bareng Alya haha.

Ternyata benar apa kata Dini. Alya meminta bantuanku untuk mengiringi dia berlatih beberapa lagu.

“Mau tau? Gak usah tau deh, ntar kutraktir makan di kantin Bu Tim 3 hari berturut-turut”, ia tak mau memberikan alasan kenapa dia memintaku. Padahal banyak anak yang lebih baik skill gitarnya daripada aku di SMA ini. Ia kemudian tertawa, dekat sekali. Kami hanya berjarak sebuah kursi. Persetan dengan Einstein dan segala teori relativitasnya. Suatu saat aku akan membuat teori bahwa waktu bisa berhenti beberapa detik saat Alya tertawa.

“Ups maaf”, ia meminta maaf atas tawa lepasnya sambil menutup bibirnya menggunakan tangan kanannya.

“Nggak usah di traktir deh Al, kayaknya tawamu sudah lebih dari cukup buat membayarnya”, sialan. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Setan macam apa yang kau rasukkan padaku, Al? Untungnya Alya tak menjawab, rona merah diwajahnya cukup menjawab selorohku tadi.

Gitar akustik merk Fender milik sekolah sudah berada dipangkuanku. Alya “mencurinya” dari ruang musik. Ia memintaku mengiringinya berbagai macam lagu, beberapa kali pula ia memintaku untuk masuk mengisi suara 2 nya. Perfect-nya Simple Plan, Pelangi di Matamu- Jamrud, Terlalu Manis-Slank, Kisah Kasih di Sekolah-Chrisye, dan banyak lagu-lagu lainnya kami mainkan bergantian.

“Suaramu fals, Al”, aku menggodanya.

“Baru tau? Hahaha, apa jangan—jangan kamu baru tau juga kalo suaramu lebih fals dari suaraku, mas?”, ia membalas candaanku. Lagi lagi tawa nan indah lepas dari bibirnya. Aku semakin larut dalam momen ini. Kami berbagi tawa dan canda. Sementara, beberapa pasang mata yang mengamati kami mulai mengetik di browser laptopnya yang sudah tersambung wi-fi sekolah. Beberapa menulis pencarian yang senada dengan “Cara menyantet mudah”, ada pula yang menulis “Bacaan untuk merusak hubungan seseorang”. Haha tentu saja mereka iri padaku. 

Berawal dari itu, aku dan Alya berteman semakin erat. Hingga suatu saat, kelulusan sekolah memisahkan kita. Dan beberapa tahun berikutnya kami dapat bertemu kembali.

Alya masih saja membaca diariku. Temaram lampu dan rembulan yang bersinar remang saling membahu memberikan pencahayaan yang cukup bagi Alya di bangku taman rumahnya.

“Kamu hari ini cantik, Al. Dan setiap hari adalah hari ini. Jadi kamu cantik tiap hari”

Alya tersenyum, air mata mulai membasahi pipinya.

“Uang sakuku habis Al, dan senyummu tidak bisa membuatku kenyang. Maaf aku menarik kata-kataku, apakah janjimu mentraktirku di Bu Tim masih berlaku?”

“Tahukah kau apa penyebabku dihukum saat itu Al? Kau bertanya padaku kenapa rambutku digundul. Akulah yang mengaku pada Pak Dendi kalau aku yang meminjam gitar itu tanpa izin. Setidaknya, aku menyelamatkan dirimu dari sebuah hukuman. Sebagai balasannya, bolehkah aku.......”

Alya semakin sesenggukan.

“Apa yang kau lakukan sekarang, Al?”

Alya membaca tulisanku di halaman itu dari atas lagi.  

“Apa yang kau lakukan sekarang, Al?”

Alya mulai menangis, keras. Ia menjawabnya dengan terbata-bata.

“Menangisimu, Bodoh”, Alya tak kuasa lagi menahannya. Ia menutup diariku, memeluknya, tak begitu erat, namun hangat.

