Wednesday, April 05, 2017

Jadi, Maukah Dirimu Mewujudkannya Bersamaku?

12


Sungguh pemandangan luar biasa, ketika saya dapat menyaksikan bocah-bocah yang sewaktu saya seusia mereka malah disibukkan dengan mencari teman yang bersedia untuk menambahi uang saya agar bisa main PS dengan durasi yang lebih lama.

Haha, saya gemas sendiri saat mengingatnya. Usia dimana saya sering sekali “dikancingi lawang” (tidak dibukakan pintu rumah) oleh ibu karena suka keluyuran dan membuat bapak—terkadang ibu juga—kesulitan mencari tempat bermain saya. Padahal tempat saya keluyuran hanya ada tiga. Kalau bukan di rental PS Mas Jarwo, berarti di rental PS Bu Es. Selain itu saya pergi ke rumah teman-teman, yang memiliki PS dirumahnya tentunya (Biar bisa main gratis).

Campur aduk. Kegiatan dua hari ini membuat perasaan saya bercampur-campur. Senang bercampur sedih. Kagum sekaligus benci.

Senangnya adalah, karena saya dapat berkumpul dengan para bocah-bocah yang Al-Qur’an sudah menjadi santapan rohani mereka sehari-hari. Betapa kagumnya saya, karena dalam usia sebelia itu, mereka mampu membaca, menghafal, bahkan memahami Al-Qur’an dengan baik. Lha wong amalan sunnah aja dikejar-kejar sama mereka, ndahneo yang fardhu. Tak terhitung berapa kali saya menggeleng-gelengkan kepalang dengan decak penuh kekaguman kala melihat kemampuan-kemampuan mereka.

Sedihnya adalah, karena diusia mereka, saya malah sibuk dengan menghafalkan puluhan kombinasi password PS untuk dijual pada teman-teman seper-PS-an, dimana hasil penjualan password malah digunakan untuk membeli tamiya dan sisanya untuk main PS. Bukan malah ditabung untuk biaya nikah.

Betapa dulu saya begitu bersemangat  mengumpulkan uang yang harusnya dibuat untuk belajar mengaji, malah digunakan untuk membeli tamiya dan tamagochi. Kadang untuk main billyard hanya untuk mendapat sanjungan para orang dewasa pengangguran nggak jelas yang  mereka sempat menganggap saya sebagai “kader terbaik”  dari kesenangan-kesenangan sekaligus kesia-siaan yang mereka lakukan.

Nyesel bos! Saya benar-benar menyesal! Banyak perandaian yang terlintas dikepala. Andai saya dulu begini, begitu, begiti, beginu, benigu, beguti, tubegi, ginebu aaaarrrrgh nyesel!

Padahal ini masih didunia, entah bagaimana kondisi saya jika kelak diakhirat, hari dimana tumpah seluruh penyesalan orang-orang atas apa yang telah mereka lakukan didunia.

Jangankan yang masuk neraka. Yang masuk surga pun menyesal bos! Menyesal karena mereka tak mendapatkan surga yang lebih tinggi dari yang mereka dapatkan saat itu.

Allaahu kariim. Abuu u laka bi ni’matika ‘alayya wa abuu u bi dzanbiy. Faghfirliy fa innahuu laa yaghfiru adz dzunuuba illaa anta :’(

Omong-omong tentang penyesalan, tentu saja, saya telah membuat ibu saya menjadi orang yang amat banyak menyesal dikarenakan keengganan saya untuk mencuci piring selepas makan (dulu), selalu gak mau diajak wiridan selepas sholat dan doa bersama(dulu), lebih memilih untuk main sepakbola daripada mengaji ke tpq seperti kawan-kawan sebaya(dulu) dll. Ah, betapa jahatnya saya (dulu). Untung saja ibu saya (dulu) tak serta merta mengutuk saya menjadi batu. *ini ditulis sebagai peringatan terhadap bapak2 dan ibu2 agar tidak segera "mengutuk" putra-putrinya jika kelak mereka melakukan seperti yang saya lakukan*

Dan untukmu ibu, meskipun sekarang dikau tak lagi “ngancingi lawang” pada putra nakalmu ini, maafkan putramu yang masih jauh dari membawamu ke Makkah, meskipun putramu ini sering sesumbar dan berkobar-kobar ingin membawamu kesana. Karena putramu ini bahkan gagal terpilih hanya untuk sekedar pergi ke Serambi Makkah. Dan asal kau tau ibu, aku benar-benar menangis kala menuliskan ini. Bukan karena kegagalan maupun ketidak beruntunganku untuk pergi kesana. Namun karena jauhnya putramu ini dari hal yang dapat membuatmu untuk sekedar tersenyum bangga. Karena hilangnya kesempatan untuk membuat putramu ini menjadi orang yang dapat kau banggakan.

