Wednesday, May 11, 2016

Sang Waktu 2

12

“Apa yang kau lakukan sekarang, Al?”

“Tentu saja membaca diarimu, Bodoh”, Alya menjawab dengan lirih. Ia tak benar-benar mengucapkan bodoh pada orang yang menyukainya. Ia mengucapkan kata bodoh sembari tertawa dengan menggemaskan, kedua kelopak matanya menyempit, kadar manis dalam tawanya bertambah berkali-kali lipat kala ketiga lesung pipit Alya mulai nampak. Ya, Alya memiliki tiga buah lesung pipit. Dua di masing-masing pipinya, satu di samping bibir kanannya. Sempurna!

Banyak teman kita—termasuk aku sendiri---yang menyamakan Nina Zatulini dengan Alya. Hanya saja Alya lebih muda dan sedikit lebih kecil tubuhnya, dan memiliki tiga buah lesung pipit tentunya. Satu lagi perbedaannya, jika Nina Zatulini adalah seorang artis, maka Alya sama sekali tak bisa disuruh untuk berakting. Itu bukanlah kelemahan. Bukankah menyenangkan memiliki seorang teman yang jujur?

“Ups maaf hehehe”, ia menutup bibir mungilnya yang terbuka saat tertawa dengan tangan kanannya. Tawanya berganti senyum yang tak kalah menawan. Tiga lesung pipitnya belum memudar.

Aku mengingat kejadian beberapa tahun lalu, tahun dimana aku pertama kali melihat Alya tersenyum sangat dekat. Waktu itu, sebelum pulang sekolah, Roni si ketua kelasku memberikan handphonenya padaku. Tanpa diberi kesempatan bertanya, ia menyuruhku untuk membaca sms yang tertera di hp nya.

Mas Ron, bilangin ke mas Fahri ntar pulang sekolah jangan sampai dia pulang dulu. Tunggu aku didepan Sanggar Pramuka. Trimakasih mas ^_^ “

Tentu saja ia memanggil kami “mas”. Kami kelas XII, dan Alya masih kelas XI. Namun pesona yang ia miliki membuat ia dinobatkan menjadi Putri Sekolah. Suatu ajang nggak resmi buatan paguyuban laki-laki kelas XI dan XII. Penobatannya tiap hari. Tak perlu menunggu bulan, apalagi tahun. Dan pemenangnya tiap hari adalah Alya. Walaupun Alya sedang tidak masuk sekolah, ia tetap dinobatkan sebagai Putri Sekolah. Edan.

“Oh”, aku menghela nafas sejenak, “Okelah, eh tapi ada apa sih?”, tanyaku berpura-pura penasaran. Aku sebenarnya sudah tau maksud Alya, tadi waktu istirahat Dini memberitahuku. Ah sialan si Roni bisa smsan dengan Alya. Namun mengingat posisinya sebagai Ketua OSIS dan kapten tim futsal SMA kita, rasanya bakal percuma iri padanya. Nggak akan merubah apa-apa.

Dia hanya mengangkat bahu dan menggelengkan kepala, ketus. Ah biarlah, yang penting aku dapet momen bareng Alya haha.

Ternyata benar apa kata Dini. Alya meminta bantuanku untuk mengiringi dia berlatih beberapa lagu.

“Mau tau? Gak usah tau deh, ntar kutraktir makan di kantin Bu Tim 3 hari berturut-turut”, ia tak mau memberikan alasan kenapa dia memintaku. Padahal banyak anak yang lebih baik skill gitarnya daripada aku di SMA ini. Ia kemudian tertawa, dekat sekali. Kami hanya berjarak sebuah kursi. Persetan dengan Einstein dan segala teori relativitasnya. Suatu saat aku akan membuat teori bahwa waktu bisa berhenti beberapa detik saat Alya tertawa.

“Ups maaf”, ia meminta maaf atas tawa lepasnya sambil menutup bibirnya menggunakan tangan kanannya.

“Nggak usah di traktir deh Al, kayaknya tawamu sudah lebih dari cukup buat membayarnya”, sialan. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Setan macam apa yang kau rasukkan padaku, Al? Untungnya Alya tak menjawab, rona merah diwajahnya cukup menjawab selorohku tadi.

Gitar akustik merk Fender milik sekolah sudah berada dipangkuanku. Alya “mencurinya” dari ruang musik. Ia memintaku mengiringinya berbagai macam lagu, beberapa kali pula ia memintaku untuk masuk mengisi suara 2 nya. Perfect-nya Simple Plan, Pelangi di Matamu- Jamrud, Terlalu Manis-Slank, Kisah Kasih di Sekolah-Chrisye, dan banyak lagu-lagu lainnya kami mainkan bergantian.

“Suaramu fals, Al”, aku menggodanya.