Bulan yang paham situasi tersebut meredupkan sedikit cahayanya, memberikan kode pada alam sekitar. Angin yang tanggap dengan hal tersebut segerai membelai tubuh Alya. Lampu yang berusia lebih dari 6 tahun itupun sebenarnya ingin memalingkan muka, tak kuasa melihat tangis Alya. Namun ia sadar, ia tak memiliki kuasa untuk menggerakkan dirinya.

Tentu saja, aku tak pernah disana. yang ada hanya diariku yang dibaca hampir tiap malam oleh Alya, lampu yang temaram, beberapa tiup angin, Alya, dan beberapa potong kenangan yang tercecar di diariku dan ingatan Alya. 

Untuk saat ini, tak ada tawa menggemaskan Alya. Tangannya pun tak lagi menutup bibirnya; sibuk mendekap diari dan mengusap rinai air mata.

Lampu tua itu masih terus menyaksikannya. Berkedip beberapa kali, seakan merintih; batinnya turut terluka.



Perpecahan Bisa Berawal Dari Telapak Tangan!

11

*Cerita yang tersaji dibawah ini adalah perpaduan antara cerita asli dan fiksi*

Suatu hari, seseorang melihat telapak tangan saya. Sebut saja namanya Nganu. Dimana kemudian ia terkejut setelah melihat telapak tangan kiri saya.

Biasane, garis telapak tangan kiri itu membentuk angka 81 (dalam angka arab) dan telapak tangan kanan itu membentuk angka 18 (dalam angka arab pula). Jadi lak dijumlah hasilnya 99, sesuai dengan asma Gusti Alloh” , paparnya setelah melihat telapak tangan kiri saya yang garis-garisnya hanya menampilkan angka 8 (tentunya dalam angka arab)



“paling-paling, kamu bukan orang islam yo? Awas ibadahmu gak dapet pahala gara gara tanganmu gitu”, tambahnya. Saya jadi merinding. Jangan-jangan benar apa yang ia ucapkan. Saya bersyahadat ulang, tiga kali malahan, sambil berharap Tuhan mengubah garis tangan saya keesokan harinya. Ternyata tidak berubah. Saya memperbanyak syahadat saya. ternyata tidak berubah juga. Beberapa hari kemudian saya menyerah.

Sejak saat itu, saya memeriksa garis tangan hampir setiap teman yang saya temui. Dan benarlah rupanya. Semuanya bergariskan angka 81 dan 18. Bahkan teman saya yang beragama lain pun demikian, garis kedua telapak tangan mereka berjumlah 99! Apa jangan-jangan mereka nanti ditakdirkan masuk Islam?

Saya menanyakannya ulang pada seorang teman yang lain. Sebut saja namanya Bento.

ngunu kui tangan kananmu berarti diciptakan nggo wiritan, dan tangan kirimu diciptakan nggo ngloco”, jawabnya enteng, sambil memperagakan tangan kiri yang seakan memompa sesuatu  didepan resleting celananya. Jawaban tersebut tak pelak membuat pisuhan khas saya meluncur begitu saja. Jangkrik kowe To!

*ngloco adalah bahasa kedaerahan. Tiap daerah memiliki istilah tersendiri untuk kegiatan ini. Biasanya disebut dengan coli, ada pula yang menyebutnya dengan conang. Kalau belum tahu, jangan mencoba mencari tahu. Yang tau tolong jangan pernah melakukan kegiatan ini! Ndak apik, ndak ilok, ndak sehat!

Beberapa tahun kemudian, saya akhirnya menyadari bahwa apa yang dikatakan teman-teman saya terbukti

hah? Terbukti? Berarti bener awakmu bukan wong Islam? Atau terbukti lak  tangan kirimu itu diciptakan nggo ngloco?”

Sek talah, jangan memotong dulu.

Ternyata apa yang dikatakan Nganu dan Bento terbukti salah!

“Salah? Opo jangan-jangan kowe ngloco nggo tangan kanan pisan?”

Jangkrik! Menengo disik! Diam dulu!

