Sunday, March 10, 2019

AWAS LGBT DI SEKITAR ANDA!

11



Jelang dhuhur tadi, saya beristirahat sejenak untuk menyempatkan qailulah[1] di sebuah masjid setelah semenjak shubuh tadi berputar-putar mengerjakan beberapa hal yang tak kunjung selesai :( . Baru saja sekitar satu menit memejamkan mata, ada seseorang berusia paruh baya yang tiba-tiba datang dan tiba-tiba memijiti kaki saya. Saya terbangun dan meminta kepada bapak itu untuk berhenti.

"Sudah pak, gak usah, sungkan saya", saya memohon pada beliau untuk menghentikannya, meskipun dalam hati, saya memang lagi ingin dipijit.

"Gak papa dik, kamu kelihatan capek. Gak papa, saya ini memang tukang pijat kok. Adik nggak usah bayar", begitulah jawabnya. Lalu pembicaraan dilanjutkan dengan basa-basi biasa seperti, 'dari mana asalnya? sekarang kerja apa?' dan lain-lain, sementara ia terus memijit kaki saya.

Ia meminta saya untuk berbaring kembali setelah saya dipijati dalam posisi duduk. Saya menurut saja, karena saya memang tak merasakan adanya gelagat-gelagat aneh. Selain itu, tempat ini adalah tempat yang suci dan ber-cctv, tak mungkin lah rasanya dia mau melakukan hal yang macam-macam. Saya kemudian berbaring sembari memejamkan mata. Pikir saya sih, lumayan, bisa tidur sambal dipijati secara gratisan. Tapi ternyata tidak lumayan sama sekali. Ketika sudah setengah tertidur, saya tersentak ketika tiba-tiba tangannya sudah masuk kedalam sarung saya dan memijit-mijit (maaf tanpa sensor) kemaluan saya yang tak saya sadari sudah menegang.

Sialan! Saya mengambil posisi duduk kembali

Tanpa mengurangi perasaan hormat dan kesopanan, saya meminta kepada bapak tersebut untuk berhenti. namun ia tetap memaksa untuk memijit saya. Saya memintanya untuk tak memijit bagian "itu" karena... yah... begitulah. Ia lalu memijit punggung dan bahu saya. Ah lumayan lah. 

Sampai akhirnya, ia memijiti kepala saya. Awalnya sih, memang ia memijit kepala, namun itu berlanjut ke hidung dan bibir.

Bajindul!

Seumur-umur saya dipijati dan memijat orang-orang sekitar, termasuk ketika saya belajar pijat terapi, tak pernah saya temukan pijatan pada bibir maupun hidung. Namun saya masih berprasangka baik. Barangkali, memang ada saraf-saraf yang memang butuh untuk dipijat pada kedua bagian tubuh itu.

Namun, ia tiba tiba mendekatkan wajahnya pada wajah saya hingga saya bisa merasakan nafasnya yang terdengar begitu memburu. Gilaaaa! Ia terus mendekat hingga kemudian jarak kami hanya terpisah beberapa centimeter saja. Tanpa mengurangi kesopanan, saya meminta izin kepada bapak itu untuk ke kamar mandi

“Oh, mau mandi dulu ya? Iya wes”, kurang lebih, begitulah ucapnya. 

Di kamar mandi, saya terngiang beberapa cerita teman-teman saya yang pernah mengalami hal serupa. Namun seingat saya, belum pernah ada yang bercerita kejadiannya terjadi di masjid. Saya kemudian memikirkan strategi yang pas untuk memberikan sedikit “pelajaran” padanya. Iya, saya akan kembali lagi padanya, meminta untuk dipijiti lagi, dan jika ia memang terbukti berbuat yang macam-macam, maka saya akan menggunakan sedikit ketegasan, sekaligus membuktian hasil latihan push-up dan angkat barble one-hand yang hampir tiap hari saya lakukan.