“Baru tau? Hahaha, apa jangan—jangan kamu baru tau juga kalo suaramu lebih fals dari suaraku, mas?”, ia membalas candaanku. Lagi lagi tawa nan indah lepas dari bibirnya. Aku semakin larut dalam momen ini. Kami berbagi tawa dan canda. Sementara, beberapa pasang mata yang mengamati kami mulai mengetik di browser laptopnya yang sudah tersambung wi-fi sekolah. Beberapa menulis pencarian yang senada dengan “Cara menyantet mudah”, ada pula yang menulis “Bacaan untuk merusak hubungan seseorang”. Haha tentu saja mereka iri padaku. 

Berawal dari itu, aku dan Alya berteman semakin erat. Hingga suatu saat, kelulusan sekolah memisahkan kita. Dan beberapa tahun berikutnya kami dapat bertemu kembali.

Alya masih saja membaca diariku. Temaram lampu dan rembulan yang bersinar remang saling membahu memberikan pencahayaan yang cukup bagi Alya di bangku taman rumahnya.

“Kamu hari ini cantik, Al. Dan setiap hari adalah hari ini. Jadi kamu cantik tiap hari”

Alya tersenyum, air mata mulai membasahi pipinya.

“Uang sakuku habis Al, dan senyummu tidak bisa membuatku kenyang. Maaf aku menarik kata-kataku, apakah janjimu mentraktirku di Bu Tim masih berlaku?”

“Tahukah kau apa penyebabku dihukum saat itu Al? Kau bertanya padaku kenapa rambutku digundul. Akulah yang mengaku pada Pak Dendi kalau aku yang meminjam gitar itu tanpa izin. Setidaknya, aku menyelamatkan dirimu dari sebuah hukuman. Sebagai balasannya, bolehkah aku.......”

Alya semakin sesenggukan.

“Apa yang kau lakukan sekarang, Al?”

Alya membaca tulisanku di halaman itu dari atas lagi.  

“Apa yang kau lakukan sekarang, Al?”

Alya mulai menangis, keras. Ia menjawabnya dengan terbata-bata.

“Menangisimu, Bodoh”, Alya tak kuasa lagi menahannya. Ia menutup diariku, memeluknya, tak begitu erat, namun hangat.

Bulan yang paham situasi tersebut meredupkan sedikit cahayanya, memberikan kode pada alam sekitar. Angin yang tanggap dengan hal tersebut segerai membelai tubuh Alya. Lampu yang berusia lebih dari 6 tahun itupun sebenarnya ingin memalingkan muka, tak kuasa melihat tangis Alya. Namun ia sadar, ia tak memiliki kuasa untuk menggerakkan dirinya.

Tentu saja, aku tak pernah disana. yang ada hanya diariku yang dibaca hampir tiap malam oleh Alya, lampu yang temaram, beberapa tiup angin, Alya, dan beberapa potong kenangan yang tercecar di diariku dan ingatan Alya. 

Untuk saat ini, tak ada tawa menggemaskan Alya. Tangannya pun tak lagi menutup bibirnya; sibuk mendekap diari dan mengusap rinai air mata.

Lampu tua itu masih terus menyaksikannya. Berkedip beberapa kali, seakan merintih; batinnya turut terluka.



12 comments:

  1. tulisanmu membuatku refrain mas :')

    ReplyDelete
  2. andai kemampuan menulismu sama dengan kemampuan recovery tubuhmu c*k

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha. c*k pean itu opo? cak? cik? cuk? cek? cok?

      Delete
  3. Wiiihhhhh ngalir banget kayak sungai...
    Oiya, bagaimana kabar "Citra Kirana"?

    ReplyDelete
  4. saya suka tulisan2mu mas. tapi pernahkah kau berpikir kalau kesehatanmu itu jauh lebih berharga dari sekedar ngepost tulisan-tulisan kayak gini? apa sih yang kau dapatkan dengan nulis ginian? oke kalo gitu teruslah nulis dan nggak usah sembuh sekalian!

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang saya dapatkan? mmm, yang berkurang iya hahaha.

      wes tahap penyembuhan kok hehe

      Delete
  5. bagus mas syafiq.... kenapa ga sekalian bikin novel aja?
    oh iya komentar di atas kayaknya saya kenal mas syafiq sama bahasa tulisannya, hemm ndang waraso mas trus tutukne hafalanmu dan tutukne tulisane iki....
    hehehe dengan salam yang sama "ga bosen ta sakit terus...."

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe, saya mengenali salam pean wkwkwk

      dan komentar diatas, siapakah dia? kulo kok mboten smerap nggeh hahaha

      Delete
    2. saya niat ga pake nama sendiri takut kalo yang diatas tau.....
      dilihat dari bahasa tulisannya sepertinya dia itu.... mbak Tiiit sensor mas ( _ _ _ _ )

      Delete
    3. senes, cobak tangkletono kiambak hehe

      Delete