Sebagaimana sabda Rasulullah, puasa Daud merupakan puasa sunnah terbaik.
“Berpuasalah sehari dan berbukalah sehari. Itulah puasa Daud. Itu adalah
puasa yang paling utama.” (HR Bukhari). Nah, dari sinilah kita bisa
melihat benang merahnya. Di balik semua keistimewaan yang dimiliki Nabi
Daud as (Selain sebagai nabi, ia juga sebagai raja yang memiliki kekuatan luar
biasa dalam menghadapi musuh-musuhnya. Ia mampu mematahkan besi yang
kokoh sehingga para musuhnya gentar. Kharismatiknya mampu mengundang
kagum lawan dan disegani oleh lawan. Suaranya yang merdu membuat
burung-burung merasa kagum dan bertasbih dengannya), rahasianya adalah dari kedahsyatan puasa yang dilakukannya.
Nabi Daud telah menjadikan puasa sebagai proses self controlling, tazkiyah, dan taqarrub ilallah sehingga beliau mendapatkan anugerah keistimewaan dari Allah SWT.
Ia seorang perempuan muda. Tak perlu disebut nama, yang
jelas dia tergolong pengusaha yang gigih. Sejak remaja sudah terbiasa
kerja keras. Pernah berkarier di sebuah perusahaan penerbitan ternama.
Lalu keluar untuk mengembangkan usaha sendiri. Mulai dari usaha
konveksi, toko sembako, hingga bisnis berlian. Yang terakhir ini
omzetnya bukan lagi jutaan tetapi sudah miliaran.
Singkat cerita, ketika bisnis berliannya tengah melambung ia jatuh sakit. Perutnya bagian atas sering mengeras. Sakitnya luar biasa. Jika sedang kumat, perutnya mengembung, sakit dan mual. Tetapi tidak ada muntah yang keluar. Dokter mengatakan ia terkena dispepsia fungsional. Dari hasil pemeriksaan endoskopi, diketahui banyak luka di lambungnya. Dokter menvonis ia harus kontrol rutin dan minum obat entah sampai kapan.
Vonis dokter itu membuatnya tidak bisa tidur. Selamanya harus minum obat? Lalu endoskopi lagi yang sakitnya minta ampun? Tidak, pikirnya. Ia pun mencari ikhtiar lain. Termasuk berkonsultasi ke dokter lain untuk second opinion. Alhasil, perempuan pengusaha ini akhirnya teringat kebiasaan lama: puasa Daud. Sehari berpuasa, sehari tidak, begitu seterusnya. Dan, al-hamdulillah, keluhannya berangsur hilang. Perutnya tidak lagi mengeras, nyeri di ulu hati pun sirna seiring berjalannya waktu.
Berpuasa sudah sejak lama diyakini sebagai salahsatu alternatif penyembuhan berbagai penyakit. Hippocrates yang hidup pada abad ke-5 SM dan dikenal sebagai Bapak Kedokteran, merupakan orang pertama yang mengintrodusir therapi puasa pada masa Yunani kuno. Pada zaman kekuasaan Dinasti Baltimus, para dokter Alexandria menganjurkan para pasiennya berpuasa untuk mendapatkan kesembuhan dari berbagai penyakit dan mempercepat proses penyembuhan.
Diantara hal penting yang menguatkan adanya keajaiban berpuasa ialah pernyataan Prof Andrea Wyler, seorang ahli dietetics dari Amerika. Andrea yang juga seorang muallaf, menyimpulkan : berpuasa pada 10 hari pertama Ramadan mampu memperbaiki 10 persen sel-sel tubuh. Jumlah ini meningkat sampai 66 persen pada sepuluh hari berikutnya, dan menjadi hampir 100 persen pada sepuluh hari terakhir Ramadan.
Al-Ghazali merinci 10 faedah lapar saat berpuasa. Satu diantaranya menyehatkan tubuh. Puasa merupakan teknik detoksifikasi yang paling murah dan efektif. Dektoksifikasi merupakan proses membuang dan menetralisir racun dalam tubuh. Puasa juga baik untuk proses penyembuhan alami. Saat berpuasa, energi untuk mencerna makanan dialihkan ke metabolisme dan sistem imun tubuh. Pada saat yang sama, dalam tubuh kita terjadi sintesis protein yang sangat efisien dan memungkinkan organ-organ tubuh menjadi lebih sehat.
Karena produksi sintesis protein lebih efisien, tingkat metabolism lebih lambat, dan sistem imun lebih baik, orang yang berpuasa akan awet muda dan panjang usia. HGH (Human Growth Hormon) -hormon untuk pertumbuhan manusia- disekresi lebih sering dalam kondisi berpuasa. Dalam sebuah eksperimen, cacing tanah diisolasi dan ditempatkan dalam siklus puasa dan tidak puasa (seperti puasa Daud). Cacing itu terbukti bertahan hidup sampai 19 generasi dengan karakteristik tubuh tetap muda (The Road to Allah, 2008).