Tapi, andai saya kalah, ya saya tinggal teriak saja wkwkwk. Tapi teriaknya itu bukan karena saya pengecut. Lagipula saya tak suka cara kekerasan, apalagi kalau sampai terlibat perkelahian. Saya tak menyukainya, meskipun pernah beberapa kali berkelahi dengan beberapa orang. Terakhir kali berkelahi, saya berkelahi dengan mas-mas yang ternyata sudah jadi pelatih silat, dimana perkelahian tersebut berakhir dengan sebuah bantingan keras yang membuat pandangan saya gelap sesaat karena kepala jatuh terlebih dahulu. 

Setelah keluar dari kamar mandi dengan ide terebut, saya hendak mencari bapak itu kembali untuk meminta pijit lagi. Namun ternyata, ia sudah menemukan orang lain yang sedang ia pijat. Dan lagi-lagi, saya melihatnya sedang memijit-mijit kemaluan orang yang sedang ia pijit.

Saya berlalu seraya memandangnya datar-datar, ia memandang saya dengan menyeramkan. Saya lantas memutuskan untuk melaporkan kejadian tersebut pada satpam dan bersegera pulang.

Benar-benar kejadian yang entah harus bagaimana saya menyebutnya, karena sungguh tak lucu sama sekali kalau ternyata first kiss saya adalah seorang bapak-bapak bertubuh kekar.

Dari kejadian yang saya alami dan juga beberapa kejadian serupa yang dialami teman-teman saya, saya menghimbau kepada guru-guru dan orang tua khususnya untuk memberikan pendidikan akan hal ini kepada murid dan anak-anaknya mengenai bahaya ini. Karena modusnya bermacam-macam. Ada yang dikasih uang terlebih dahulu, ada juga yang diancam jika tak mau mengikuti kemauan pelaku. 

Dibakar hidup-hidup adalah pendapat imam Ali saat ditanya mengenai apa hukuman yang pantas bagi pelaku LGBT. Sedangkan ibnu Abbas berpendapat bahwa pelakunya harus dijatuhkan dari tempat yang tinggi, baru dihujani batu hingga meninggal. Saya tau kedua pendapat tersebut, namun masih tak kuasa untuk bertindak tegas saat mengalaminya. 
Punya ilmunya saja masih tak mampu bertindak tegas karena mesih mencoba untuk berbuat baik dan menghormatinya, apalagi tak punya ilmunya, apalagi digoda dengan iming-iming bermacam-macam!

Saya jadi ingat perkataan seorang teman pada suatu saat, “pada akhirnya, menjadi terlalu baik akan menghancurkanmu secara perlahan” 


Di masa-masa panasnya kontestasi politik ini, ada juga yang sedang panas dengan diri-diri mereka sendiri dan menginginkan adegan-adegan panas dengan sejenis mereka sendiri. Di masa-masa banyaknya hoax bermunculan ini, mereka-mereka juga mulai berani muncul, bahkan ditempat yang suci. 

Duhai calon istri (yang entah kau siapa, dimana, bagaimana, mengapa, kapan, dan apa) tolong jaga diri baik-baik ya... *tulisan berwarna biru bisa di klik loo

Salam dariku, calon suamimu, yang hampir saja disikat pria, bukan disikat olehmu. *tulisan berwarna biru bisa di klik loo



[1] Qailulah adalah tidur siang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قِيْلُوا فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لاَ تَقِيْلُ
Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (HR. Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb)



Saturday, February 09, 2019

Senyummu Mengalihkan Duniaku

9

"Sekarang, keluarlah. Temui mereka"


Sungguh, ia ingin menolak perintah tuannya, namun apa daya, hutang budi yang teramat besar membuatnya tak bisa menuruti jerit berontak hatinya.

Melangkahlah ia sekelebat, anggun nun tegap tanpa dibuat-buat. Seketika, kepadanya, seluruh pasang mata wanita dalam satu ruang menatap tanpa kejap sembari berucap, "Sungguh, Maha Besar Dia yang menciptakan seindah-indah ciptaan. Betapa ia bukanlah manusia. Ia bukanlah manusia. Ia adalah malaikat!". 

