Suatu hari, saya mendengarkan
ceramah mengenai kecantikan bidadari yang terus bertambah tiap kali kita
memandangnya di surga kelak. Katanya, setiap detik, kecantikannya akan bertambah.
Setiap kita berkedip, kecantikannya akan bertambah. Apalagi jika ditinggal main
PES selama sekian jam. Mungkin ibaratnya, jika kita sebelum main PES melihat
kerbau yang masih belepotan lumpur, maka setelah beberapa jam bermain, bisa
jadi kerbau tadi berubah menjadi Raline Syah yang berkerudung! Kurang penak piye ngunu kui hah?!
Tolong catat. Itu hanya
terjadi di surga. Karena saya yakin bahwa film 5 cm, Surga Yang Tak Dirindukan,
99 Cahaya di Langit Eropa dll yang dibintangi oleh Raline Syah tidak akan banyak
peminatnya jika hal tersebut bisa terjadi di sawah.
Tak hanya para penggemar film
dan fans Raline Syah, bahkan saya pun akan rela ngutang kemana-mana untuk beli
kerbau, lalu saya biarkan ia bermain di sawah agar ia belepotan lumpur
sementara saya menunggunya dengan bermain PES dengan sembunyi-sembunyi di
gudang pondok memakai laptop Mas Qaf. Setelah memenangkan beberapa piala Cup,
saya akan kembali ke sawah untuk menjemput Raline Syah. Kurang penak piye ngunu kui hah?! [2]
Bukan bermaksud untuk
meragukan perkataan si Da’i. Namun karena saya digodok selama tiga tahun di STM
yang anak-anaknya suka meragukan berita dan kebenaran apapun itu, jadinya saya
sedikit ragu.
“Mbulet! Katanya nggak
bermaksud meragukan, tapi akhirnya bilang kalo kamu itu ragu. Gimana sih kamu
itu, Mas?”
Oke oke. Saya memang sedikit
sangsi atas pernyataan Da’I tersebut. Namun keraguan saya terjawab tuntas kala
saya pulang kemarin sore. Saya menemukan film Ada Apa Dengan Cinta 2 di laptop
ibu saya. Karena saya lagi nggak ngapa-ngapain dan lagi nggak enak mau
ngapa-ngapain, akhirnya saya menonton film tersebut.
Berbicara mengenai film
AADC2, berarti berbicara mengenai Rangga dan Cinta, atau lebih tepatnya
Nicholas Saputra dan Dian Sastro. Kata si Cinta, Rangga itu jahat (bisa dilihat di
film AADC2 menit ke 52:25 sampai 52:30), namun sejatinya ada yang lebih jahat
dari Rangga! Siapa lagi kalo bukan si Produser dan Sutradara yang mengadakan
adegan ciuman dan berpelukan antara Rangga dan Cinta! (anda akan menemukan
adegan tersebut jika film yang anda tonton masih original/belum dipotong/Belum disensor).
Sialan! Bajindul njenengan
sedoyo!!!
“Hahaha, Kurang penak piye ngunu kui hah?! [3]”, jawab Rangga dalam imajinasi saya. Membuat saya gemas ingin mencubit pipinya, memakai kunci inggris yang telah dibakar selama 10 jam.
Kau boleh saja senang karena
bisa mbathi di adegan itu. Namun saya haqqul yaqin, Ngga. Setiap jiwa
lelaki para fans Dian Sastro yang nonton adegan tersebut pasti memiliki dendam
kesumat padamu. Kalo nggak dendam, paling enggak mereka pasti misuh padamu.
Sudahlah, hentikan pembahasan mengenai Rangga.