Bagaimana dengan muslim yang tidak memiliki tangan? Atau tangannya hancur karena ikut berjihad misalkan? Apakah mereka bisa ngloco? Apakah mereka bukan orang islam hanya karena ketidak-99-an jumlah garis telapak tangan mereka? Apakah ada dalil yang menyatakan bahwa bentuk tubuhmu adalah penentu keislaman dan keselamatanmu kelak?

Mengutip kata-kata si Antum,”Sungguh, perkataan mengenai garis tangan itu adalah bid’ah ! wa kullu bid’atin dholalah! Nabi SAW nggak pernah mencontohkan hal itu!



Nganu dan Bento yang nggak terima dikatain bid’ah, meng-counter pernyataan tersebut, “Dikit-dikit bid’ah. Kowe pakek laptop dan hp nggo ngloco apa itu bukan bid’ah? Mikir!”

Si Antum membalas dengan teduh, “Bid’ah itu dalam urusan ibadah Akh, bukan urusan dunia, apalagi nggo ngloco”

Si Nganu dan Bento yang gak terima akhirnya mengajak si Antum debat keagamaan.

Debat selesai, namun ketidakpuasan masih menyelimuti perasaan kedua kubu.

Keeseokan harinya, keduanya bentrok membawa massa masing-masing.

Media-media diuntungkan. Mereka mulai mengadu domba agar konflik tak segera usai.

Yang Islam saling bunuh-bunuhan, mempersoalkan bid’ah bid’ah dan sejenisnya. Sementara kaum Kapirin dan bangsa Wahyudi semakin merajalela menguasai perekonomian dunia.

Modyar kowe!


Dalam menyikapi sebuah berita, cerita tersebut membagi masyarakat kita menjadi beberapa kelompok  

1. Kelompok yang menyebarkan berita tanpa sumber valid. Dimana berita tersebut biasanya membawa satu-dua bukti (biasanya berbentuk hal-hal yang menyangkut religi) untuk melegitimasi pernyataan.

2. Kelompok yang mudah percaya dengan berita-berita yang berbuktikan hal apapun yang menyangkut religi. Lalu mereka mulai ikut-ikut menyebarkan dan mempraktekkan tanpa melihat sumber

3. Kelompok yang agak sadar. Menjadikan berita-berita tersebut sebagai guyonan, seperti yang dilakukan si Bento.

4. Kelompok sok intelek. Menanyakan berbagai hal bertubi-tubi tanpa mau melihat dulu keseluruhan berita.

5. Kelompok yang sadar. Merenung sekian lama, mengecek berita, menemukan berbagai macam dalil penguat, bertanya kemana kemari. Akhirnya dapat menarik kesimpulan benar salahnya sebuah berita.

6. Kelompok yang suka membid’ah bid’ahkan. *ngapain kelompok ini masuk?

7. Kelompok yang gak terima di bid’ah bid’ahkan. *ngapain juga ini dimasukkan?

8. Media. Coba lihat sebuah halaman Mainstream Media Indonesia di fb untuk melihat betapa bahayanya media.

9. Sayangnya saya belum menemukan masyarakat yang ingin menguasai perekonomian dunia seperti bangsa Wahyudi.

Termasuk yang manakah kita, sayang?

"Coba saja tanya kepada rumput yang bergoyang, woo wo wooo", belahan hati saya menjawabnya dengan sebuah lagu.



Ah suaramu memang selalu terdengar merdu, sayang *talk to nokia 110

Oh ya, masih nggak percaya kalo telapak tangan bisa menimbulkan perpecahan?

Mmmm, coba aja buka telapak tangan lebar-lebar, lalu ambil sebuah gelas kaca. Lemparkan.

Pecah to? 

Monday, May 02, 2016

Bukan Indikator Kesembuhan

6


“Kalo sakit itu jangan dibuat manja, Ceng”, ujar mas Zaini saat menjawab pertanyaan Ceng. 
Sama seperti saya, mas Zaini saat itu sakit juga. Dan sebelumnya, Ceng bertanya padanya, mengapa ia tetap mengerjakan tugas padahal tubuhnya sedang sakit.