Meksi demikian, keajaiban lapar saat berpuasa seperti di atas hanya efek samping. Bukan tujuan utama, karena tujuan diperintahkannya puasa Ramadan adalah ketaqwaan (Al-Baqarah 183). Lewat puasa Ramadan umat Islam dilatih menahan diri. Tentu bukan hanya menahan diri secara fisik, tidak makan dan minum. Bukan sekadar puasa badani, melainkan sekaligus puasa nafsani, puasa yang dapat mencapai nilai-nilai spiritual.
Dengan kesadaran bahwa puasa nafsani lebih penting dari sekadar puasa badani, maka puasa kita akan jauh lebih bermakna. Insya Allah. (*)
*) Dr drg Ahmad Syaify Sp Perio (K), Direktur RSGM Prof Soedomo, FKG-UGM
Sebagaimana dimuat di rubrik Hikmah Ramadan SKH Kedaulatan Rakyat edisi Kamis (25/07/2013)
Singkat cerita, ketika bisnis berliannya tengah melambung ia jatuh sakit. Perutnya bagian atas sering mengeras. Sakitnya luar biasa. Jika sedang kumat, perutnya mengembung, sakit dan mual. Tetapi tidak ada muntah yang keluar. Dokter mengatakan ia terkena dispepsia fungsional. Dari hasil pemeriksaan endoskopi, diketahui banyak luka di lambungnya. Dokter menvonis ia harus kontrol rutin dan minum obat entah sampai kapan.
Vonis dokter itu membuatnya tidak bisa tidur. Selamanya harus minum obat? Lalu endoskopi lagi yang sakitnya minta ampun? Tidak, pikirnya. Ia pun mencari ikhtiar lain. Termasuk berkonsultasi ke dokter lain untuk second opinion. Alhasil, perempuan pengusaha ini akhirnya teringat kebiasaan lama: puasa Daud. Sehari berpuasa, sehari tidak, begitu seterusnya. Dan, al-hamdulillah, keluhannya berangsur hilang. Perutnya tidak lagi mengeras, nyeri di ulu hati pun sirna seiring berjalannya waktu.
Berpuasa sudah sejak lama diyakini sebagai salahsatu alternatif penyembuhan berbagai penyakit. Hippocrates yang hidup pada abad ke-5 SM dan dikenal sebagai Bapak Kedokteran, merupakan orang pertama yang mengintrodusir therapi puasa pada masa Yunani kuno. Pada zaman kekuasaan Dinasti Baltimus, para dokter Alexandria menganjurkan para pasiennya berpuasa untuk mendapatkan kesembuhan dari berbagai penyakit dan mempercepat proses penyembuhan.
Diantara hal penting yang menguatkan adanya keajaiban berpuasa ialah pernyataan Prof Andrea Wyler, seorang ahli dietetics dari Amerika. Andrea yang juga seorang muallaf, menyimpulkan : berpuasa pada 10 hari pertama Ramadan mampu memperbaiki 10 persen sel-sel tubuh. Jumlah ini meningkat sampai 66 persen pada sepuluh hari berikutnya, dan menjadi hampir 100 persen pada sepuluh hari terakhir Ramadan.
Al-Ghazali merinci 10 faedah lapar saat berpuasa. Satu diantaranya menyehatkan tubuh. Puasa merupakan teknik detoksifikasi yang paling murah dan efektif. Dektoksifikasi merupakan proses membuang dan menetralisir racun dalam tubuh. Puasa juga baik untuk proses penyembuhan alami. Saat berpuasa, energi untuk mencerna makanan dialihkan ke metabolisme dan sistem imun tubuh. Pada saat yang sama, dalam tubuh kita terjadi sintesis protein yang sangat efisien dan memungkinkan organ-organ tubuh menjadi lebih sehat.
Karena produksi sintesis protein lebih efisien, tingkat metabolism lebih lambat, dan sistem imun lebih baik, orang yang berpuasa akan awet muda dan panjang usia. HGH (Human Growth Hormon) -hormon untuk pertumbuhan manusia- disekresi lebih sering dalam kondisi berpuasa. Dalam sebuah eksperimen, cacing tanah diisolasi dan ditempatkan dalam siklus puasa dan tidak puasa (seperti puasa Daud). Cacing itu terbukti bertahan hidup sampai 19 generasi dengan karakteristik tubuh tetap muda (The Road to Allah, 2008).
Meksi demikian, keajaiban lapar saat berpuasa seperti di atas hanya efek samping. Bukan tujuan utama, karena tujuan diperintahkannya puasa Ramadan adalah ketaqwaan (Al-Baqarah 183). Lewat puasa Ramadan umat Islam dilatih menahan diri. Tentu bukan hanya menahan diri secara fisik, tidak makan dan minum. Bukan sekadar puasa badani, melainkan sekaligus puasa nafsani, puasa yang dapat mencapai nilai-nilai spiritual.
Dengan kesadaran bahwa puasa nafsani lebih penting dari sekadar puasa badani, maka puasa kita akan jauh lebih bermakna. Insya Allah. (*)
*) Dr drg Ahmad Syaify Sp Perio (K), Direktur RSGM Prof Soedomo, FKG-UGM
Sebagaimana dimuat di rubrik Hikmah Ramadan SKH Kedaulatan Rakyat edisi Kamis (25/07/2013)