Dulu (entah itu beberapa
tahun lalu) saya sempat mendengar sebuah celotehan yang kurang lebih seperti
ini bunyinya…
“Kecantikan yang diiciptakan
Tuhan untuk Indonesia itu dibagi menjadi dua. Separuhnya untuk Dian Sastro,
separuhnya lagi untuk dibagi-bagi ke seluruh rakyat Indonesia”
Jadi jika ada seseorang yang mengaku dirinya cantik atau menganggap orang lain cantik, tolong diingat! Kecantikannya itu hanyalah satu per sekian ratus juta dari kecantikan Dian Sastro! Camkan itu! Haha
Berangkat dari pernyataan itu, saya kemudian
mencoba mencari-cari siapakah Dian Sastro tersebut. Dari pencarian itu, saya
jadi tau kalau film yang pernah saya tonton sewaktu kecil dulu, Ada Apa Dengan
Cinta (AADC), ternyata dibintangi oleh Dian Sastro.
Dian Sastro di Film AADC yang pertama (tahun 2002) berusia sekitar 20 tahun. Masih belum bersuami, masih ting-ting pokoknya lah. Usia 20, adalah masa-masa dimana (katanya) seorang perempuan itu sedang mekar-mekarnya.
Dan 14 tahun kemudian, dimana ia sudah bersuami dan beranak dua, dimana seharusnya ia bertambah gembrot dan berlemak, dimana seharusnya ia bertambah keriput dan jelek karena semakin tua, ternyata malah semakin uhuk ehem haciiuw broo!!. Nih buktinyaaa..
| 2002 |
Saya mah, jangankan 14 tahun lagi. Kemarin waktu beli keyboard laptop internal saja, saya dipanggil "pak" oleh kasir yang jelas-jelas lebih tua dari saya. Bukan hanya itu. Sewaktu saya mencetak poster di salah satu percetakan, mbak-mbak berdempul yang sepertinya lebih tua dari saya juga memanggil saya "pak". Jika di ingat-ingat lagi, selain mereka berdua, masih banyak lagi yang memanggil saya dengan panggilan "pak" -_- . Ayolah, saya tidak setua itu...
Kembali ke Dian Sastro.
Jika kerbau belepotan lumpur dibiarkan beberapa jam bisa menjadi Raline Syah, mungkin setelah dibiarkan satu hari ia bisa berubah menjadi Dian Sastro.
"Kayaknya lebih cantik Raline Syah deh daripada Dian Sastro, Mas"
Karena masih satu kaidah/hukum yang saya temukan mengenai kecantikan Dian Sastro (yang "Kecantikan yang diiciptakan Tuhan untuk Indonesia itu dibagi menjadi dua" itu), jadi sekalipun Raline Syah, Natasha Rizki, Citra Kirana, dan seluruh anggota JKT48 dikumpulkan, niscaya beberapa helai rambut Dian Sastro masih lebih (y) dari pada mereka semua hahaha.
"Lah kalo kerbaunya sudah menjadi Dian Sastro gimana? Bisa bertambah cantik lagi gak?"
Hahaha, gak tau ya, mungkin Dian Sastronya bertambah banyak kali :p . Kurang penak piye ngunu kui hah?! [4]
Jika di dunia saja Dian Sastro bisa bertambah uhuk ehem haciiuw seiring berjalannya waktu, masih ragukah kita akan berlipatnya kecantikan bidadari tiap kita memandangnya? masih ragukah kita akan kenikmatan surga?
--------------------------------------------------
Kecantikan itu relatif. Menurut saya sih Dian Sastro itu nggak cantik-cantik amat. Ya cantik sih, tapi biasa saja. Apalagi Raline Syah, Natasha Rizki, Citra Kirana, dan seluruh anggota JKT48.
"Lah terus, cantik menurutmu itu seperti apa, Mas?"
Ini nih, seperti ini. Tapi ini bukan menurut saya, tapi menurut ibu saya. Ibu saya selalu bilang kalo beliau itu cantik, maka sudah menjadi kewajiban bagi saya sebagai putranya untuk mematuhi ucapannya :D
Haha... Udahlah, sekiaaan.