Dan untukmu duhai calon istri. Saya sudah bertanya-tanya pada orang-orang hebat dan mengesankan yang saya temui disana. Saya juga mendapat banyak bocoran mengenai kehidupan mereka hingga terbentuk sketsa dalam kepala, hendak seperti apakah keluarga kita terbentuk kelak.

Jadi... Maukah kau mewujudkannya bersamaku duhai calon istri? Membentuk keluarga madani yang qur’ani?

Dia        : “Iya mas, mau.........”

Saya    : “Hah iya kah?  Apa dikau benar-benar mau mengarungi hidup bersamaku?”

Dia          : “mengarung-mengarung dengkulmu imut! Maksudnya, mas mau sama apa? Ada lele, wader, tongkol, ayam, sama rendang mas ”

Saya        : “eh? Maksudnya?”

Dia        : “Loh mas jadi pesen nasi apa enggak sih? Dari tadi kok nglamun? Sudah banyak yang antri mas!!!

Saya        : “Loh loh loh. Saya disini ngapain ya Buk?” 

Dia          : “lho kok masih nanya saya mas? Dari tadi mas itu pesan nasi sambil nglamun. Ndlahom pula! Jadi pesan apa nggak sih?!"

Saya       : "iya jadi, buk. Saya jadi pesan. Umm, pesan saya adalah kalau ibu punya anak yang masih kecil .........."

Dia.       : "Mas, saya nanya pesanan. Bukan minta sebuah pesan. Liat tuh, sudah banyak yang antri!"


12 comments:

  1. capaianmu wes lumayan kok bos. sek banyak kesempatan lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamu ituu sudah sangat beruntung..
      Kalau di banding dg org2 yg disana yg belum tentu bisa meraih keberhasilan seperti kamu.
      jangan menyerah trus berusaha.
      Ini masih awal. Bukan akhiran.
      من جد و جد

      Delete
  2. hanccrut ending e megeli leh

    ReplyDelete
  3. Pagi, Istri Masa DepanThursday, April 06, 2017

    Mau mau mau
    Saya mau

    Maunya lauk tempe aja deh
    Bebas dari kolesterol jahat dan uenak
    Hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu lauk favoriiittt! tapi jangan tempe goreng bos. tempe rebus sama sambel kemangi lebih sehat dan enak bos hehehe

      Delete
  4. Tetep semangat ya!
    Jangan putus asa!

    Masih syukur dan untung yang luput darimu adalah dunia
    Kalo dunia mah ga abadi dan ga berpengaruh besar pada akhirat
    Masih untung yang hilang bukan keimanan, bukan hafalan dan bukan rasa syukur dan ridhomu atas takdir Allah
    Coba buka lagi surat Al-Hadid
    Semua sudah tertulis di kitab takdir Allah
    Tinta telah kering, pena pun diangkat
    Tapi tujuan Allah adalah yang paling indah dan baik
    Untuk, agar kau tidak terlalu senang dan tidak terlalu sedih

    Sungguh Allah masih begitu sayang dan cinta padamu hingga bukan keimanan dan rasa cintamu padaNya yang dicabut dan diambil olehNya
    Dia masih menganugrahkan itu padaMu
    Berbahagialah
    Berbahagialah
    Bersyukurlah
    Bersujudlah padaNya dan kembalilah ke pelukanNya dengan penuh cinta dan syukur yang tiada habisnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. masyaa Allah. trimakasih atas nasehatnya ustadz/ustadzah, mas/mbak, pak/bu... :)

      (efek dari akun anonim diaktifkan, jadi gak tau siapa yang komentar)

      Delete
  5. gimana yah??? aku juga jadi kasian nih... tapi sebenarnya tidak ada rezeki yang tertukar akh,,, Allah pasti lebih tau kebutuhan kita,,, Dia memberi apa yang kita butuhkan,,, bukan yang kita inginkan,,, kata seorang ulama' sih gitu,,, tak ada nasehat lain selain nasehat terbaik dari Al-Qur'an: Shalat dan sabar,,, gitu aja ya aku gak tau kalau disuruh banyak omong,,, tapi aku sudah kagum kok sama pencapaianmu,,, tinggal dikembangkan aja yah,,, udah dulu boss,,, barakallah fiek...

    ReplyDelete
    Replies
    1. barakallah untukmu juga bos.
      iyowes, yang penting disyukuri hahaha

      Delete