Jawaban mas Zaini membakar saya.

Oke, sakit gak boleh dibuat manja. Jadi pada malam itu, saya beraktivitas layaknya orang yang sehat. Mempercepat langkah kaki saat berjalan, mencoba untuk tidak tidur terlalu cepat, membaca-baca sesuatu, nonton drama korea dan lain-lain. Puncaknya, saya bermain PES di laptop Faris sampai larut malam. Saya lantas memegang leher saya. Dingin!

Keringat dingin bercucuran dari tubuh saya. Ah finally! Saya optimis bahwa keesokan harinya saya akan sembuh. Lalu saya pamit pada geng pemain PES untuk tidur dulu. Saya senang, mereka juga senang. Mereka senang karena pemain hampir tak terkalahkan (baca: saya) akhirnya berhenti bermain.

Tererereet teteeet, jeng jeeng. Hipotesis saya semalam ternyata tidak terbukti. Saya terbangun dengan pening bersarang dikepala, bernafas dengan berat nan panas, suhu tubuh yang meningkat, dan baterai HP yang hampir drop.

Entah siapa yang harus saya salahkan. Mas Zaini? Drama korea? Atau PES 2013 dengan update 2016?

Apa? Saya harus menyalahkan diri saya sendiri?

Tidak, saya tidak boleh salah.

Salahkan mitos yang menyatakan kalo keringat dingin dan suhu tubuh yang menurun adalah pertanda kesembuhan!

Dan keesokan harinya, bintik-bintik merah yang mulanya hanya berada di punggung telapak tangan kanan saya mulai merajalela. Beberapa harinya lagi, saya memeriksakan diri.
"Beberapa hari lagi" yang dimaksud adalah malam ini. Saya menulis tulisan ini sepulang dari rumah praktek Dr Lilik Laksmiati. Dokter yang baik, menggratiskan biaya setelah mengetahui kalau kami adalah anak Ibnu Katsir. 

Ternyata tidak, saya ternyata memakai BPJS :p . Yang dapat gratisan itu si Marwan. Yaaaah, alhamdulillah lah, someone said that it called "rejeki anak baik".

Kami? Yap, saya periksa bersama Marwan. Ada pula Ust Gho’ yang menemani kami dan Bang Jek yang mengantarkan kami.

Dan akhirnya saya divonis wajib opname!

WTH! What The H**************

Saya menceritakannya pada mbak El. Dia nampak senang, kesedihan saya semakin mbranang. Tapi tentu saja mbak El bukan senang dengan penderitaan saya, iya kan?

“Hayooo? Siapa mbak El itu, Mus?”

K     E    P    O   .

”Ayolah… janji deh bisa jaga rahasia”

Oke fix. Mbak El itu adalah sesosok manusia yang memperkenalkan saya pada Sabari dan dua sahabatnya dengan segala kekonyolannya, Lena dan segala keburukannya. Tak ketinggalan pula Jujuri, Tobati dan anak (angkat) Sabari. Kalau beneran ada, Bapaknya Sabari dan Sabari pantas menerima medali kehormatan! Atas apa? Entahlah, baca aja novel Ayah karya Andrea Hirata.

Kembali ke topik awal.

Huh begitulah, akhirnya saya harus opname lagi. Dan saya tak bisa lagi mendengarkan bacaan imam Ust Syamsul Haidi dan Pakdhe Ruhul yang tarikan nada tingginya berkali-kali membuat saya mbrebek.

Catatan untukmu, keringat dingin bukanlah salah satu indikator datangnya kesembuhan!

Saya : “lah gimana sih katanya kalo keringetan, itu tanda mau sembuh?”

Keringat dingin : “adyaa kecilik. Ketipu. Emang cuma manusia yang bisa ngibul? wkwkwkwk”

Sialan. Keringat dingin ternyata bisa bicara! Ketawanya pake wkwkwkwk pula!

