
Sungguh
pemandangan luar biasa, ketika saya dapat menyaksikan bocah-bocah yang sewaktu saya
seusia mereka malah disibukkan dengan mencari teman yang bersedia untuk menambahi uang saya
agar bisa main PS dengan durasi yang lebih lama.
Haha, saya gemas sendiri saat mengingatnya. Usia dimana saya sering sekali “dikancingi lawang”
(tidak dibukakan pintu rumah) oleh ibu karena suka keluyuran dan membuat
bapak—terkadang ibu juga—kesulitan mencari tempat bermain saya. Padahal tempat
saya keluyuran hanya ada tiga. Kalau bukan di rental PS Mas Jarwo,
berarti di rental PS Bu Es. Selain itu saya pergi ke rumah teman-teman, yang memiliki
PS dirumahnya tentunya (Biar bisa main gratis).
Campur aduk.
Kegiatan dua hari ini membuat perasaan saya bercampur-campur. Senang bercampur
sedih. Kagum sekaligus benci.
Senangnya adalah, karena saya dapat berkumpul dengan para bocah-bocah yang Al-Qur’an sudah menjadi santapan
rohani mereka sehari-hari. Betapa kagumnya saya, karena dalam usia sebelia itu, mereka mampu membaca, menghafal, bahkan memahami Al-Qur’an dengan baik. Lha wong amalan sunnah aja dikejar-kejar sama mereka, ndahneo yang fardhu. Tak terhitung berapa kali saya menggeleng-gelengkan kepalang dengan decak penuh kekaguman kala melihat kemampuan-kemampuan mereka.
Sedihnya adalah, karena diusia
mereka, saya malah sibuk dengan menghafalkan puluhan kombinasi password PS untuk
dijual pada teman-teman seper-PS-an, dimana hasil penjualan password malah
digunakan untuk membeli tamiya dan sisanya untuk main PS. Bukan malah ditabung untuk
biaya nikah.
Betapa dulu saya begitu bersemangat mengumpulkan uang yang harusnya dibuat untuk belajar mengaji, malah digunakan untuk membeli tamiya dan tamagochi. Kadang untuk main billyard
hanya untuk mendapat sanjungan para orang dewasa pengangguran nggak jelas yang mereka sempat menganggap saya sebagai “kader terbaik”
dari kesenangan-kesenangan sekaligus kesia-siaan yang mereka lakukan.
Nyesel bos! Saya benar-benar
menyesal! Banyak perandaian yang terlintas dikepala. Andai saya dulu begini,
begitu, begiti, beginu, benigu, beguti, tubegi, ginebu aaaarrrrgh nyesel!
Padahal ini masih
didunia, entah bagaimana kondisi saya jika kelak diakhirat, hari dimana tumpah
seluruh penyesalan orang-orang atas apa yang telah mereka lakukan didunia.
Jangankan yang
masuk neraka. Yang masuk surga pun menyesal bos! Menyesal karena mereka tak
mendapatkan surga yang lebih tinggi dari yang mereka dapatkan saat itu.
Allaahu kariim.
Abuu u laka bi ni’matika ‘alayya wa abuu u bi dzanbiy. Faghfirliy fa innahuu
laa yaghfiru adz dzunuuba illaa anta :’(
Omong-omong tentang penyesalan, tentu saja, saya telah membuat ibu saya menjadi orang yang amat banyak menyesal dikarenakan keengganan saya untuk mencuci piring selepas makan (dulu), selalu gak mau diajak wiridan selepas sholat dan doa bersama(dulu), lebih memilih untuk main sepakbola daripada mengaji ke tpq seperti kawan-kawan sebaya(dulu) dll. Ah, betapa jahatnya saya (dulu). Untung saja ibu saya (dulu) tak serta merta mengutuk saya menjadi batu. *ini ditulis sebagai peringatan terhadap bapak2 dan ibu2 agar tidak segera "mengutuk" putra-putrinya jika kelak mereka melakukan seperti yang saya lakukan*
Omong-omong tentang penyesalan, tentu saja, saya telah membuat ibu saya menjadi orang yang amat banyak menyesal dikarenakan keengganan saya untuk mencuci piring selepas makan (dulu), selalu gak mau diajak wiridan selepas sholat dan doa bersama(dulu), lebih memilih untuk main sepakbola daripada mengaji ke tpq seperti kawan-kawan sebaya(dulu) dll. Ah, betapa jahatnya saya (dulu). Untung saja ibu saya (dulu) tak serta merta mengutuk saya menjadi batu. *ini ditulis sebagai peringatan terhadap bapak2 dan ibu2 agar tidak segera "mengutuk" putra-putrinya jika kelak mereka melakukan seperti yang saya lakukan*
Dan untukmu ibu,
meskipun sekarang dikau tak lagi “ngancingi lawang” pada putra nakalmu ini, maafkan
putramu yang masih jauh dari membawamu ke Makkah, meskipun putramu ini sering
sesumbar dan berkobar-kobar ingin membawamu kesana. Karena putramu ini bahkan
gagal terpilih hanya untuk sekedar pergi ke Serambi Makkah. Dan asal kau tau ibu, aku benar-benar
menangis kala menuliskan ini. Bukan karena kegagalan maupun ketidak beruntunganku
untuk pergi kesana. Namun karena jauhnya putramu ini dari hal yang dapat
membuatmu untuk sekedar tersenyum bangga. Karena hilangnya kesempatan untuk membuat
putramu ini menjadi orang yang dapat kau banggakan.
Dan untukmu duhai
calon istri. Saya sudah bertanya-tanya pada orang-orang hebat dan mengesankan
yang saya temui disana. Saya juga mendapat banyak bocoran mengenai kehidupan
mereka hingga terbentuk sketsa dalam kepala, hendak seperti apakah
keluarga kita terbentuk kelak.
Jadi... Maukah kau
mewujudkannya bersamaku duhai calon istri? Membentuk keluarga madani yang qur’ani?
Dia : “Iya mas, mau.........”
Saya : “Hah iya kah? Apa dikau benar-benar mau mengarungi hidup bersamaku?”
Dia : “mengarung-mengarung dengkulmu imut! Maksudnya, mas mau sama apa? Ada lele,
wader, tongkol, ayam, sama rendang mas ”
Saya : “eh? Maksudnya?”
Dia : “Loh mas jadi pesen nasi apa enggak
sih? Dari tadi kok nglamun? Sudah banyak yang antri mas!!!
Saya : “Loh loh loh. Saya disini ngapain ya Buk?”
Dia : “lho kok masih nanya saya mas? Dari tadi mas itu pesan nasi sambil nglamun. Ndlahom pula! Jadi pesan apa nggak sih?!"
Saya : "iya jadi, buk. Saya jadi pesan. Umm, pesan saya adalah kalau ibu punya anak yang masih kecil .........."
Dia. : "Mas, saya nanya pesanan. Bukan minta sebuah pesan. Liat tuh, sudah banyak yang antri!"
Dia. : "Mas, saya nanya pesanan. Bukan minta sebuah pesan. Liat tuh, sudah banyak yang antri!"