Dalam ruang yang telah tersuguh berbagai macam makanan, mereka tercekat. Pisau-pisau yang mereka gunakan untuk mengupas dan mengiris bebuahan tanpa disadari malah melukai jari-jari mereka sendiri. Saat itu, sakit tak lagi dirasa, hening menyelimuti suasana.

Betapa indah Alquran berkisah, mengenai bagaimana suatu keindahan menjadi fitnah.


***

Tiap kali ku membaca ataupun dibacakan kisahnya, tak bosan-bosannya ku bayangkan seperti apa ketampanan Yusuf alaihissalam. Ah, seperti apa ya? Karena, jika memang tak benar-benar rupawan, tak mungkinlah 'sekilas pandang' dari wanita-wanita tersebut menjadi anastesi yang begitu cepat nun hebat mereda nyeri! Hingga tak terasa tangan mereka teriris-iris oleh diri mereka sendiri. Ah, kok bisa ya?

Namun, rasa penasaran itu terjawab lengkap, saat tak sengaja kupandang senyummu, seiris lengkung pelangi yang lesung pipitnya berhias mungil disamping kanan bibirmu. 

Dan terus saja kupandang, sembari menancapkan satu persatu panah beracun hingga ke hampir setiap bagian tubuhku. 

Mana yang lebih parah? melukai tangan dan jemari atau menancapkan panah dalam diri? Betapa ku tersadar kemudian, bahwasanya aku jauh lebih buruk dari mereka yang terpesona akan ketampanan Yusuf alaihissalam

Terucap doa, "Duhai Engkau yang Mencipta, jikalau memang pernah ini sebuah kesalahan yang membinasakan, mohon jadikan wajah-Mu lebih kami harapkan untuk kami pandang dari pada ia yang kau ciptakan"

Pandangan (haram) adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya yang terasa manis baginya” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7875).










Tuesday, January 01, 2019

Sepasang Gerimis Sore

14



Sore ini, Tuhan mencipta sepasang gerimis…

Taman kota terguyur tipis
Begitu pula pohon beringin tua,
Yang bergurat namamu, manis

Sore ini awal Januari
Angin bertiup disana sini
Hingga berguguranlah daun-daun,
Begitu pula dedaunan beringin tua itu..

Yang daunnya tak jatuh pada tanah,
Ia bermuara, pada ingatan paling kenang


Angin bertiup disana sini
Bertiup dimatamu jua

Apa semilirnya mengganggu?
Hingga memerah matamu?

“Bukan karena angin, tapi sembilu darimu”, isakmu

Sembilu dariku? 

Aku lantas duduk
Namun tidak dengan pikiranku
Ia tak bisa duduk
Ia aruk
Ia mencoba menerka
Ia mengacak isi kepala
Ia menemukan… kenangan
Menari rancak…
Berteriak…
Acak…
Hingga...
Aku tersadar akan sesuatu…

Tapi aku masih pusing
Entah karena ku tak tidur semalam
Atau karena mabuk kepayang
Padahal hanya ku tenggak 3 cawan rindu, yang
diseduh jarak, disajikan waktu

Tapi kenapa bisa begitu memabukkan?

Mungkin tidur adalah obatnya
Sayangnya, ku tak mampu membeli obat tidur
Namun ku ingin tidur

Dan tak perlu terjaga sekalian

Kuraih cekam, kuselimutkan rapat-rapat
Padat-padat
Rekat-rekat
Erat-erat
Gelap-gelap

Mencoba menghilang, dalam ingatan sendiri
Namun tetap saja, aku tak kunjung tertidur

Degup ini terlalu memburu

Lalu kucoba berpuisi
Tanpa bahasa
Karena cinta, sudah tak sanggup lagi...
Dipuisikan...
Dalam bahasa apapun

Barangkali dengan berpuisi aku bisa tertidur
Dan tak perlu terjaga sekalian

Sementara itu... Sepasang gerimis mulai berlalu,
Seiring lambaian tanganmu
Juga senyummu, yang belum sempat kumiliki

-----------------------------------

*Info 

Ini bukan puisi. Ini sama seperti tulisan2 sebelumnya, namun mengalami pereduksian kata, lalu disusun sedemikian rupa