Apa benar saya bisa mendengarnya? Apa saya mulai gila? entahlah

Keringat dingin : "kamu percaya saya bisa ngomong? wkwkwk kena kibulin lagi :p "

Haaah?! wtf!!!

Turn away,
If you could get me a drink 
Of water 'cause my lips are chapped and faded 
Call my aunt Marie
Help her gather all my things
And bury me in all my favorite colors, 
My sisters and my brothers, still, 
I will not kiss you, 
'Cause the hardest part of this is leaving you.
CANCER - MCR



Tuesday, April 26, 2016

Gajah di Pelupuk Mata Tak Tampak, Bakteri Tipes di Sebrang Lautan Tampak

11

*WARNING. Tulisan ini berisi konten-konten yang kurang pantas. Saya sarankan anda untuk tidak membacanya. Lalu mengapa saya menulisnya? Ah entahlah, saya hanya gelisah. Dan salah satu penenang kegelisahan saya adalah dengan menulis. Itupun kalau tulisannya jadi, kalau “ndak jadi” ya jadinya saya malah semakin gelisah… --‘

Suasana agak gelap saat itu. Lampu kamar sudah dimatikan, namun terdapat seberkas cahaya tampak masih berdekam ditempatnya. Cahaya tersebut berasal dari lampu teras kamar kos kami yang kemudian menyusup melalui celah jendela dan pintu yang sedikit terbuka.

Terdapat 3 makhluk kesepian yang sudah terlelap sembari saling menindih. Si Benjut berada ditengah, tangan si Ambles memeluk tubuh si Benjut, sementara kaki si Clurut ngeloni si Benjut. Sialnya, tumit si Clurut pas berada di atas (maaf) “organ kenikmatan masa depan” si Benjut . Entahlah, saya tak tau apakah si Benjut sudah benar-benar terlelap atau belum, namun dia terlihat seperti menikmati adegan yang diperankan dalam ketidaksadaran oleh 2 orang yang tidur di sampingnya. Mata si Benjut mengatup rapat, namun bibirnya tak henti mesam-mesem sedari tadi.

Bajindul, nampaknya si Benjut benar-benar menikmatinya.

Saya sendiri masih terjaga sekalipun mata saya sudah tertutup sekitar 3 menit yang lalu. Bohemian Rhapsody dan Love of My Life nya QUEEN belum mampu mengantarkan saya tidur. Saya memutuskan untuk memutar satu lagu lagi. Pilihan saya jatuh pada Cancer-nya MCR. Lagu sudah berhenti, kantuk belum juga menyambangi. Seusai headset saya berhenti memutar playlist andalan tersebut, sayup-sayup terdengar suara ceramah islami. Nampaknya si Dlahom masih siaga didepan laptopnya.

Cahaya laptop menyinari wajah buram si Dlahom. Saya bersyukur akhirnya si Dlahom mau melihat ceramah-ceramah agama. Ah dia melihatnya diwaktu teman-teman sudah terlelap.
Mungkin ia ingin menghindari riya’. Ah muka-muka mesum sepertimu ternyata diam-diam begitu mulia!  

Saya tersenyum simpul dengan mata saya yang masih tertutup. Namun tiba-tiba rasa su’udzan menyeruak dalam diri saya. Saya memutuskan untuk memicingkan mata, mengintipnya.

Posisi layar laptop si Dlahom menghadap barisan lemari. Sekitar 30 detik saya mengintipnya sambil berpura-pura tertidur, saya menyadari ketidak-beresan yang terjadi pada si Dlahom.

Nafasnya tampak memburu, wajahnya benar-benar terlihat ndlahom (rongga mulut seditik terbuka, melongo). Sesekali ia menggigit bibir bawahnya dengan gigi seri atas. Lawakan penceramah yang hampir membuat saya cekikikan tersebut harusnya membuat tawa si Dlahom meledak, (mengingat bahwa satu-satunya manusia yang bisa menyaingi kekonyolan saya adalah si Dlahom). Namun ia sama sekali tak bergeming! ia terus saja berusaha mengatur pernapasannya yang semakin ndak karuan.

What The Fun!!!

Saya tidak tahu apa yang akan diperbuat Tuhan pada kaca lemari si Clurut yang besarnya mengikuti bentuk pintunya. Yang jelas, kaca tersebut telah menyebarkan aib si Dlahom pada saya!. Saya dapat dengan jelas melihat penyebab memburunya nafas si Dlahom lewat pantulan cermin atas gambar layar laptopnya. Sound laptopnya memang membunyikan ceramah, namun layarnya menampilkan pergulatan dan pergumulan beberapa ikhwan dan akhwat syayaathiin! Kaca lemari tersebut menampilkan dengan gamblang adegan sekitar 6 orang yang tak mengenakan seheleai benangpun bersamaan, mengadu tubuh, berekspresi wajah penuh rintih dan berpeluh.

Lupakan pertindihan antara si Ambles, Benjut dan Clurut tadi. Kali ini si Dlahom benar-benar menunjukkan eksistensi pertindihan yang sesungguhnya! Pertindihan yang produktif! Pertindihan yang tak hanya membuat satu pihak saja yang merasakan nikmatnya, kemudian bermesam-mesem sendirian dengan ria seperti si Benjut! Pergulatan dan pergumulan yang mengajarkan bahwa memang seharusnya kenikmatan itu dibagi rata, bukan cuma milik individu semata!

Memutar video “bertegangan tinggi” dengan backsound ceramah benar-benar suatu perkara yang jenius! Saya jadi semakin yakin kalau masih banyak hal-hal mengesankan yang belum saya pelajari darimu, kawan! *eh

Dari contoh diatas, mungkin akan terasa “gimana gitu” bagi kita. Berani-beraninya sesuatu hal yang sakral (pengajian) dijadikan bungkus untuk menonton gituan. Mungkin anda akan berpikir betapa si Dlahom adalah anak kos berwajah buram yang betul-betul buram, nggak mbeneh, ndak apik.

Stop!!! Berhenti dulu hakim-menghakiminya!

Ada yang lebih bejat dari dia. Kyai cabul? Ada! Anggota MUI mesum? Ada! Apalagi hanya sekedar manusia dengan hutang dimana-mana seperti si Dlahom?

Bahkan saya mendengar beberapa cerita mengenai penghafal Al-Qur’an yang kemudian menyewa pelacur karena tidak kuat dengan godaan!

Disadari atau tidak, banyak realita yang bahkan kita sendiri yang menjadi fa’il-nya, kita sendiri yang memerankan, pada hakikatnya lebih bejat dari apa yang dilakukan oleh si Dlahom.

Anda butuh contoh? Bermuhasabahlah, pasti anda menemukannya. Kalau tetap ndak ketemu, itu sudah menjadi salah satu kebejatan anda; “tidak bisa instropeksi diri”. Namun saya yakin kalau hanya sebagian kecil saja dari anda-anda yang lebih bejat dari dia. 

Atau mungkin, hanya sebagian kecil saja yang lebih baik dari Dlahom?

Ini bukan dunia dimana setan bisa terbakar habis hanya dengan bacaan ayat kursi bung! Okelah kalau misalnya setan yang menggoda terbakar habis, lah apa setan yang lainnya ndak pengen balas dendam?

Na’uudu billaahi min dzaalik.. Allaahummar hamnaa bitarkil ma’aashiy Abadan. Rahmatilah kami dengan meninggalkan maksiat ya Rabb..

SO, WHAT IS THE POINT, MUSTOFA SYAFIQ? Apa inti dari tulisan ini? Apa yang hendak kau sampaikan sebenarnya?

Eh iya ya, mmm apa ya? Ah entahlah, mungkin ini adalah satu dari puluhan tulisan saya yang “ndak jadi”

Dan akhirnya, saya semakin gelisah.